Menafsirkan Ayam Terbang

Esquire (Indonesia) - - Cerpen -

PPada tanggal 11 November, Basiyo, seseorang yang kelak sebagian orang menyebutnya sebagai The Joke Father dari Daerah Istimewa Yogyakarta, melihat seekor ayam hitam terbang, kemudian tertabrak—atau menabrak?— kereta api. Ketika itu ia pulang dari membeli soto di pedagang keliling. Ia berusaha keras untuk menafsirkannya. Ia memandang peristiwa tersebut sebagai isyarat semesta tentang sesuatu yang melebihi adanya; melebihi kenyataan tentang seekor ayam, lokomotif, rel, dan melebihi suatu kebetulan bahwa ia termasuk orang yang melihatnya. Cara berpikir ini bukan tanpa sebab.

Basiyo pada dasarnya seorang perenung. Beberapa pakar lelucon kelak menafsirkan, bahwa kelucuannya adalah puncak dari permenungannya itu sendiri.

Termasuk pilihan posisi protagonis dalam kebanyakan lawakan yang kelak ia bawakan. Ia tampil sebagai tokoh yang menyebalkan. Sebuah film semi-dokumenter, yang di masa depan akan dibuat sekitar 44 tahun setelah kematiannya, menampilkan karakternya yang demikian. “Bapak orang yang serius, jarang bercanda di kehidupan nyata, tetapi anehnya, di panggung ia bisa bikin orang ketawa-tawa,” kelak anaknya akan memberi kesaksian semacam ini.

Hari ini, ia baru saja memarkir sepeda kumbang, membuka plastik berisi soto sapi, menuangkan ke mangkuk, dan

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.