Tasbih

Esquire (Indonesia) - - Insight - Oleh: Hasta Indriyana

Cahaya mengepak barang-barang ke

dalam kopernya. Tidak banyak yang dipersiapkan, kecuali beberapa setel baju, sekardus oleh-oleh, dan buku saku bekal bacaan di perjalanan. Siap sudah. Tak ada lagi yang perlu dibawa pikirnya, setelah diingat-ingatnya kembali. Libur di hari Jumat berarti ada libur tiga hari di akhir pekan. Hari Kamis Cahaya sengaja akan membolos kerja. Hari Rabu ini, sore nanti, ia akan melangkahkan kakinya ke stasiun. Sepulang dari kampus, ia langsung berkemas. Cahaya tersenyum. Dipandanginya wajah ibunya di sebingkai foto ukuran kartu pos yang duduk di meja rias di kamarnya. Hari Sabtu ibunya ulang tahun. Ia akan memberikan kejutan: Mudik tanpa memberi tahu ibu. Ia akan menemani ibunya yang kesepian di rumah. Ia akan mengajak ibunya jalan-jalan, tamasya ke tempat yang membahagiakan, mencari aneka kuliner kesukaan ibunya. Cahaya tersenyum. Meletakkan kembali foto ke tempatnya. Cahaya senang. Begitu mau mengangkat koper, ia menjadi gundah. Beberapa hari belakangan, ia kebingungan memikirkan kado ulang tahun untuk ibunya. Ia belum menemukan kado yang dirasa pas. Jika diingat-ingat lagi, di usianya menjelang 25 tahun, Cahaya sekali pun belum pernah memberi kado ulang tahun untuk ibunya. Jika dirunut lagi, ia tersadar bahwa selama ini tak sekali pun ada perayaan ulang tahun bagi ibunya. Cahaya ingat ketika ia duduk di bangku SD, pernah ibunya merayakan ulang tahunnya. Ibunya mengantar sendiri bingkisan ulang tahun untuk teman-temannya sekelas dengan naik becak. Cahaya bahagia saat itu. Meskipun tak ada acara tiup lilin di sekolah, tetapi ibunya menunggunya di dalam kelas bersama Bu Sri, wali kelasnya. Peristiwa itu sangat membekas di kepalanya. Sabtu besok ibu Cahaya genap berusia 63 tahun. Di masa tua, waktu banyak dihabiskan dengan menjahit, membuat kristik, dan

berkebun. Meskipun tidak begitu tegap berjalan, ibunya masih mending jika dibandingkan para orang tua sebayanya. Ke pasar berjalan kaki, sehat, dan terpenting tidak merepotkan anak-anak dan tetangganya. Tiga kakaknya merantau seperti dirinya. Kakak sulung tinggal tak jauh dari rumah ibu, yang terkadang menengok ibu. Kakak sulung ini menjadi tempat adik-adiknya bertanya perihal ibu mereka. Ibunya sendirian di rumah. Bapaknya sudah meninggal sewaktu Cahaya kelas satu SMA. Ibunya hidup dari pensiunan PNS. Tak pernah mau menerima uang pemberian anak-anaknya. Selama ini Cahaya merasa bahwa dirinya adalah anak yang paling dekat dengan ibu. apa saja akan diceritakan kepada ibunya. Perihal sepele pun. Ibunya yang tak pernah didapatinya menangis itu, menitikkan air mata ketika melepas dirinya di stasiun. Itu membuatnya tergetar. Pertama kali ibu menangis saat ia berangkat merantau. Itu peritiwa lebih lima tahun lalu ketika Cahaya diterima menjadi tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang. Ibu yang tangguh. Ibu yang keras. Ia jadi tak tenang selama di perjalanan. Cahaya tersenyum mengingatnya. Ia pun membandingbandingkan dengan kakak-kakaknya yang lain. Mereka tak sedekat dirinya, pikirnya.

Turun dari becak, Cahaya menghambur ke pelataran. Rumah di kampung halaman masih saja tak berubah. Ia masuk lewat pintu depan sembari mengucap salam. Sepi. Ia menebak bahwa ibunya sedang di selasar rumah belakang. Benar saja. Seorang perempuan tua duduk sendirian sambil memegang kain sulaman. Keduanya tersenyum. Cahaya mencium tangan kanan ibunya, lalu menciumi pipi kanan-kiri. Belum menanyakan kabar, ibunya keburu berkata, “Ini sudah kusiapkan teh untukmu,” kata ibunya sambil melemparkan pandangan ke meja kecil di sampingnya. Cahaya menatap meja kayu. Di atasnya sepoci teh dan dua cangkir berisi gula batu di atas nampan. Di dekatnya dua toples penganan. “Benar untukku?” “Ya.” “Dari mana Ibu tahu kalau Ica mau pulang?”

“Dari sini.” Ibunya menepuk dada dengan tangan kanan.

Cahaya lalu duduk di kursi. Tak ada siapa-siapa. Tak ada kakak sulungnya. Tak ada orang lain di rumah ini kecuali ibunya. Ia harus percaya bahwa naluri ibu kuat. Dan cangkir teh itu memang disiapkan ibunya untuk dirinya.

“Itu kursi yang biasa diduduki bapakmu.” Ibunya menunjuk kursi yang diduduki Cahaya. “aku dan bapakmu sering menghabiskan sore di sini. Pagi tadi tiba-tiba aku ingin membersihkannya. Setelahnya aku ingin ngeteh berdua, entah dengan siapa. Makanya aku siapkan dua cangkir. Rupanya satu cangkir untukmu.”

“ah, Ibu, itu namanya firasat. Firasat kalau si buntut mau pulang.” Cahaya tertawa kecil.

“Sana bersih-bersih dulu. Terus kita ngeteh bareng.” Cahaya menuju kamar mandi. ganti baju. Melihat-lihat rumah yang lama tak ditempatinya. Tak ada perubahan. Tanaman cincau merambat di anjanganjang samping sumur. Padasan tempat wudu kering. Dapur penuh perabot. Lemari kayu tua. Bukubuku lama di rak. Tempat salat ada tumpukan tikar, karpet, dan kardus. Cahaya kembali ke kursi semula.

“Hari Sabtu Ibu ulang tahun. Ibu mau dikado apa?”

“orang setua ini, Ca...” Ibunya menghentikan kalimat. Menghentikan kesibukan dua tangannya sejenak, “Tak butuh kado.” Cahaya agak kecewa dengan jawaban ibunya. Perasaan itu disembunyikan agar ibunya tak sampai membaca raut wajahnya. “untuk apa?” tambah ibunya. Cahaya menarik napas panjang dengan pelan. Ia berusaha tersenyum sambil menatap ibunya. Berhari-hari ia memikirkan kado, tapi jawaban ibunya tak seperti yang diharapnya. Cahaya berpikir bahwa ibunya memang tidak mau membuat repot siapa pun, termasuk anak-anaknya, urusan kado pun. “Sudahlah. ayo diminum tehnya.” Cahaya terkenang ulang tahunnya ketika di SD. Ibunya mengado tas sekolah berwarna merah. Tas bergambar bunga matahari bertuliskan

“student of the month” itu sangat

Ibunya yang tak pernah didapatinya menangis itu, menitikkan air mata ketika melepas dirinya di stasiun. Itu membuatnya tergetar. Pertama kali ibu menangis saat ia berangkat merantau.

disukainya, dirawat dengan hati-hati, dan menjadi kebanggaan. Tas yang awet sampai entah dia kelas berapa. Ibunya seperti sangat mengerti apa yang didambakan anak bungsunya itu. Cahaya maklum sebab ibunya adalah guru di sebuah SD negeri yang memahami dunia anak-anak. aku lahir dari keluarga Islam

abangan. orang menyebutnya Islam KTP. Islam tapi tidak menjalankan syariat dengan sepenuhnya. Bapakibu petani desa yang masih kental dengan tradisi dan kepercayaan Jawa. Jika tiba hari weton-nya anak-anak, bapak mendoakan mereka, diawali basmallah dan diakhiri hamdallah,

lengkap dengan uba rampe, seperti jenang abang-putih, kembang setaman, dan kemenyan. Ibu biasanya mendapat tugas menyiapkan perlengkapan. Setiap peringatan yang dianggap perlu, selalu begitu. Sepertinya, orang-orang di desaku juga seperti itu. aku pun tumbuh dalam tradisi dan kepercayaan seperti yang dilakukan bapak, termasuk ketika aku menikah. Suamiku punya latar belakang yang sama. Maka ketika anakku yang nomor dua sekolah di madrasah, karena nilainya kurang untuk mendaftar di sekolah negeri, aku kaget. ada banyak hal yang tidak kuketahui dalam Islam. Tentang doadoa, hukum Islam, membaca Quran, dan hal lain yang dibawa anakku ke rumah. anak sering bertanya, tapi kami tak bisa menjawabnya. Satusatunya jalan adalah, kami harus belajar dari nol. aku belajar dari bukubuku, mengikuti majelis taklim, dan bertanya pada yang kuanggap lebih paham.

Sampailah pada suatu hari ketika bapak sudah renta, aku, anaknya yang paling dekat, selalu menemaninya di hari-hari akhirnya. Mengingatkannya untuk selalu dekat dengan-nya, banyak berdoa, dan mengajari bapak doa-doa yang tidak diketahui bapak. Saat itulah ulang tahun terakhir almarhum bapak. aku ingin memberikan kado terbaik untuknya. aku memesan sebuah tasbih dari kayu cendana pada seorang teman yang sedang mudik ke Denpasar. Tasbih berwarna cokelat tua beraroma wangi itu kuberikan kepada bapak ketika kami berdua sedang ngeteh. Bapak menerimanya. Tangan kanannya menggenggamnya erat. Tasbih itu tiba-tiba dilempar di atas meja. Bapak menangis. aku sangat kaget.

“Sejak kecil, aku tak kenal ulang tahun,” kata ayah dengan suara gemetar, “Baru sekali ini. Kamu memberiku tasbih. apa kamu tahu kalau bapakmu ini sudah mau mati sehingga kamu menyuruhku banyak berdoa?”

aku tercekat. Rupanya niat baikku tak bersambut. Bapak salah sangka. “Bapak...” “Sudahlah, tinggalkan aku sendiri.” Sejak peristiwa itu, bapak sangat jarang berbicara. Tak lama setelahnya bapak meninggal.

Kali ini anak bungsuku, Cahaya, mengadoku sebuah tasbih. Tasbih dari batu giok yang indah dan pasti mahal. Tasbih berwarna hijau muda ini kugenggam dengan erat. aku tergetar. Jantungku berdegup hingga dada terasa sesak. aku teringat ucapan bapak ketika seuntai tasbih kuberikan kepadanya. Itu kado pertama yang diterima bapak, sekaligus kado terakhir.

Hari ini usiaku genap 63 tahun. aku tak tahu lagi akan bertambah berapa hari lagi umurku. Rasanya selama ini aku telah banyak berdoa. Mendoakan anak-anak. Mendoakan semua murid agar mereka selamat dunia-akhirat. Setiap hari. Sepasang mata bercahaya milik anakku yang paling kusayangi memandangku dengan sepenuh kecintaan. antara membalasnya dengan kasih-sayang dan rasa cemas yang hebat, aku menatap kedua matanya. Cahaya tersenyum. aku menangis sejadinya. Menangis seperti ketika almarhum bapak dulu menangis di hari ulang tahunnya. Dadaku sesak dan nyeri.

Cimahi, 2017

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.