3. PETAK UMPET

Esquire (Indonesia) - - Reportase -

Permainan ini dimainkan oleh sedikitnya dua orang. semakin banyak yang bergabung dalam permainan ini, semakin seru. Cara bermain: Permainan dimulai dengan ‘hompimpa’ (cara menentukan yang kalah dan menang). Yang kalah diwajibkan satu orang menjadi penjaga dan menutup matanya hingga waktu yang ditentukan. lainnya harus mencari tempat bersembunyi. setelah membuka matanya, pencari mulai mencari temanteman yang bersembunyi. setiap kali menemukan persembunyian teman, pencari harus meneriakkan nama temannya lalu berlari ke benteng untuk menepuk benteng sambil berteriak, “hong!” apabila ada anak yang bisa mendului pencari untuk menepuk benteng, maka artinya si pencari kalah. Pencari harus menutup mata kembali dan memulai kembali pencarian. Manfaat: Melatih ketelitian dan kepekaan anak, anak menjadi aktif, belajar kreatif, dan mematuhi aturan. Cara bermain: naik dan berpijak pada batok. Pegang tali egrang, kemudian melangkah seperti biasa sambil menarik tali egrang agar pijakan tidak lepas. apabila sudah terampil, anak bisa mengajak saudara atau temantemannya untuk berjalan secepat mungkin dari satu sisi ke sisi lapangan yang lain. Pemenangnya adalah yang tercepat. Manfaat: Melatih motorik kasar, keseimbangan, koordinasi dan kelincahan tubuh.

hanya saja tidak terdapat raja, patih, kuda, prajurit maupun benteng. Tidak ada istilah skakmat, melainkan makan atau dimakan. Tidak ada keteraturan dalam cara melangkah. alat yang digunakan sebagai pion adalah batu kerikil, batu putih atau pecahan genteng sebanyak 18 buah untuk masing-masing pemain. Perbedaannya terletak pada kubu satu dengan lainnya, misalnya kubu satu menggunakan pecahan genteng, maka kubu lainnya harus menggunakan batu. Papan permainan tidak harus terbuat dari kayu atau marmer, bahkan pemain bisa menggunakan lantai tanah, keramik, atau lainnya asalkan rata dan nyaman. Papan digambar dengan menggunakan pecahan genteng atau kapur tulis.

Biasanya untuk dapat memakan lawan yang banyak, pemain harus mengumpan salah satu pionnya. playstation,

Permainan ini mirip dengan olahraga catur, MUNGKIN anda Sekarang Jarang Melihat anak-anak bermain galah asin atau gobak sodor, gasing, engklek, lompat tali, dan lainnya. Banyak hal yang menjadi faktor pergeseran itu. Beberapa di antaranya adalah berkurangnya lahan kosong untuk bermain, berkembangnya teknologi, lingkungan sosial yang dikelilingi oleh beragam permainan modern, keberadaan warnet dan rental

faktor keluarga dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap permainan tradisional.

Namun, tak disangka Indonesia masih memiliki sosok yang sangat memedulikan eksistensi mainan tradisional, salah satunya adalah endi aras yang menggagas Gerakan Kebangkitan Permainan Tradisional. Alasannya adalah keprihatinan akan terancam punahnya mainan tradisional yang kini jarang dimainkan oleh anakanak. “Kecanggihan teknologi saat ini membuat warisan budaya, terutama permainan tradisional mulai bergeser. Banyak orangtua yang tidak memiliki banyak waktu untuk memberikan pengetahuan mengenai permainanpermainan ini kepada anak-anaknya. Akhirnya, mereka lebih memilih hal yang simpel dengan memberikan anak-anaknya gadget yang berisi banyak permainan,” ungkap mantan wartawan ini.

Dengan gerakannya ini, Endi ingin memberikan kesadaran kepada banyak orang untuk tetap terus menjaga kelangsungan tradisi dari para leluhur kita dan ikut melestarikannya. “Setidaknya, semakin banyak orang yang mau peduli dan melestarikan beragam permainan tradisional Indonesia. Dibantu

Cara bermain:

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.