Semenarik apa pun cerita dan setinggi apa pun nilai produksinya, promosi yang biasa-biasa tak lagi mempan

Esquire (Indonesia) - - Insight -

industri film indonesia di tahun 2016 memberikan kejutan. hingga akhir juli, sudah ada tujuh film indonesia yang dilaporkan menembus jumlah penjualan hingga satu juta tiket bioskop. kejutan, sebab sebelumnya hanya ada satu sampai tiga judul saja yang mencapai angka tersebut setiap tahunnya. Ada Apa dengan Cinta? 2 (AADC 2) jadi yang terlaris dengan pencapaian 3,6 juta tiket, disusul My Stupid Boss dengan 3 juta, dan Rudy Habibie raih 2 juta. London Love Story, Comic 8: Casino Kings Part 2, Koala Kumal, dan I Love You from 38.000 Feet telah melampaui satu juta tiket. Tahun 2016 bahkan belum berakhir, sehingga timbul harapan akan bertambah film-film yang meraih pencapaian serupa.

Banyak yang bisa diulik tentang faktor kesuksesan film-film tersebut. Namun, bila ditarik kesamaannya, ketujuh film ini sama-sama gencar dalam berpromosi. Angka-angka jutaan itu bukanlah sekadar keberuntungan, tetapi memang ada upaya yang dilakukan demi eksistensi film-film ini diketahui sebanyak mungkin orang, dan mendatangkan mereka ke bioskop. mulai dari publikasi di media massa, beriklan di berbagai platform, aktivitas media sosial, hingga tur para bintang filmnya di berbagai kota di pekan-pekan pertama penayanga filmnya.

Ada juga film yang menggunakan strategi promosi yang tidak konvensional. Casino Kings Part 2 memasang artwork di badan bus-bus yang beroperasi di jalanan jakarta. My Stupid Boss membuat paket kudapan tematik di jaringan minimarket ternama. AADC 2 meluncurkan buku kumpulan foto dan puisi. London Love Story dan I Love You from 38.000 Feet menerbitkan novel pengantar plot filmnya. Semua itu belum memperhitungkan program spesial pada jam primetime di Tv nasional, sebut saja stand up comedy show untuk Casino Kings Part 2 dan konser musik untuk AADC 2. Film-film tersebut memanfaatkan sebanyak mungkin metode untuk promosi, sesering mungkin, menyentuh banyak lini, dan dimulai cukup jauh sebelum dirilis di bioskop. gaung AADC 2 misalnya sudah terdengar lebih dari setahun sebelum dirilis, saat masih proses praproduksi. Dengan fakta-fakta ini, sulit untuk mengabaikan andil dari strategi promosi dalam kesuksesan film-film tersebut, selain tentu saja isi filmnya sendiri yang berhasil “bertemu” dengan kepuasan penonton. cara seperti itu bukan hanya wajar dilakukan oleh film-film yang bertujuan komersial belaka, tetapi pengalaman membuktikan memang perlu usaha ekstra untuk merayu publik agar sudi menonton film indonesia di bioskop. promosi film kini tak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara mendasar. Akses informasi semakin luas dan cepat, bioskop pun bukan lagi satu-satunya cara menikmati hiburan.

Sebelumnya, promosi film-film indonesia umumnya seragam. Apalagi di era awal 2000-an dengan strategi yang umumnya meliputi hal-hal berikut: putar trailer dan pampang poster di bioskop sejak beberapa waktu sebelum rilis, para pemain datangi kantor-kantor media untuk publikasi, lalu menggelar pemutaran khusus yang diliput media dan kritikus, sebelum akhirnya film dilepas di bioskop. Belakangan ini, hampir setiap film juga punya akun media sosial untuk memperluas kehadirannya di dunia maya. untuk beberapa waktu, cara promosi itu cukup membuahkan hasil. Namun, tidak untuk selamanya. Tahun 2008-2009, angka menunjukkan publik sedang giat-giatnya menonton film indonesia di bioskop. Beberapa pemegang rekor terlaris sepanjang masa datang dari periode tersebut, dipimpin oleh Laskar Pelangi (4,6 juta tiket) dan Ayatayat Cinta (3,5 juta tiket). Namun, situasi ini seolah disepelekan oleh sebagian pembuat film. periode 2008-2012 bermunculan film-film murah mengandalkan sensasi ketimbang kualitas dan keterampilan, begitu banyaknya sampai dianggap mewakili film indonesia secara keseluruhan. Film-film yang dibuat lebih serius pun ikut kena imbas. penonton semakin menurun, sehingga banyak produser film merugi dan ragu membuat film bernilai produksi lebih tinggi.

Film-film asing, khususnya hollywood telah lama berhasil membangun citra yang baik di mata umum, sehingga tak perlu promosi yang rumit untuk membuatnya ditonton banyak orang. Tidak dengan film indonesia. Semenarik apa pun cerita dan setinggi apa pun nilai produksinya, promosi yang biasa-biasa tak lagi mempan, dan kabar word of mouth yang baik belum tentu cukup. keadaan ini memaksa para pembuat film mencari cara lebih kreatif untuk menarik penonton film indonesia ke bioskop. mereka juga mau tidak mau harus mempertajam kepekaan dan strategi, memperluas jangkauan, serta memperbanyak modal.

Tahun 2012, Soraya intercine Films menjadi rumah produksi besar yang berani menggunakan metode promosi di luar cara biasa untuk film 5 cm. Berita tentang proyek adaptasi novel populer ini telah disebarluaskan sejak praproduksi nyaris setahun sebelum rilis, terutama lewat buzz yang kencang di Twitter. Film ini kemudian sukses menjual 2,4 juta tiket. kesuksesan serupa disusul Habibie & Ainun milik md pictures di tahun yang sama, yang juga sudah berpromosi cukup lama lewat publikasi media, lalu menambahkannya dengan rajin beriklan di Tv—

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.