Rio Menjadi Serangga

Esquire (Indonesia) - - Insight -

Saat mata terbuka, kesadaran saya hanya mengingat bahwa saya memang dilahirkan sebagai kutu buku. Saya bukan pegawai rendahan yang oleh mantra Kafka kemudian menjadi kecoa. Juga bukan penulis muda yang oleh sihir Murakami dijadikan kambing yang dari perutnya beterbangan kunang-kunang. Saya kutu buku sedari dulu.

Di salah satu kios buku bekas, saya tinggal di antara lipatan-lipatan buku. Saya mencium dan kadang menemukan banyak kawan saya sesama kutu buku sekadar hidup dan makan. Lahir sebagai kutu buku adalah takdir yang tak bisa dielakkan. Namun menjadi kutu buku bodoh, sekadar menggeripisi halaman demi halaman buku, dan menanti ajal mengundang adalah pilihan.

Di salah satu halaman ensiklopedia yang saya baca, serangga-serangga kecil seperti saya hidupnya tak lebih lama dari masa tanam pohon jagung. Bahkan bisa lebih pendek, kalau wanita pemilik kios ini menyemprotkan obat anti serangga, memberi kapur barus, atau dengan kejinya menginjak tubuhtubuh kami yang kecil hingga keluar semua isi perut kami.

Maka dari itu, saya ingin berkisah tentang bagaimana Tuhan dengan begitu senonoh menanamkan rasa cinta kepada saya. Cinta di serangga maupun manusia sama saja. Dia datang tiba-tiba dan kerap menggelapkan mata. Tapi berkat

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.