Ketika Buku Menjadi Komoditas Bisnis Yang Seksi

Ketika buku menjadi komoditas bisnis yang seksi.

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi -

Belum lama ini, para penggila buku terbius oleh pameran buku Big Bad Wolf 2017 yang diadakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan. Konon, gelaran tersebut berhasil menjual lebih dari lima juta buku. Jumlah yang fantastis tersebut belum digabung dengan angka penjualan di berbagai pameran buku lainnya, termasuk di dalamnya bazar buku, yang sama-sama cenderung menunjukkan tren positif. Hal ini sejenak melupakan fakta bahwa minat masyarakat Indonesia dalam membaca buku masih berada di luar posisi 50 besar dunia.

Lantas, apakah jumlah fantastis angka penjualan buku di berbagai pameran tersebut menandakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia mulai meningkat? Bisa jadi begitu.

Pameran buku, baik skala kecil maupun besar, selalu menarik minat pengunjung untuk datang. Lucunya, tidak peduli penggila buku atau bukan, setiap kali ada pameran buku, bisa dipastikan tidak sepi pengunjung. mulai dari sekadar melihat-lihat, mengintip isi buku secara diam-diam, hingga berburu buku murah pun menjadi pemandangan yang umum terjadi. Namun lebih dari itu, sejatinya pameran buku memberikan masing-masing manfaat positif terhadap pengunjung dan penyelenggara.

Bagi pengunjung, hal yang menarik dari pameran buku adalah adanya potongan harga dari buku-buku yang dijual di dalamnya. Bahkan seringkali pengumuman tawaran potongan harga diiklankan secara besar-besaran layaknya promo diskon supermarket. Inilah trik marketing cerdas, potongan harga hampir tidak pernah gagal membuat publik berpikir untuk datang ke sebuah pameran.

Bagi penggila buku, potongan harga tentu adalah ‘anugerah’ dan sedangkan bagi orang awan, diskon adalah alat pemuas batin. mengutip hasil penelitian psikologi retail yang dilakukan oleh Universitas London, Inggris, bahwa tampilan potongan harga tidak serta merta membuat seorang kalap mata, melainkan diawali oleh terpicunya rasa bahagia saat melihat nominal harga yang lebih rendah dari seharusnya.

Sebaliknya dari pihak penerbit, pameran buku memberikan tiga manfaat utama. Pertama, sebagai ajang untuk melihat potensi pasar. Tentu saja penerbit ingin melihat pangsa pasar saat ini. mereka akan tahu bacaan apa saja yang paling diminati atau sedang dicari saat ini. Kedua adalah mengukur minat baca masyarakat. Ramai atau tidaknya sebuah pameran buku bisa dijadikan tolok ukur seberapa besar minat baca masyarakat di daerah tertentu pada waktu tertentu, sehingga bisa dijadikan acuan dalam menjalankan bisnis buku ke depannya. Sementara yang ketiga adalah meningkatnya penjualan buku sebagaimana alasan yang dikemukakan di beberapa paragraf sebelumnya. Dengan demikian, adanya pameran buku memberikan segudang manfaat bagi banyak pihak. Semakin besar dan menarik bentuk pameran buku, tentu juga akan semakin menarik minat pengunjung. Saya pribadi berharap akan semakin banyak pameran buku yang diselenggarakan di banyak tempat. Sehingga minat baca masyarakat Indonesia akan semakin meningkat.

“Saya percaya Sesuatu yang ajaib akan muncul Setiap kali membaca buku” –J.K. Rowling, penulis–

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.