ANCAMAN NARKOBA JENIS BARU

Meskipun efek reaksinya tidak selama ganja yang dikenal bisa bereaksi hingga 1 hari, efek Tembakau Gorila ini 10 kali lebih kuat dari cocaine

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi -

eberapa waktu lalu, masyarakat sempat heboh dengan penangkapan salah seorang personel band asal bandung terkait kasus narkoba. Menurut kabar yang beredar, pria berinisial ‘an’ tertangkap tangan sedang memesan narkoba jenis baru bernama Tembakau gorilla lewat layanan ojek online. Tak lama setelah peristiwa itu, terdengar pula kabar penangkapan seorang pelajar karena aktivitasnya sebagai pengedar zat berbahaya itu. selama beberapa bulan belakangan memang kerap terdengar kabar penangkapan yang berhubungan dengan peredaran Tembakau gorilla. Mengapa jenis tembakau tersebut dianggap berbahaya? apa saja yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi teror zat berbahaya ini terhadap orang-orang terkasih? esquire melakukan investigasi lebih lanjut terhadap masalah pelik yang tengah berlangsung tersebut.

Tembakau gorilla merupakan narkoba (narkotika dan obat-obatan) jenis baru yang peredarannya belakangan ini semakin marak di indonesia. psikotropika baru ini, juga biasa disebut dengan ab-chminaca, sesungguhnya sudah masuk ke Tanah air sejak beberapa tahun silam, bahkan sudah mulai disebut-sebut pada saat kasus penyalahgunaan narkotika yang dilakukan oleh selebritas berinisial ra pada tahun 2013 lalu. kandungan berbahaya ini kembali ramai diberitakan setelah kemunculan beberapa kasus dan tindakan kepolisian terhadap pengguna serta pengedarnya selama beberapa bulan belakangan. Menurut dr. amrita Devi, sp. kj, M. si, kepala badan narkotika nasional wilayah Jakarta selatan, keterlambatan tindakan mengantisipasi penyebaran ini disebabkan masalah regulasi dari kementerian kesehatan. “baru pada awal tahun 2017 ini, Tembakau gorilla dan puluhan kandungan zat lainnya digolongkan sebagai narkotika berdasarkan peraturan Menteri kesehatan no. 2 tahun 2017,” ungkapnya dalam wawancara bersama esquire.

Menurut keterangan dr. amrita Devi lebih lanjut, Tembakau gorilla adalah salah satu jenis ganja dengan senyawa kimia yang dibuat dan ditujukan ‘bukan’ untuk tubuh manusia. gugus kimia yang disemprotkan atau ditaburi kepada tembakau ini biasa disebut dengan istilah synthetic cannabinoid. kandungan ini merupakan zat sintetis (hasil sintesis di laboratorium) yang menyerupai atau menduplikasi bahan aktif dalam marijuana (tetrahydrocannabinol) yang memilki efek pengikatan dengan reseptor

cannabinoid pada sel manusia. serbuk synthetic cannabinoid ini dicairkan dan lalu disemprotkan dengan aseton dan aerosol kepada sampel herbal atau bahan lain. setelah itu, racikan tersebut dikeringkan dan dikemas menjadi kemasan saset 5 gr atau 10 gr (yang dibanderol dengan kisaran harga rp 300.000-500.000) atau dalam bentuk rokok. karena harga yang cukup mahal, penikmatnya biasa membeli secara kolektif, yang kemudian melintingnya sendiri dan menghisap ramai-ramai. “Jenis ganja ini dikenal publik dengan beberapa nama, dari ‘Tembakau super’. ‘Tembakau gorilla’, ‘hanoman’ atau ‘ganesha’. ada juga yang menyebutnya dengan nama ‘k2’, ‘spice’, atau ‘good shit’.”

Menurut informasi yang dikumpulkan dari pengakuan beberapa pemakai Tembakau gorilla, pengaruh zat ini biasanya akan bereaksi dalam 1015 menit, tergantung dari daya tubuh reseptornya. setelah merasakan pengaruhnya dalam waktu yang singkat, tubuh reseptornya akan menjadi normal kembali. Durasi waktu yang pendek ini bisa membuat sang pemakai terdiam. ketika badan tidak toleran, pemakai dapat mengalami halusinasi, tremor, hingga kejang. “Meskipun efek reaksinya tidak selama ganja yang dikenal bisa bereaksi hingga 1 hari, efek Tembakau gorilla ini 10 kali lebih kuat dari

cocaine,”ucap dr. amrita Devi. cocaine kandungan zat kimia pada Tembakau gorilla

dianggap bisa menimbulkan efek halusinasi dan euforia seperti yang dihasilkan ganja. pengguna juga bisa merasakan paranoia, dorongan impulsif, bahkan bisa menjadi agresif. yang tidak disadari oleh penggunanya adalah kandungan kimia pada tembakau itu juga memberikan efek samping yang negatif kepada tubuh. tembakau Gorilla, sama seperti zat yang ada pada new psychoactive substances (nps) lain, sesungguhnya ditujukan untuk penelitian laboratorium, pengobatan atau keperluan forensik. Zat-zat tersebut bahaya untuk dikonsumsi tubuh. ahli kesehatan menyatakan bahwa konsumsi tembakau Gorilla bisa menyebabkan efek samping seperti disorientasi, gangguan persepsi, rusaknya neurosistem dan bahkan bisa mengakibatkan overdosis yang berbuntut kejang-kejang.

kemunculan tembakau Gorilla bisa dibilang merupakan bukti upaya produsen narkoba dalam mencari celah hukum di tanah air yang sudah cukup ketat. selain dasar penegakan hukum untuk beberapa jenis narkoba baru ini tergolong telat, kandungan zat berbahaya itu memang menjadi semakin rumit. “salah satu kendala dalam beberapa kasus tembakau Gorilla ini adalah zatnya yang memang tidak bisa dideteksi dengan tes urine biasa. butuh uji lab khusus untuk mendapatkan informasi bahwa seseorang terbukti mengonsumsi kandungan dari 43 jenis nps itu,” ujar dr. amrita Devi.

Menurut data yang pernah diinformasikan oleh bnn, selain kandungan abchminaca yang disebut tembakau Gorilla itu, ada beberapa nps berbentuk ganja sintetis yang dideteksi sudah masuk ke indonesia. beberapa di antaranya adalah JWH018, Xlr-11, 5-fluoro akb 48, MAM 2201, Fub-144, ab-fubinaca, dan Cb-13. Di luar negeri, sesungguhnya jumlah nps bahkan sudah mencapai ratusan jenis. penetapan peraturan dari kementerian kesehatan yang ditujukan sebagai landasan penegakan hukum merupakan salah satu solusi untuk mengantisipasi pengedaran narkoba jenis baru tersebut. untuk ke depannya, mungkin akan lebih baik jika tindakan pencegahan yang berlandaskan temuan informasi dan penetapan peraturan baru bisa lebih dipercepat.

sebagai negara dengan jumlah penduduk muda yang cukup tinggi, indonesia adalah sebuah pasar yang potensial untuk penyebaran nps. Menurut data yang dihimpun bnn, tembakau Gorilla bahkan bisa didapatkan dengan mudah di beberapa wilayah di indonesia. ada pengedar yang menitipkan zat berbahaya itu di gerai supermarket 24 jam. ada juga pengedar yang menjajakan lewat aplikasi komunikasi atau media sosial. oleh karena itu upaya pencegahan dari pengedaran narkoba ini adalah tugas semua pihak, tidak hanya sekadar menjadi kewajiban penegak hukum saja. keluarga, sebagai ruang lingkup paling dekat dengan individu, bisa menjadi pelindung utama setiap dari segala pengaruh buruk. setiap orangtua sebisa mungkin harus memantau setiap aktivitas anak-anaknya. Faktor komunikasi pun harus tetap terjaga dengan baik. setelah itu, ruang lingkup sosial seperti institusi pendidikan juga harus bisa menjadi sarana untuk menyebarluaskan informasi akan bahaya narkoba jenis baru tersebut.

perang terhadap narkoba adalah sebuah kerja keras tanpa henti yang harus dilakukan oleh semua pihak. terlalu besar risiko yang harus dipertaruhkan jika menyerah begitu saja terhadap keganasan pengaruh zat-zat berbahaya tersebut. ada baiknya jika semua pihak bersatu-padu, selalu waspada terhadap perkembangan zaman, dan bergerak cepat untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang bisa terjadi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.