KARYA ITU KARAKTER DAN IDENTITAS PERUPANYA,

Esquire (Indonesia) - - Galeri -

demikian pendapat Iroel, saat ditemui di rumahnya yang nyaman di Malang sambil menunjukkan peralatan pendukung melukis yang banyak diciptakannya sendiri dengan sederhana. Ada mesin peraut, peralatan penyambung pensil dan lain-lain. “Semuanya harus efektif, jangan dibuang. Pensil yang sudah pendek masih bisa digunakan disambung kembali dengan yang lain," ujarnya. Ini menjadi alasan ia memilih pensil warna sebagai media lukisnya. Kecintaannya pada anak-anak sebagai pengajar di sekolah barangkali modal kuat melatih kesabarannya bereksplorasi dengan media pensil warna di kanvas berukuran besar. Seperti anak-anak yang senang mewarnai, Iroel akan menikmati berjam-jam menutupi kanvas berukuran tiga meter dengan ujung runcing pensil. “Saya pernah nonstop melukis 23 jam. Kalau capek, saya minta istri memijat. Ha ha ha...”

Bagi Iroel, melukis itu bermainmain, bercanda ria atau bahkan bisa jadi bersedih dan marah tanpa mengganggu orang lain. Cukup saya ungkapkan saja ke dalam bidang gambar. Malah dengan melukis saya bisa membuat orang lain ikut senang, apa pun bentuk yang saya visualisasikan dalam karya”. Pelukis yang menganggap Bazaar Art Jakarta sebagai media belajar, komparasi atau bahkan introspeksi dalam berkarya ini membocorkan pemikirannya dalam berkarya. “Saya terinspirasi dengan Gustav Klimt dengan lukisan-lukisannya yang “dreamy”, Gabriel Moreno dengan karya ilustrasinya yang menawan, dan Gottfried Helnwein dengan ‘hiperrealis’nya yang berukuran raksasa. Bagaimana jika karakter ketiganya digabungkan dalam satu karya?” Dan nikmatilah karya Iroel.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.