Penggunaan Pinjaman mikro tanpa Pendampingan atau Pengarahan nyatanya lebih banyak menyodorkan ‘kisah gagal’

Esquire (Indonesia) - - Insight -

mereka keluar dari lingkaran kemiskinan.

Pada niat komersial, secara hitam di atas putih, makin banyak dana ter-disbursed (dialokasikan) sebagai pinjaman, maka semakin besar proyeksi profitabilitasnya. Ilustrasi sederhana; “disbursed” satu triliun dengan rate bunga 25 persen setahun, secara kertas (dan teori) maka insitusi sudah akan memperoleh bayangan revenue 25 persen atau 25 miliar. Apakah mereka akan sudi aktif melibatkan diri dalam upaya edukasi para penerima pinjaman? Belum tentu. Bahkan banyak yang tak peduli; karena bukankah itu artinya akan ada pos pengeluaran baru yang hanya akan mengurangi besarnya keuntungan bersih?

Ironisnya, saat ini telah bermunculan ratusan program dan jasa layanan pinjaman mikro dengan landasan “komersial” belaka. Ingin ikut menjadi bagian dari para pemain bisnis ini dengan mimpi penerimaan keuntungan besar yang terjustifikasi topeng “membantu” para target tidak laik bank. Apakah benar-benar membantu? Tergantung pada kegiatan operasional dan model bisnisnya tentu saja; sebagian kecil (sangat kecil) masih peduli memperhatikan kualitas layanan, jenis layanan atau pendampingan, dan karakter penerimanya. Sayangnya, sebagian besarnya adalah yang tak peduli dan tak lebih dari sekadar gerombolan oportunis yang ramai-ramai memanfaatkan kelemahan kaum marjinal yang tak laik bank sebagai objeknya.

Tanpa pendampingan, arahan, bantuan nasihat dalam pengelolaan dana pinjaman, dan sejenisnya, maka tak heran jika kemudian pinjaman mikro lebih banyak lari kepada penggunaan pada sektor konsumtif. Jauh dari produktif. Begitu juga kisah saya di Suriah, dan teman-teman lain di berbagai belahan dunia lainnya; tak sedikit yang gunakan dana pinjaman mikro untuk membeli barang-barang bersifat konsumtif. Membeli televisi baru, ponsel, lemari pendingin yang juga tidak digunakan untuk kegiatan produktif, membeli keperluan lain bukan sebagai modal kerja. Padahal tujuan semula pinjaman mikro dalam konteks sarana pengentasan kemiskinan adalah dana pinjaman yang digunakan untuk belanja produktif, seperti barang dagangan, anakan ternak, bibit tanaman produktif, bibit ikan, sarana produksi, sarana kendaraan untuk digunakan sebagai penunjang kegiatan produktif atau proses produksi pembuatan produk dagangan.

Tujuan semula yang harusnya untuk belanja produktif diharapkan dapat memberi kemungkinan pemasukan dan/atau kelebihan pemasukan yang dapat digunakan untuk melakukan cicilan pelunasan pinjaman mikro plus bunganya yang tinggi. Kemudian dalam jangka panjang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian keluarga untuk secara bertahap keluar dari lingkaran kemiskinan. Itu idealnya. Bayangkan jika dana pinjaman mikro digunakan untuk produk yang hanya akan menambah beban keluarga seperti biaya listrik, langganan televisi, bahan bakar, pulsa telepon, atau lainnya yang tidak akan memberi pemasukan apalagi penambahan.

Penggunaan pinjaman mikro (yang semula harusnya produktif) tanpa pendampingan atau pengarahan nyatanya lebih banyak menyodorkan ‘kisah gagal’, dan terbukti memberatkan penerimanya di kemudian hari. Tak sedikit kasus penerima pinjaman terjebak dalam lingkaran utang tak berkesudahan karena minimnya pengetahuan tata kelola dana pinjaman, absennya pengarahan dari institusi pemberi pinjaman, tak adanya program kerja pendampingan dalam tata kelola dana pinjaman mikro, juga kepedulian institusi pemberi pinjaman terkait keberhasilan peminjam karena pemilik modal pinjaman sudah sibuk fokus menghitung proyeksi profitabilitas baginya saja.

Tak berlebihan jika banyak pihak meragukan pinjaman mikro sebagai sarana efektif dalam upaya mengentaskan kemiskinan atau alat efektif dalam upaya membantu kaum marjinal. Lingkaran pinjaman tak berkesudahan kemudian menjadi arena lingkaran baru setelah mungkin mereka sedikit keluar dari lingkaran kesulitan keuangan. Betul memang alat ini memberi atau menyediakan kemudahan akses finansial bagi kaum unbankable, tapi belum jelas apakah pinjaman mikro mampu membantu penerimanya meningkatkan perekonomian keluarganya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.