THE REBELLIOUS

HANUNG BRAMANTYO

Esquire (Indonesia) - - Sukses -

PERBEDAAN SUDUT PANDANG KERAP MENYERET HANUNG BRAMANTYO KE DALAM PUSARAN MASALAH. TETAPI DIA PANTANG MENYERAH. BAGINYA, PERBEDAAN ADALAH FITRAH, ITULAH SEBABNYA DIA TERUS MENDOBRAK, MENGGEDOR PEMAHAMAN KITA MELALUI FILM. DAN HAL ITU PULA YANG MEMBUATNYA BERBEDA DENGAN BANYAK SINEAS LAIN DI INDONESIA. KINI, SALAH SATU SINEAS TERBAIK DI INDONESIA INI BERTUTUR KEPADA ESQUIRE TENTANG PERBEDAAN, PAHLAWAN, IBU DAN FILM KARTINI YANG AKAN SEGERA TAYANG PADA BULAN APRIL 2017. Menurut Anda, Hanung Bramantyo itu seperti apa?

Saya tidak suka berkompromi, sangat mudah diajak komunikasi, dan orang yang pendendam. Jadi kalau ada yang mengalahkan, atau menantang, saya tidak pernah lupa tantangan itu. Saya jadikan itu api untuk membuat saya lebih baik. Sebaliknya, saya tidak akan melupakan mereka yang berbuat baik kepada saya.

Kartini berasal dari kalangan aristokrat/ningrat Jawa. Mengapa Anda justru menampilkan sisi yang berbeda tentang Kartini?

Sebetulnya, aristokrat sih aristokrat saja, sebagaimana kebudayaan menjunjung tinggi paugeran atau peraturan. Seperti peraturan di dalam agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, yang selalu memiliki syariat (peraturan). Tetapi, manifestasi dalam pelaksanaan hukum tidak semuanya harus dengan pola yang tegang. Seperti Gus Dur, dia beragama dengan sangat santai, bahkan penuh dengan lelucon dan humor. Begitu pula Kartini. Orang seperti Kartini, jika kita jeli membaca literatur-literatur dan suratsuratnya adalah orang yang menghadapi dunia dengan relaks.

Tokoh-tokoh sejarah kerap dipersepsikan sebagai orang yang sangat serius. Apa pendapat Anda?

Anak-anak sekolah atau remaja selalu dididik untuk memahami pahlawan itu sebagai sosok yang serius, dan sosok yang kaku. Itu yang kemudian ingin saya berikan persepsi atau sudut pandang yang berbeda pada setiap film biopic yang saya buat.

Persoalan sudut pandang dalam film sering menyeret Anda ke dalam pusaran masalah. Mengapa Anda suka sekali menciptakan karya yang berbeda?

Bagi saya, berbeda itu fitrah. Justru perbedaan membuat kita bisa bercermin. Saya bisa melihat keunggulan orang lain justru saat melihatnya berbeda dengan saya. Saya bisa menghargai sutradara-sutradara lain karena memiliki estetika yang berbeda dengan saya.

Cuma, ada orang-orang yang tidak menyukai perbedaan, dan ini sudah terjadi sejak era Kartini. Terkadang porsinya berlebihan, dan mengganggu. Golongan ini menganggap, pelaku perubahan itu adalah kafir, dan merusak tatanan. Padahal, jika kita tidak berpikir berbeda, negeri ini tidak akan merdeka.

Apakah resistensi terhadap perbedaan yang diusung dalam karyakarya Anda, membuat Anda Jera?

Tidak. Tetapi terkadang resistensi berlebihan itu melampaui batas, dan kemudian menyerang orang-orang yang berada di lingkungan saya. Ibu saya, istri saya, dan anak-anak saya. Persoalan saya kapok atau tidak, tergantung dari seberapa besar negara ini melindungi warganya, termasuk saya. Jika negara tidak melindungi, maka saya bisa kapok karena tidak hanya mengancaman saya, tetapi juga orang lain.

Apakah negara sudah menjamin kemerdekaan Anda?

Persoalannya justru di situ. Ketika

ada yang berbeda, negara itu justru berada di pihak orang-orang yang mem

bully. Saya merasakan negara justru melakukan itu. Apalagi isu agama. Satu ayat bisa punya persepsi macam-macam. Permasalahannya, siapa yang menjadi hakim dari perbedaan-perbedaan itu? Negara selalu berada di pihak mayoritas, ketika ada pihak minoritas yang digerus seperti Ahmadiyah, Syiah, dan lainnya, negara menurut saya kurang melindungi minoritas.

Anda yakin benar situasinya semacam itu?

Ini yang saya tahu, karena ini terjadi kepada saya. Jadi, saat berurusan dengan aparat hukum, mereka mempersoalkan kenapa Hanung harus membuat film seperti itu? Ya saya jawab kenapa tidak? Jika hal itu nyata, mengapa saya tidak boleh menampilkan fakta ke masyarakat? Ini akhirnya membuat saya berpikir, hakhak orang seperti saya yang memiliki pemikiran berbeda dengan mayoritas, tidak akan selamat.

Apakah Anda melawannya?

Tidak juga. Kalau melawan, saya harus bertanya dahulu kepada keluarga, ke anak dan istri saya. Mereka siap atau tidak menghadapinya? Kalau mereka bilang siap kita lawan, kita lawan! Jika istri dan anak saya tidak siap, saya juga harus menghargai mereka. Saya tidak bisa otoriter. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah tetap dengan kejujuran saya, namun harus tetap berhati-hati.

Mengapa Anda sering mengangkat kisah-kisah sejarah?

Saya menyukai sejarah. Saya menyukai vintage style. Drama-drama yang berlatar sejarah itu menurut saya sangat eksotis dan dramatis. Selain itu, saya belajar tentang masa depan dari masa lalu. Apalagi sejarah tentang tokoh-tokoh yang dituturkan kepada saya, kerap tidak match dengan literatur yang saya baca.

Maksudnya seperti apa?

Ada upaya-upaya membuat stereotipe terhadap tokoh-tokoh sejarah. Stereotipe ini merugikan tokoh-tokoh itu. Kenapa? Karena anak muda menjadi berjarak dengan tokohtokoh sejarah. Kaum muda beranggapan tokoh seperti Sukarno dan Kartini tidak kekinian. Berarti ada yang missing link antara figur yang dahulu dengan sekarang. Saya ingin mengkontekskan peristiwa masa lalu menjadi persoalan kekinian. Apa yang dilakukan Kartini, Sukarno, KH Ahmad Dahlan, Tjokroaminoto, dan Habibie itu masih kontekstual dengan masa kini, tetapi dengan dimensi yang berbeda. Itulah kenapa saya memilih Dian Sastro sebagai Kartini. Karena saya ingin membawa dunia yang sekarang kepada dimensi yang berbeda, yakni melalui kostum, setting, lokasi.

Berarti Anda terlibat sangat dalam pada setiap film karya Anda?

Tentu. Itulah mengapa film itu disebut subjektif. Orang-orang kerap berkata sebuah film tidak objektif. Tidak ada film yang objektif. Justru karena film itu subjektif, maka penonton sebagai subjek yang berbeda boleh mengkritisi. Berbeda

dengan pers. Media itu harus objektif. Harus cover both sides. Film tidak boleh begitu. Bagi saya, justru aneh jika ada yang asumsi yang menyebut film karya saya terlalu subjektif.

Lantas semua kejadian yang Anda alami membuat Anda berpikir sesuai preferensi publik?

Bagi saya, yang terpenting adalah membuat karya yang konsisten. Daripada harus memikirkan ini akan disukai penonton atau tidak. Saya kira kita berada di negara yang menjamin kebebasan untuk berekspresi. Selama saya tidak menjelek-jelekkan agama, dan kultur saya. Kenapa saya harus takut?

Bukankah Anda justru dituduh menjelek-jelekkan agama Anda?

Permasalahannya, tidak ada ruang diskusi setelah menonton film. Bahkan, bisa jadi mereka tidak menonton film saya. Kebanyakan seperti itu. Mereka tidak menonton. Mereka hanya melihat

trailer-nya saja. Itu tidak fair. Ketika film ? (Tanda Tanya) saya lempar di Youtube, tidak ada yang komentar apaapa. Jadi menurut saya, yang membuat onar atau gaduh, tidak memiliki cukup pengetahuan. Otak mereka tertutup dengan hasutan.

Siapa sineas yang memengaruhi Hanung Bramantyo?

Teguh Karya. Dia yang pertama kali membuat saya ada di industri ini. Baik itu tidak langsung maupun langsung. Saya menyukai gaya teatrikal Teguh Karya di dalam filmnya, karena saya orang teater. Termasuk cara Teguh Karya mengarahkan film juga mencuri perhatian saya. Kemudian saya magang di tempat Teguh Karya. Beliau juga yang meminta saya untuk bersekolah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Bahkan dahulu, pak Teguh membuka mata saya untuk menjadi seorang sutradara.

Anda juga banyak melahirkan aktor bintang. Apakah ini berkat kemampuan Anda sebagai aktor?

Iya. Latar belakang saya sebagai aktor di pentas teater membantu saya mengarahkan akting para pemain film. Karena ada aktor yang tidak bisa akting. Saya juga melahirkan banyak aktor. Ada Reza Rahadian, Carissa Putri, Christian Sugiono, Ringgo Agus Rahman, Rianti, Chelsea Islan, Rio Dewanto.

Lantas mengapa Anda memilih mereka?

Bukan saya yang memilih. Saya budaknya skenario. Dan skenariolah yang memilih mereka. Misalnya bagaimana saya memilih Reza Rahadian sebagai Habibie, padahal mukanya sangat tidak mirip dengan Habibie. Tapi skenario memilih Reza. Hasilnya, film itu ditonton 4,6 juta orang dan Reza Rahadian menjadi super star saat ini.

Selain kekurangan pemain bintang, apakah ada masalah lain dalam industri film Indonesia?

Problem industri ini adalah minimnya penulis skenario. Tidak mudah membuat penonton tergerus hatinya. Pasalnya, penduduk Indonesia itu sangat heterogen. Karena itu dibutuhkan penulis skenario yang memahami persoalan-persoalan universal.

Apakah Anda pernah berebut penulis skenario dengan sineas lain?

Sering. Karena anggaplah dia menulis untuk saya hari Senin, hari Selasa dia harus menulis untuk orang lain, dan hari Rabu dia harus menyelesaikan skenario milik orang lain lagi.

Berarti mutunya belum tentu bagus?

Tentu saja tidak! Mau bagaimana?

Anda juga menulis skenario?

Untuk Kartini saya menulis skenario bersama Bagus Bramanti. Kemudian hasilnya dikoreksi oleh Rumah Kartini, salah satu LSM di Jepara yang sangat perhatian pada Kartini, yang merawat keluarga Kartini, situs-situs peninggalan Kartini.bagi saya, proses ini amat menarik dibanding proses pembuatan film lainnya, seperti syuting, dan seterusnya.

Mengapa tidak banyak sineas bintang di Indonesia?

Karena sekolah film tidak banyak. Dahulu sekolah film cuma hanya IKJ. Lulusannya ada mas Garin, Riri Riza, Hanny Saputra, John de Rantau, semua lulusan IKJ. Selain lulusan IKJ belum terlihat. Karena jurusan film memang baru di beberapa institusi pendidikan di luar IKJ.

Apa Anda berniat membuat film sejarah yang kolosal seperti The Last Emperor?

Iya. Saya akan membuat film tentang kerajaan Mataram. Literaturnya lengkap, namun belum bisa saya jelaskan lebih dalam mengenai itu. Apakah tentang Panembahan Senopati, Sultan Agung, atau lainnya. Tetapi jika mau kolosal, perang, ya masa Sultan Agung, Amangkurat 1,2,3.

“Tidak ada film yang objektif. Justru karena film itu subjektif, maka penonton sebagai subjek yang berbeda boleh mengkritisi.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.