“Cantik itu tidak berarti harus

Esquire (Indonesia) - - Before We Begin -

Pagi. Besok jam berapakah? Aku mau berkuda dulu paginya,” begitu bunyi pesan singkat Whulan lewat sebuah aplikasi komunikasi yang ditujukan kepada saya mengenai rencana pemotretan esok harinya. Berkuda memang hobi barunya akhirakhir ini. Anda bahkan bisa mengamati kegemaran gadis kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat tersebut pada salah satu akun media sosialnya yang memiliki jumlah follower lebih dari 175.000. Pada sebuah sesi latihan berkuda, dia terlihat mengenakan kemeja tipis putih, sepatu bot tinggi dan rambut tertata gaya kepang yang terlindungi helm berwarna cokelat. Pikiran saya pun melayang pada sebuah adegan kejar-kejaran sambil mengendarai kuda antara tokoh Lady Arwen (diperankan oleh aktris Liv Tyler) dan sekelompok musuh berjubah saat menyelamatkan Frodo Baggins (diperankan oleh aktor Elijah Wood) dalam film The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring. Imajinasi saya memang agak berlebihan. Tapi berani taruhan, tentu tak ada laki-laki yang menolak jika diajak berkuda oleh Whulandary Herman.

Esok paginya, pada sesi pemotretan, Whulan datang lebih dahulu daripada saya ataupun rombongan kru lain. Walaupun kami hanya terlambat sekitar 10 menit dari waktu yang dijanjikan, mau tidak mau saya merasa sedikit malu. “Aku tadi berangkat dari rumah dari jam 4 pagi biar bisa latihan berkuda dulu di daerah Sentul, Mas. Makanya bisa sampai lokasi pemotretan lebih awal,” ucapnya memberi alasan kedatangan yang lebih cepat. Mendengar penuturannya, ingatan saya seketika mencoba menelusuri apa saja yang telah saya lalui dari pagi hari hingga sesi pemotretan pada siang itu: bangun tidur (07.15), bermalas-malasan sambil mengecek berbagai media sosial (07.16-08.00), berusaha sekuat tenaga memaksa diri ke kamar mandi dan kemudian berbasah-basahan (08.01-08.20), menikmati sarapan sambil menonton acara musik “tidak jelas” di sebuah stasiun televisi (08.30-09.00), menempuh perjalanan ke kantor (09.00-10.05), menempuh perjalanan menuju lokasi pemotretan (10.20-11.10). Dibandingkan dengan Whulandary Herman, saya tentu pantas mendapatkan predikat “manusia pemalas yang memalukan”.

Whulandary Herman adalah sosok sempurna yang nyaris

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.