Bardem Dan cruz

Esquire (Indonesia) - - Cover Story -

terlibat menjaga anak. Mereka kerap bermain menjadi puteri dan naga, dan sering merindukan anaknya. “Terpisah lebih dari dua minggu pasti melukai hatiku,” paparnya. Ini jelas berat bagi Bardem karena dia akan pergi ke Broklyn selama dua bulan untuk proses pembuatan film Mother! karya terbaru Darren Aronofsky. Seperti karya Aronofsky lainnya, film ini sangat dirahasiakan. Satu-satunya informasi mengenai film ini adaah bercerita tentang pasangan yang sedang diuji oleh tamu tak diundang yang datang ke rumah mereka. Di film tersebut, Bardem akan berpasangan dengan Jennifer Lawrence. Selanjutnya, Bardem akan bermain dalam film Escobar bersama istrinya. Namun dengan syarat. “Saya akan memainkan Escobar seperti apa yang saya ketahui tentangnya: manusia yang tidak punya apa-apa, ambisinya, dan caranya memanipulasi orang lain.”

“Escobar itu seperti kuda nil. Terlihat tenang, namun kuda nil lebih berbahaya dari harimau dan singa. Ia akan memperhatikan Anda, dan tiba-tiba begitu merasa terancam, kuda nil akan menyerang dan mengoyak tubuh kita. Ia tak terhentikan. Begitulah Escobar,” jelasnya. (Disclaimer: saya tidak tahu fakta-fakta tentang kuda nil yang diutarakan Bardem benar, namun saya suka cara Bardem mengucapkannya. Semoga saja benar).

Di film Escobar, Cruz berperan sebagai seorang jurnalis bernama Virginia Vallejo, “Penelope adalah sosok yang tepat untuk memainkannya, dan dia tentu tak bisa menolaknya.” Musim panas ini, Bardem dan Penelope juga akan membintangi film karya Asghar Farhadi, sutradara asal Iran yang memenangkan Oscar kategori film berbahasa asing terbaik, namun memilih memboikot Oscar dan mengirimkan astronot berdarah Iran-amerika untuk membicarakan surat protesnya atas kebijakan anti Islam Trump. Bagi Bardem yang besar di Afrika dan membuat film Sons of the Clouds tentang pengungsi di Sahara Barat pada 2012, pidato Farhadi adalah sebuah highlight tentang kekuatan film yang bisa membuat seseorang berempati.

“Orang-orang berkata, urusi saja pekerjaanmu, Anda seorang aktor,” kata Bardem. “Maaf, salah satu tugas saya adalah membawa cahaya pada kegelapan, dan itu tidak mudah. Namun jika sebuah peran benar-benar berhasil, itu akan menyentuh pada titik dimana kita akan bertanya dapatkah kita menjadi orang itu? Inilah seni dan itulah yang harus dilakukan seni.”

“Tentu tidak semua penampilan bisa dikatakan sebagai sebuah seni, namun itulah tujuannya. Anda akan mencari cara untuk memahami mengapa seseorang menjadi seperti itu. Ini soal menjadi sensitif pada penderitaan di sekeliling kita. Kita tidak menafikannya seberapa tinggi dinding yang menghalangi kita.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.