Angan Kosong Bernama Indonistan

MENYOAL POTENSI RADIKALISME DALAM SENTIMEN AGAMA DAN ETNIS YANG BERKEMBANG BELAKANGAN INI.

Esquire (Indonesia) - - Insight - Teks: Irfan nugraha

Pada akhir tahun 2016, jurnalis kawakan Uni Lubis menulis sebuah artikel opini berjudul Sidang Ahok dan Intoleransi di Indonesia. Dalam artikel itu, dia berpendapat untuk tidak menganggap remeh potensi radikalisme. Ia mengutip proyeksi data Wahid Foundation dan sebuah lembaga survei yang menyatakan 600 ribu jiwa pernah melakukan aksi radikalisme atas nama agama serta memproyeksikan 11 juta jiwa berpotensi melakukannya bila ada kesempatan.

Uni Lubis menghimbau untuk mempromosikan semangat keindonesiaan. Menyadari keberagaman, sekaligus bersikap toleran. Hal yang utama pada pengakuan dan penghormatan eksistensi terhadap perbedaan pilihan politik, tidak hanya atas perbedaan agama, suku dan ras. Satu tantangan, dalam pandangan Uni Lubis, sebab acapkali fokus perhatian tercurah pada politik di Jakarta dan kurang untuk menengok daerah-daerah lain.

Saya sependapat dengan Uni Lubis, jika Indonesia masih dapat terkategorikan toleran secara umum, meski praktik intoleran yang masih terjadi menjadi sajian utama pemberitaan media atau perbincangan keseharian. Tapi, di sisi lain, praktik intoleran bagi sebagian orang merupakan pengalaman yang intim. Mereka tidak saja melihat kelompok tertentu melakukan praktik intoleran, tapi praktik intoleran rupanya dilakukan oleh yang mereka akrabi, misalnya pada ruang lingkup keluarga. Semakin eksplisitnya sikap politis, sekaligus cenderung intoleran adalah indikator jika keluarganya tengah mengalami radikalisasi. Mereka pun jadi membayangkan jika radikalisme akan menjerumuskan Indonesia seperti Afghanistan semasa berkuasanya Taliban.

Gambaran populer Taliban sebagai buah dari radikalisasi ideologi agama tidak sepenuhnya tepat. Ahmad Rashid, penulis Taliban: Militant Islam, Oil and Fundamentalism in Central Asia yang dikutip oleh pembuat meme, menuliskan keberhasilan Taliban berkuasa disebabkan

oleh “keberuntungan jukstaposisi sejarah.” Pertama, struktur kekuasaan komunis sudah hancur. Kedua, para pemimpin Mujahidin semasa jihad melawan Uni Soviet sudah kehilangan wibawa dan pertikaian sesamanya. Dan ketiga, Jirga – struktur kepemimpinan tradisional, sudah tidak mempunyai kuasa. Situasinya memungkinkan Taliban untuk mengorganisir sebagai kelompok bersenjata, sekaligus menyingkirkan lawannya, terlebih mendapat sokongan Amerika Serikat, Pakistan dan sejumlah negara di Teluk Arab.

Lantas, di manakah hubungan radikalisme Taliban dengan kekerasan? Rashid dalam bukunya melihat akar radikalisme Taliban tidak berasal dari gerakan Ikhwan Ul Muslimin, Sufistik, atau tradisionalis. Basis ideologinya merujuk pada Deobandis, bermahzab Hanafi, yang berkembang di India yang mempunyai agenda perjuangan melawan kolonial Inggris. Selain itu, Deobandi menolak struktur feodal dan tribal, begitu pula dengan pendidikan Barat dan Uni Soviet.

Taliban dalam perihal ideologi menerapkan penafsiran ketat serta non-kompromis. Selain itu, kerumitan terjadi saat penafsiran ulang Taliban atas hukum Islam pada akhirnya menghadapkannya pada permasalahan antara peranan Islam dengan klan, struktur tribal dan feodal, maupun pengembangan ekonomi dan modernisasi dalam masyarakat Islam yang konservatif. perpaduan antara tafsiran ketat serta kompromis akhirnya melahirkan apa yang dipandang dunia sebagai kekerasan yang melampaui kaidah-kaidah kemanusiaan.

Awal kemunculan Taliban pada dasarnya membawa harapan atas para pelajar (santri) yang kelak akan membawa kedamaian di bumi Afghanistan setelah terkoyak oleh peperangan dengan Uni Soviet serta antar-suku dan bekas pimpinan perang. Namun, setelah berkuasa, eksperimen Taliban dalam menjalankan negara dengan mengenyahkan segala perangkat birokrasi untuk digantikan sesuai dengan pandangan ideologisnya menyebabkan kekerasan sebagai instrumen pendisiplinan bagi warganya, sekaligus aspek perfomatif negara.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Pengalaman Indonesia dalam menghadapi peristiwa kekerasan dua dekade silam tentu meninggalkan kesan. Sebagian berpandangan peristiwa kekerasan, terutama yang terjadi pada konflik-konflik komunal, merupakan pintu gerbang bagi berkembangnya radikalisme pada Indonesia di masa sekarang. Oleh sebab itu, kekhawatiran atas berkembangnya “Talibanisasi” berpotensi terhadap gerakan radikal serta kekerasan di masa depan cukup beralasan.

Namun, seringkali terlewatkan sejumlah pembahasan mengenai proses terjadinya kekerasan. Keterlibatan kelompok radikal, seperti mantan Mujahidin Indonesia yang pernah berlatih di Afghanistan atau Filipina pada tahun 1990-an, tidak lantas menunjukan konfliknya terpicu oleh persoalan ideologi keyakinan. “Perang Kota Kecil: Konflik Komunal dan Demokratisasi di Indonesia” karya Gerry Van Klinken (2010) menunjukkan jika kekerasan adalah bentuk lain dari politik lokal, atau dapat dibaca sebagai respon pragmatis dari pelaku dalam menginterpretasikan perpolitikan lokal. Pelaku berupaya untuk menangkap peluang saat terjadinya transisi politik di Indonesia dengan memobilisasi pendukungnya berdasarkan sentimen agama dan etnis. Pertarungan politik yang terjadi sesungguhnya adalah pertarungan politik praktis, bukan ideologis. Seandainya, pemobilisasi sedang mengambil langkah untuk melalukan pertarungan ideologis, maka kita sedang disajikan betapa tidak terorganisasinya suatu perjuangan ideologis. Kita tidak menyaksikan adanya penyebaran sekaligus pendisplinan gagasan ideologis, perekrutan atau persiapan basis sumber daya yang mendukungnya. “Taliban-sasi” atau proses radikalisasi seperti virus yang kelak akan mengubah pola pikir khalayak dan menjadikannya serdadu ideologis di masa depan dalam konteks Indonesia perlu tidak lain sebatas kekhawatiran yang mungkin dapat terbilang berlebihan. Terlebih, secara ringkas, dengan mengamati perbedaan antara konteks kekerasan antara Taliban dan di Indonesia, mungkin kita perlu semakin menyadari jika perkara radikalisme yang mengkhawatirkan tidak mutlak berpokok pada ekspresi berbasis keyakinan.

Seandainya, pemobilisasi sedang mengambil langkah untuk melalukan pertarungan ideologis, maka kita sedang disajikan betapa tidak terorganisasinya suatu perjuangan ideologis.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.