Jujur saja, saya sangat Gelisah

Esquire (Indonesia) - - Cover Story -

saat akan bertemu dengan Javier Bardem. Bukan saja karena dia mencintai band deathcore yang menyaingi Cannibal Corpse dengan single Open Arms to Damnations, juga karena dia tidak pernah bermain dalam film komedi murahan atau mengisi suara dalam sebuah film kartun. Dia lebih memilih karakter yang sekarat, tersiksa, atau sekadar menakutkan, dan dia kapabel memerankannya. Ingat film Skyfall? Di dalam naskah, karakternya sama saja seperti musuh-musuh bebuyutan Bond lainnya. Di tangan Bardem, tokoh dengan penyimpangan seksual itu, menjadi begitu hidup. Dan jangan lupakan perannya sebagai seorang pembunuh bernama Anton Chigurh di film No Country for Old Men yang berhasil menggondol penghargaan Oscar. Kini, dia berperan sebagai Kapten Salazar yang jahat di dalam film Pirates of the Caribbean.

Meskipun belum diputar di bioskop, melalui trailer-nya, dapat disimpulkan perannya sangat menakutkan. Tidak heran jika Bardem disebut para produser kenamaan sebagai De Niro atau Pacino dalam generasinya. “Dia adalah salah satu aktor terbaik saat ini,” sebut Julian Schnabel. “Dahsyat,” puji Darren Aronofsky. “Terbaik di dunia,” papar Jerry Bruckheimer. Lelaki ini memiliki daya tarik. Keren.

Jadi, amatlah melegakan saat melihat Bardem, dengannya sosok kebapakan dan kerap bertingkah konyol, ternyata tidak terlalu mengintimidasi. Dalam beberapa menit saja dia sudah mengaku melakukan banyak kesalahan di malam penganugerahan Oscar. Mulai dari salah mengucap kata, tidak tahu harus melihat ke mana, hingga tidak melihat telepromter, termasuk kekagumannya kepada banyak pria. Selain Angus Young, dia juga menyukai Al Pacino. Menurutnya, fisik Pacino sangat menarik. Begitu pula Brad Pitt. “Saya pernah melihatnya di atas karpet merah dan saya terpesona,” ungkapnya. Dan Johnny Depp. “Dia Sangat tampan!” akunya.

Tentu sulit mengasosiasikan sifatnya dengan wajahnya yang identik dengan para penjahat ikonis saat ini. Teman-teman Bardem kerap menyebutnya sebagai aktor watak, dan dia setuju. “Terkadang, saat akting kita sukses, mereka ingin kita terus memerankannya. Namun jelaslah dia sangat berhasil mengeluarkan sisi manusiawi di balik setiap monster, dan menurutnya kita harus melihat apa yang menyebabkan seseorang menjadi monster, sehingga kita bisa memerankannya dengan baik.”

Ambil contoh Salazar. Untuk karakter bajak laut ini, Bardem menciptakan sosok utuh dari pelaut Spanyol abad pertengahan. “Waktu itu, harga diri mereka sangat tinggi tinggi,” jelasnya. “Dan mereka mampu membunuh jika harga dirinya terluka.”

Merasa terhina dan terluka, Salazar secara harfiah menyesap kemarahan di dalam tubuhnya, dan menetes seperti cairan hitam dari celah giginya setiap kali dia berbicara. Sebuah cairan yang terbuat dari coklat yang disebut Bardem sebagai “kotoran monyet.” Untuk mendapatkan bahasa tubuh yang tepat dia cukup membayangkan seekor banteng.

Seekor banteng? “Ya, banteng yang terluka,” sebutnya. “Saya sangat tertarik pada ide bagaimana kemarahan sangat menyakitkan secara fisik. Seperti yang digambarkan oleh Shakespeare dalam karyanya Richard III.”

“Kemarahan dan rasa iri bersemayam di dalam tubuhnya,” ujar Bardem. “Itulah mengapa tubuhnya berubah, karena dia tidak pernah puas. Karena orang yang sangat dibencinya, ternyata justru dirinya sendiri. Anda paham kan?” dua saudaranya. “Berakting adalah adalah sebuah kepercayaan,” paparnya.

Dia mendapatkan peran pertamanya pada tahun 1974. Saat itu dia masih berusia lima tahun dan mengikuti audisi telenovela berjudul El Picaro, sutradara memintanya untuk gemetar seolah-olah sedang diancam oleh seorang matador. “Setelah itu, tidak ada panggilan shooting, namun setidaknya saya sudah menjadi aktor,” paparnya. “Dan sekali menjadi aktor, Anda tidak akan bisa melepaskan status ini, kecuali jika Anda ingin menafkahi keluarga Anda,” kelakarnya. “Dengan begitupun Anda tetaplah seorang aktor.”

Dia tentu tahu, meskipun ibunya sangat dihormati di dalam industri ini, tetapi dia tetap kerepotan menafkahi anak-anaknya. “Ayah saya entah kemana, dan ibu saya membanting tulang bermain teater dan drama televisi di Spanyol,” ungkap Bardem. Ibunya juga kerap meninggalkan Bardem bersama adik laki-laki dan perempuannya yang berusia lima dan enam tahun cukup lama di rumah. “Terkadang kami tidak punya makanan, kami tidak punya air panas, bahkan tanpa listrik.”

Tetap saja, tidak satupun dari mereka yang mampu menahan godaan untuk terlibat seni peran. Adik perempuannya menyerah, dan adik lelakinya mendapatkan peran kecil, tetapi kesuksesan perlahan menghampiri mereka. Bardem juga gemar bermain rugby, menurutnya inilah cara yang tepat untuk melampiaskan gejolak darah mudanya. Di sisi lain, olahraga ini membentuk fisiknya dan menjadikannya pilihan populer dalam telenovela yang membutuhkan pemeran utama bertubuh besar. “Anda tentu tahu, tipikal pria latin yang macho,” paparnya.

S e j a k i t u l a h , peruntungannya berubah. Dia bermain sebagai germo dalam film Ages of Lulu (1990) karya Bigas Luna, dan kemudian Jamón Jamón (1992) yang mengubah kariernya. Di film itu dia berperan sebagai seorang playboy dan beradu peran dengan Penélope Cruz yang saat itu berusia 18 tahun.

“Dia adalah aktor yang hebat,” puji Schnabel. Saat itu kemampuan bahasa Inggrisnya tidak sebaik sekarang, namun Schnabel melihat potensi dalam diri Bardem, dan menawarinya peran dalam

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.