CLARA TAN

Sosoknya yang blak-blakan mampu membuat Anda seketika jatuh hati dengan keterbukaan hati dan sikapnya.

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi -

Sebelum benar-benar bertemu dengan Clara Tan, saya telah mempersiapkan rumusan katakata terbaik yang akan diucapkan saat mengobrol panjang lebar dengannya. Hal yang saya tahu selama ini bahwa kebanyakan wanita yang berkecimpung di modeling berperangai halus dan memilih untuk tertawa cantik jika saya melontarkan lelucon. Namun hal itu tidak ditemukan dalam karakter wanita yang kita kenal sebagai salah satu kontestan Asia’s Next Top Model (ANTM) cycle lima ini, Clara justru langsung membuat saya merasa telah mengenalnya sejak lama. Ia tidak canggung untuk membalas basa-basi saya dengan cepat dan menohok. Ya, menohok. “Tidak perlu memuji kalau saya cantik, saya tahu kamu pasti kaget melihat saya tampil lusuh seperti ini. It’s okay, saya pasti dibuat cantik kan di pemotretan ini? Hahaha,” balasnya seraya tergelak. Baiklah, saya mengaku terkejut ketika melihat Clara datang ke studio Esquire dengan tampilan sederhana. Saya telah berharap sangat tinggi untuk melihat sosok Clara Tan sebenarnya sama seperti yang terlihat di televisi. Namun realita yang saya temui berkata lain, Clara lebih dari sekadar cantik. Clara adalah sosok yang mengagumkan dan mampu membuat siapapun seketika merasa nyaman bercengkerama dengannya. “Saya tidak suka basa-basi. Jika saya sedang tampil buruk, katakanlah ketika tampil polos tanpa make-up, tidak masalah dipandang aneh oleh orang lain. Menjadi seorang model bukan selalu tentang kecantikan, melainkan juga karakter,” tegas Clara. “Faktanya, saya cukup jauh dari definisi cantik bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Mata saya tidak belo’ (mata bulat) dan tubuh saya jangkung. Saya sering disebut mirip jerapah, sebuah julukan yang membuat saya berpikir bahwa saya menyeramkan karena memiliki tubuh yang kurus dan terlalu tinggi. Namun, ketika di terjun di dunia modeling, saya akhirnya paham bahwa ‘ketidak cantikan’ saya ini sesungguhnya adalah aset yang berharga,” lanjutnya panjang lebar. Begitu ketatnya persaingan di dunia modeling saat ini menuntut setiap model untuk bersaing dalam menonjolkan karakternya masing-masing. Hal tersebut diakui Clara memang benar adanya. Model tidak lagi bersaing menjadi yang tercantik, melainkan menjadi pribadi yang mudah dikenali, baik dari wajah maupun gaya penampilannya. “Banyak orang yang saya kenal di dunia modeling mengatakan bahwa wajah saya memiliki bentuk rahang yang berstruktur dengan

tulang pipi yang cukup menonjol. Menurut mereka, tipe wajah saya termasuk salah satu yang unik dan sangat dibutuhkan saat ini, terutama untuk menjadi model tata rias. Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa model adalah pilihan karier yang tepat saat ini,” tutur Clara.

Selain menemukan kepercayaan diri, modeling juga membuat Clara paham makna keberagaman sesungguhnya. Ia sering bertemu banyak model dengan karakter uniknya masing-masing. Diakuinya, keberagaman tersebut mengajarkan dirinya untuk dapat luwes bergaul dengan banyak orang. Selain itu, keberagaman juga mengajarkan dirinya tentang kiat-kiat membawa diri di hadapan orang lain. “Saya adalah anak tunggal. Apapun yang saya inginkan selalu dikabulkan oleh orang tua saya. Hal tersebut sempat membuat saya bersikap egois dan apatis. Hingga kemudian dunia modeling mengajarkan saya tentang kemandirian, ketekunan, serta profesionalitas dalam bersikap,” ujar wanita dengan tinggi badan 170 cm itu.

Clara berujar bahwa sikap profesional dalam berkarier sebagai model tidak muncul begitu saja. Ia membutuhkan waktu untuk menyadari betapa pentingnya sikap mandiri. Manajer di

model agency tempatnya bernaung tidak hentihentinya terus mengingatkan Clara tentang hal-hal kecil yang perlu diperhatikan ketika hendak menjalani pekerjaan di dunia modeling. Bahkan untuk sekadar travel tissue saja, sang manajer tidak pernah lupa untuk mewajibkan Clara membawanya. Ia mengaku sempat merasa kesal karena kelengkapan barang yang wajib ia bawa tidak selalu terpakai semuanya. Namun, ketika tanpa terduga barang-barang yang dibawanya akhirnya terpakai, ia justru merasa bersyukur telah menyiapkannya dengan baik. Bahkan, hal tersebut turut dapat membantu meningkatkan mood dirinya ketika menjalani pemotretan.

“Seorang model dituntut untuk bisa luwes di depan kamera, tidak peduli mood-nya sedang baik atau buruk. Ajaibnya, ketika saya benar-benar well-prepared dengan segala hal yang dibutuhkan untuk menjalani pemotretan atau jalan di catwalk, saya merasa lebih bersemangat dan fokus untuk melakukan pekerjaan terbaik saya,” jelasnya.

Bisa dikatakan dunia modeling telah cukup banyak mengubah cara pandang Clara dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Meskipun sikap manja terkadang muncul, perlahan namun pasti kini Clara mampu mengatasinya. Ia juga menjadi lebih menghargai waktu sehingga memberikan efek positif ke lingkungan kerjanya. Bahkan, menurutnya, beberapa orang yang bekerja sama dengannya terpacu untuk sama-sama bersikap tepat waktu. “Prinsip saya sederhana saja. Waktu adalah kesempatan terbaik untuk berkarya, jadi jangan sampai mengabaikannya, karena hal tersebut akan berdampak buruk, bukan hanya pada diri kita, melainkan juga terhadap orang-orang yang berinteraksi dengan kita,” ujarnya bijak.

Prinsip serupa juga diterapkan oleh Clara dalam menjalani hubungan asmara dengan pria yang dicintainya. Meskipun sama-sama sibuk berkarier di bidangnya masing-masing, namun keduanya selalu menyempatkan untuk berkomunikasi satu sama lain di waktu senggang, entah sekadar bertanya kabar melalui telepon atau makan bersama di restoran. Ketika sedang bersama kekasih atau orangorang yang dekat dengannya, Clara selalu berusaha untuk melupakan gadget-nya dan lebih fokus untuk menikmati waktu yang berkualitas.

Saya pun iseng meminta Clara mendeskripsikan seperti apa sosok pria yang biasa menarik atensinya. “Salah satu hal yang paling saya suka dari kekasih saya adalah perutnya yang agak buncit. Enak untuk jadi sandaran, hehehe,” kelakarnya. Pria berperut buncit adalah tipe yang disukainya. Bagi Clara, seorang pria haruslah mampu memberikan kehangatan serta kelembutan ketika wanita memeluk atau bersandar padanya. “Kalau pria bertubuh atletis, sulit dicubit dan dielus dengan manja, hahaha,” lanjutnya diiringi gelak tawa.

Ketika kemudian saya bertanya tentang konsep hubungan asmara seperti apa yang ingin dijalani olehnya, Clara menjawab dengan cepat ingin membentuk keluarga kecil yang bahagia. Baginya, keluarga kecil yang bahagia haruslah memberikan porsi peran yang tepat. Pria tetap menjadi tulang punggung keluarga, dan wanita sebisa mungkin harus selalu ada sebagai pendidik yang baik di rumah.

“Sekalipun saya masih diberikan kesempatan untuk berkarier di modeling saat sudah membina keluarga nanti, saya akan memprioritaskan keluarga. Saya ingin anak-anak saya nanti mendapat perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya, terutama dari kehadiran saya sebagai ibu,” tukas Clara yang menambahkan bahwa dirinya tidak ingin mengulang masa kecilnya yang kerap memiliki sedikit waktu untuk bercengkerama dengan keluarga lantaran kedua orang tuanya sama-sama bekerja.

Saya pun kemudian membuat kesimpulan bahwa di balik sikapnya yang blak-blakan, Clara nyatanya adalah sosok wanita yang begitu perhatian akan kualitas hidup yang dijalaninya. “Saya ingin melakukan segala hal yang terbaik di hidup saya,” tutupnya.

Mantel wol, MAX MARA

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.