Hidup namun tetap berani mengambil risiko.

Esquire (Indonesia) - - Profil -

pada sebuah persimpangan Hollywood di Jalan Vine, yaitu The Sassafrass Saloon. Matthew menyarankan saya untuk bertemu di Sassafrass. Manajer membiarkan kami masuk terlebih dulu, sambil mengatakan setidaknya dia bisa melakukan ini setelah waktu dan uang yang dihabiskan Matthew ketika syuting sebuah iklan televisi untuk bourbon Wild Turkey di bar ini.

Matthew memilih Sassafrass sebagai tempat kami bertemu tentu karena satu alasan. Pria ini cukup paham bahwa dengan memilih bar itu, dia telah berupaya untuk memastikan Wild Turkey akan mendapat product placement di sini.

Tak sedikit aktor yang membintangi iklan. Contohnya, Samuel L. Jackson pernah tampil dalam iklan Capitol One; George Clooney juga mendapatkan peran dalam iklan televisi Nespresso. Namun kita bicara tentang Matthew Mcconaughey, aktor berusia 46 tahun ini memutuskan untuk mengambil peran dalam iklan Wild Turkey.

Sejak tahun 2014, Matthew membintangi kampanye iklan untuk Lincoln. Di situ Matthew berada di dalam sebuah SUV mewah, berkendara menelusuri jalan gurun dan bicara sendiri: “Saya telah mengendarai Lincoln sudah lama sekali sebelum siapa pun membayar saya untuk mengendarainya. Saya tidak bermaksud untuk tampak keren. Saya juga tidak melakukannya demi sebuah pernyataan. Saya hanya menyukainya.” Anda seperti diminta untuk mengabaikan fakta bahwa dia dibayar untuk bicara seperti itu. Ada satu versi lainnya, ketika dia bicara seperti memberi nasihat layaknya petuah dari buku Chicken Soup for the Soul: “Terkadang Anda harus kembali untuk bisa bergerak maju...” Tak pelak lagi, iklan ini menuai banyak parodi, dari yang diperankan oleh seorang gadis kecil yang berbicara persis seperti Matthew hingga Jim Carrey dalam acara Saturday Night Live.

Meski banyak ejekan di luar sana, Anda bisa melihat mengapa Matthew yakin perjanjiannya dengan Wild Turkey memberinya kuasa sebagai direktur kreatif. Tidak perlu malu-malu bicara soal iklan Lincoln bersama Matthew. Dia sudah sadar diri dan kerap berperan sebagai karakter yang jujur dan penuh karisma sepanjang kariernya. Sambil minum bir, ketika saya menyebut iklan itu, dia langsung memotong: “Anda baru saja menang Oscar. Apa yang Anda lakukan setelah itu, main dalam iklan Lincoln?” Tanpa pikir panjang dia menyahut. “Abaikan saja apa kata orang lain. Karena tentu saja saya mau. Dan saya suka mobil Lincoln...”

Dari intonasinya, Anda dapat mendengar bahwa Matthew tidaklah marah. Dia akan menjadi orang yang berkata bahwa dia tidak mengeluh sedikit pun soal itu; dia kini menjalani hidup yang indah. Dia menganggap bahwa apabila ada seseorang terkena kanker, itu baru masalah serius. Sementara ejekan terhadap iklan Lincoln bukanlah apa-apa. “Bahkan iklan ini membayar saya dengan harga yang sangat lumayan. Meski saya sudah menandatangani kontrak dengan mereka, mereka tetap memperbolehkan saya berperan dalam filmfilm ‘kecil’ lainnya.”

Film-film ‘kecil’ seperti Dallas Buyers Club (2013), sebuah film berdasarkan kisah nyata Ron Woodroof. Ketika dia membaca skenario film ini, Matthew jatuh cinta dengan kerumitan karakternya. Tukang listrik asal Texas yang womanizer, homofobic, dan rodeo cowboy yang terdiagnosa HIV pada tahun 1985, Woodroof menghadapi FDA untuk memperbaiki akses pasien HIV agar mendapatkan pengobatan yang lebih efekfif. Matthew mau melakukan semuanya demi memerankan Woodroof. Bukan masalah baginya meski produksi film ini berdana kecil. Dia mau saja dibayar seperdelapan dari honor regulernya yang mencapai tujuh juta dolar Amerika. Seperti yang dikatakannya, kekurangan honor tersebut bisa terganti dari honor yang diterimanya dari Lincoln. Film Dallas Buyers Club dinominasikan untuk enam Academy Awards, termasuk Best Picture, dan dia meraih Oscar pertamanya lewat penampilannya dalam film ini. Apabila Anda mengusiknya dengan berbagai pertanyaan seputar iklan-iklan yang dibintanginya, menanyakan penilaiannya, coba saja, dia pasti akan menjawab berdasarkan apa pun yang diyakininya.

Seperti yang dilakukan pada tahun 2012, ketika dia menjadi aktor pertama yang menandatangani kontrak untuk main dalam serial True Detective meski hanya untuk satu musim. Dia sering mendengar orang menanyakan, “Kamu yakin mau main untuk TV?” Keputusan untuk berkarier dari layar lebar ke layar kaca itu diambilnya seketika. “Ceritanya bagus. Ya, saya mau.” True Detective menjadi serial televisi yang cukup diakui oleh para kritikus. Pada tahun 2014, dia memenangkan Oscar di saat yang sama dia juga dinominasikan untuk Golden Globe atas perannya sebagai Rustin Cohle dalam film serial itu.

Film terkini Matthew, Gold, mengisahkan kejadian nyata pada pertengahan 1990-an, yaitu ketika terdapat skandal pertambangan, sebuah perusahaan Kanada Bre-x Minerals mengirimkan harga saham melonjak dengan klaim bahwa mereka baru saja

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.