MENJUAL NOSTALGIA LEWAT KARYA SINEMA

Film-film dengan unsur nostalgia sepatutnya kembali lagi pada hakikatnya sebagai sebuah karya yang baru.

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi - Teks: Reino ezra

Tak perlu jadi ahli untuk menyadari bahwa pada tahun-tahun belakangan ini, unsur nostalgia sedang banyak dimanfaatkan untuk pembuatan film bioskop, baik di Hollywood maupun di Tanah Air. Saat ide-ide baru yang diangkat ke film tak selalu mendapat sambutan yang diharapkan, mengolah ulang materi cerita lama semakin sering jadi pilihan—karena relatif lebih mudah dijual ketimbang yang dibuat benar-benar dari awal. Sekarang ini pembuat film mulai banyak membuat karya baru dengan penekanan pada nostalgia, berdasar pada kenangan terhadap kesuksesan yang sempat dicapai film-film lama, dengan cara membangkitkan lagi cerita, karakter, atau detail audio visual dalam sajian baru.

Salah satu bukti di Hollywood adalah film Jurassic World, yang mencatatkan rekor box office dunia tahun 2015—meraih 1,6 miliar dolar AS dari penjualan tiket bioskop dalam waktu cukup singkat. Film tersebut adalah sekuel ketiga dari Jurassic Park (1993),

blockbuster yang laris luar biasa dan jadi salah satu penanda era ‘90-an. Kesuksesan film pertama mendorong dibuatnya dua sekuel, The Lost World: Jurassic Park (1995) dan Jurassic Park III (2001), yang sayangnya tak mampu menyamai kesuksesan film pertamanya. Justru Jurassic World-lah yang berhasil melampaui nominal pendapatan

Jurassic Park. Hal serupa juga terjadi pada Star Wars: The Force Awakens (2015), yang dirilis 10 tahun sejak episode terakhirnya, Star Wars: Episode III Revenge of the Sith (2005), dan secara jalan cerita banyak mengingatkan pada film pertamanya, Star Wars (1977). Demikian juga dengan film-film fantasi keluarga seperti Cinderella (2015), The Jungle Book (2016), dan Beauty and the Beast (2017), yang pencapaiannya mendulang ratusan juta dolar di box office.

Perfilman Indonesia rupanya juga mulai merapat pada unsur nostalgia. Contoh paling mencolok adalah kehadiran Ada Apa dengan

Cinta 2 pada tahun 2016 lalu. Sekuelnya dibuat menampilkan karakter dan pemeran yang sama, hanya saja kini mereka sudah berusia 30-an tahun. AADC 2 dijadikan ajang reuni antara penonton film pertama dengan karakter-karakter kesayangan yang lama tak mereka dengar “kabar”-nya, serta menjanjikan penyelesaian cerita. Alhasil, film ini melampaui penjualan tiket pendahulunya—3,6 juta banding 2,7 juta.

Di tahun 2017 ini muncul film Galih & Ratna, yang melabelkan diri sebagai versi mutakhir dari kisah novel roman 1970-an yang berjudul Gita Cinta dari SMA karya Eddy D. Iskandar, dibuat untuk kaum muda milenial. Akan tetapi, film ini justru dibuka dengan cameo dari Rano Karno dan Yessy Gusman, pemeran Galih dan Ratna di versi film Gita Cinta dari SMA (1979), menguatkan kesan film ini tetap saja mengandalkan kekuatan nostalgia. Belum lagi film ini memasukkan unsur kaset musik sebagai penggerak cerita, seolah ingin menarik penonton dari generasi di atas remaja masa kini. Salah satu contoh yang mengusung nostalgia sebagai amunisi utama adalah film komedi

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016). Film produksi Falcon Pictures ini terangterangan mengambil jalur homage terhadap adegan, dialog, dan karakter dari film-film grup lawak Warkop DKI yang langganan laris di era 1980-an dan 1990-an. Film ini akhirnya mencatat penjualan 6,8 juta tiket bioskop, masih jadi film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Akan tetapi, tak semua film yang mengusung nostalgia bisa dikatakan sukses. Nostalgia rupanya kurang mampu mengangkat pamor Ini Kisah Tiga Dara—dengan cerita dan kemasannya berguru pada film musikal klasik nan laris Tiga Dara (1956)—yang hanya bertahan beberapa pekan di bioskop. Atau dalam contoh Hollywood, nostalgia seakan tak berguna bagi Independence Day: Resurgence (2016), yang performanya tak sampai separuh dari pendahulunya, film serangan alien laris, Independence Day (1996).

Perlu disadari bahwa mengolah nostalgia menjadi tontonan yang baru bukanlah hal remeh, selalu ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan saat memproduksi film seperti ini. Melihat dari contoh-contoh yang sukses, film-film dengan unsur nostalgia sepatutnya kembali lagi pada hakikatnya sebagai sebuah karya yang baru: harus ditujukan bagi penonton yang ada pada saat ini, baik yang sudah kenal lama terhadap materi ceritanya maupun yang baru tahu. Mau tidak mau, mereka harus tetap memiliki kebaruan dan relevansi dengan masa kini.

Apa jadinya kalau Cinta dan Rangga di AADC 2 masih bertengkar tentang hal-hal remeh

seperti saat SMA, atau Warkop DKI Reborn jika pembuat filmnya masih mengulang lawakan berusia puluhan tahun dengan cara persis sama. Apa istimewanya Jurassic

World jika tokoh manusianya masih saja takut pada dinosaurus-dinosaurus yang sudah berulang kali mereka temui di filmfilm sebelumnya.

Nostalgia bukan berarti mengulang hal yang persis sama, melainkan melihat halhal lampau itu dalam sudut pandang yang diperbarui. Mungkin hal itu yang luput dari Independence Day:

Resurgence, bahwa setelah 20 tahun dunia tak semudah itu lagi terpukau oleh efek visual dahsyat kehancuran massal yang dipelopori film pertamanya. Atau mungkin dalam kasus Ini Kisah Tiga Dara, luput membaca bahwa penonton sekarang tidak mudah menerima format musikal, tidak segampang 60 tahun sebelumnya ketika nyanyian di tengah film adalah kewajaran.

Meskipun demikian, proyek-proyek film pengusung nostalgia sepertinya masih akan berlanjut. Di Indonesia sendiri sedikitnya ada tiga proyek film yang disinyalir berciri demikian. Pengabdi

Setan (1980), salah satu film horor ikonis Indonesia, kini sedang dibangkitkan kembali oleh Rapi Films dalam versi baru di bawah garapan sineas Joko Anwar. Perusahaan Soraya Intercine Films pun sedang memulai proyek roman Eiffel I’m in Love 2, sekuel film komedi romantis remaja laris Eiffel I’m in Love (2003). Dan, ada pula proyek horor Jailangkung dari Screenplay Films, yang jadi reuni dua sutradara Rizal Mantovani dan Jose Purnomo sejak film horor fenonemal mereka, Jelangkung (2001).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.