Nilai-nilai Gaya Hidup yang Membebaskan

Rahasia politik di balik Rantai produksi alas kaki di indonesia.

Esquire (Indonesia) - - Insight - Teks: Yasinta sonia

Para pembaca yang budiman dan yang mencintai sepatusepatunya, pernahkah Anda menghiraukan nilai-nilai dari produk yang tersimpan di dalam sepatu sebagai atribut fashion Anda? Mungkin iya, mungkin tidak. Begini, pada suatu ketika saya melakukan refleksi atas praksis dan metode kerja saya lewat sebuah sepatu moccasin dan loafer

shoes keluaran brand lokal ternama di Indonesia. Pada awalnya, taksir menaksir nilai saya mulai dari harga kedua jenis sepatu tersebut. Kemudian, saya menilik jauh proses pembuatan sepatu tersebut satu demi satu, mata rantai demi mata rantai. Pada akhirnya, saya sampai di mata rantai rantai pasok pembuatan sepatu tersebut. Moccasin dan loafer shoes yang terbuat dari leather authentic tersebut dikerjakan oleh tangan di rumah-rumah penduduk, tersebar di pelosok Ibukota, di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan masih banyak lagi.

Para pembaca, sepatu-sepatu ini bukanlah merek murahan atau berbasis industri rumahan. Fenomena mengeluarkan proses produksi dari pabrik ke rumah-rumah warga adalah sebuah hal lazim dalam dunia produksi di

industri garmen dan sepatu di Indonesia, bahkan di dunia. Menurut World Footwear

Yearbook 2015, Indonesia adalah negara eksportir sepatu terbesar ke-5 di dunia, dan terbesar ke-4 di Asia setelah Tiongkok (dengan rasio 74,1% ekspor sepatu dunia), Vietnam (dengan rasio 4,6% ekspor sepatu dunia), Hongkong (dengan rasio 1,5% ekspor sepatu dunia). Indonesia berada di urutan ke-4 dengan rasio 1,4% dari ekspor sepatu dunia). Pada tahun 2014, Indonesia mengekspor 228 juta pasang sepatu ke seluruh negeri yang setara USD4.761.000.000 dengan harga perpasang yang dijual sebesar USD20.88. Menurut Kementerian Perdagangan dan Kepabeanan Ditjen Bea dan Cukai tahun 2016, lima negara terbesar sebagai penerima ekspor sepatu Indonesia adalah Amerika Serikat, Inggris, Belgia, Jerman, dan Belanda.

Dengan jumlah ekspor yang cukup fantastis, industri ini telah melahirkan dua jenis manusia pencinta sepatu: seniman sepatu, dan buruh sepatu. Untuk seniman sepatu, mereka adalah sang mahakarya, sang pencipta turut terlibat dalam dunia kreatif tanah air. Sedangkan buruh sepatu bukanlah termasuk dalam golongan kelas intelektual dunia kreatif tersebut.

Para buruh sepatu, yang menjadi mata rantai terakhir dalam sistem pasok industri sepatu global, memiliki banyak kisah yang dapat dibagi dan kisahnya bisa dijadikan indikator lain dalam menaksir nilai lain pada sepatu tersebut – selain dari harga yang dipasarkan. Para buruh sepatu ini mengambil sepatu-sepatu yang dikerjakan di pabrik sepatu kelas kakap untuk dikerjakan di rumahnya. Mereka dipanggil oleh para mandor pabrik sepatu untuk membantu pabrik menyelesaikan orderan sepatu yang datang, yang tidak bisa mereka selesaikan dengan sumber daya yang mereka miliki. Lalu, apa salahnya atau ruginya jika sepatu-sepatu tersebut tidak dikerjakan di pabrik, tapi di rumah-rumah penduduk?

Mengeluarkan proses produksi sepatu dari pabrik ke luar pabrik pada implementasinya mengeluarkan – mengalihkan beban produksi seperti ongkos tenaga kerja, ongkos operasional, dan yang paling penting, mengorbankan kualitas produk karena quality control tidak 100% terjamin. Beban produksi ini kemudian pindah ke para buruh sepatu yang bekerja di rumahnya masingmasing. Mereka yang bekerja di rumah mengerjakan produksi dari pabrik ini seringkali disebut sebagai buruh rumahan atau pekerja rumahan. Organisasi Buruh Internasional, atau International Labour

Organization (ILO) telah mengeluarkan konvensi tentang pekerja rumahan dalam Konvensi No 177 (ILO Convention on

Home Work, 1996 – No, 177) dan konvensi ini memang belum diratifikasi, sehingga belum menjadi hukum positif untuk diimplementasikan di Indonesia.

Fenomena pekerja rumahan yang mengerjakan sepatu-sepatu bermerek ini sudah lama ada di Indonesia, tercatat seiring berkembangnya industri sepatu sejak tahun 1960-an, pekerja rumahan di sektor sepatu pun ikut terduplikasi keberadaannya. Pada akhir tahun 2009, Kementerian Perdagangan melalui publikasi hasil institusi penelitiannya – TREDA / Trade Research and Development

Agency – menuliskan industri sepatu di Indonesia mampu menyerap lebih dari 1 juta penduduk di sektor pekerja informal. Sistem kerja mereka sedikit berbeda dari buruh sepatu yang bekerja di pabrik sepatu. Meski bisa jadi mengerjakan jenis sepatu yang sama, keberadaan mereka cenderung tidak terlihat karena bekerja di rumah masing-masing, bukan di pabrik yang dapat termonitor. Namun begitu, para pekerja rumahan ini biasanya memiliki kemampuan/skill dan telah berpengalaman di dunia industri sepatu karena sebelumnya mereka bekerja di pabrik-pabrik sepatu besar namun kemudian memilih – atau terpaksa bekerja dari rumah.

Para pekerja rumahan, berada dalam situasi genting ketenagakerjaan. Mengapa? Mereka cukup teralienasi dari hasil kerjanya, keberadaannya jauh dan ditampik dari sebuah hubungan kerja, jauh dari standar-standar upah layak, kerja layak, hidup layak, dan juga yang menjadi ironi, mereka terkadang tidak menganggap penting keberadaannya sendiri sebagai bagian dari angkatan kerja. Situasi genting ketenagakerjaan inilah yang memberi celah para pekerja rumahan untuk ditindas, oleh para pemberi kerjanya dan para pengguna produk yang mereka hasilkan tersebut.

Mengapa pemberi kerja dan para pengguna produk dianggap sebagai penindas pekerja rumahan? Pemberi kerja bisa menindas secara langsung dengan bentuk-bentuk hubungan kerja

para pekerja rumahan, berada dalam situasi genting ketenagakerjaan. Mengapa? Mereka cukup teralienasi dari hasil kerjanya, keberadaannya jauh dan ditampik dari sebuah hubungan kerja

yang genting tersebut. Sebagai pemberi kerja, mereka tidak memberikan akses informasi dan promosi untuk mencapai hidup dan kerja yang layak. Apalagi pemerintah, tidak, pemerintah tidak akan saya sentil keberadaan dan perannya terhadap para pekerja rumahan yang tertindas ini dalam tulisan ini. Di sisi lain,

customer atau masyarakat yang membeli sepatu tutur memberikan kontribusi penindasan dalam bentuk tidak langsung: profit penjualan pada mata rantai dari sistem pasok paling atas – pemilik merek, saat mereka membeli sepatu tersebut.

Kembali ke refleksi taksir harga sebuah sepatu moccasin dan loafer shoes berbahan baku leather authentic lewat harga sepatu, tidak ada standar khusus untuk menilai presisinya patokan harga untuk sebuah produk. Nilai tersebut bisa jadi terlalu murah, atau terlalu mahal, tergantung apakah kita sebagai pembeli tahu atau tidak proses pembuatan dari sepatu tersebut. Sebenarnya, kampanye Kenal Pekerja di balik pembuatan sepatu ini telah banyak berkeliaran di dunia maya, baik di Indonesia dan secara internasional. Nah, jika kemudian Anda penasaran, silakan ketik di laman situs mesin pencari Anda “change your shoes”, “pekerja rumahan”, “home worker”, “labour behind label”, “work from home”, “jobs with justice” dan atau kombinasi kata-kata tersebut lainnya, Anda akan menemukan banyak sekali kampanye sejenis.

Kampanye yang telah berlangsung ini dilakukan oleh dan untuk pihak para pemegang merek. Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan sensitivitas masyarakat umum sebagai pemakai sepatu dan pemiliki merek atas kondisi kerja dan fakta mencengangkan lainnya yang terjadi pada proses pembuatan sepatu yang kita gunakan sehari-hari tersebut. Dengan sensitivitas dan

awareness yang coba dibangun, customer akan dirasa mampu menaksir nilai sesungguhnya dari sepatu bermerek yang mereka beli itu.

Kemandirian dalam menaksir sendiri nilai sepatu sesungguhnya mengandung unsur proses humanisasi untuk membaskan pekerja rumahan dari kondisi yang tertindas. Baik pada pelanggan dan para pekerja rumahan, karena terjadi saling memahami – terbangunnya pemahaman antara dua aktor ini. Para pekerja rumahan sebagai yang mengerjakan sepatu akan berusaha memahami keindahan dari sebuah sepatu yang ia hasilkan adalah atas berdasarkan selera para pendindasnya tersebut: sepatu akan ada yang membeli jika yang membeli menyukai sepatu ini. Kemudian mereka akan menyadari bahwa mereka memiliki pilihan untuk mengerjakan sepatu tersebut atau tidak, yang akan mengantarkan mereka pada pilihan kebebasan: kebebasan tetap menjadi pekerja rumahan yang lebih baik atau menjadi sesorang yang lain. Namun kemudian, merujuk pada pemikiran Paulo Friere pada karyanya, Pedagogy of the

Oppressed, seorang pejuang kebebasan untuk para tuna aksara dari Spanyol, para pekerja rumahan ini juga akan mengalami fase keraguan atas kebebasannya, karena dengan memiliki kebebasan berarti mereka harus membuang identitas palsu diri yang dimiliki dengan otonomi dan tanggung jawab. Sedangkan untuk

customer yang akan membeli, informasi ini akan memberikan pilihan kebebasan lainnya: kebebasan untuk peduli, atau tidak. Dua pilihan ini akan sama-sama membebaskan pemikiran mereka atas ketidaktahuan, apapun pilihan akhirnya nanti. Kedua proses yang terjadi pada dua faktor inilah yang akan mempengaruhi keberhasilan kampanye Kenal Pekerja di balik sepatu ini.

Berbagai bentuk kampanye penyadaran atas proses pembuatan sepatu yang terjadi akan sangat berhasil jika masyarakat kelas menengah yang mampu membeli sepatu ini ikut menjadi bagian kampanye. Nilai dari sepatu yang terpajang di etalase akan bertambah atau berkurang dalam alam sadar konsumen, melalui sebuah praksis refleksi atas dasar informasi yang telah didapat. Setelah proses ini tercapai, diperkirakan dua tindakan yang bisa terjadi, perihal kemudian membeli atau tidak membeli. Jika tidak membeli atas kesadaran yang telah terbentuk, proses kampanye akan terus berlangsung dan para aktor di balik merek akan merasakan dampaknya: rugi atau untung, kemudian ber-refleksi. Kampanye-kampanye ini biasanya akan terukur keberhasilannya jika sudah ada kesadaran yang terbentuk dari para calon konsumen. Dengan begitu, konsumen mampu membebaskan pekerja rumahan dari penindasan menuju akses dan promosi kerja dan hidup yang lebih baik.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.