Pemetik Harpa

Esquire (Indonesia) - - Insight - Oleh: S. Prasetyo Utomo

ZAHRA memetik harpa dengan penuh perasaan. Umi menikmati petikan harpa putri tunggalnya itu, setelah sepuluh tahun lamanya gadis itu belajar memetik harpa kecil, yang ditinggalkan Abah sebelum mengembara. Tiap malam purnama Zahra senantiasa memetik harpa. Hening. Bening. Melentingkan ketenangan jiwa. Hingga kini, tujuh belas umurnya.

Dengan sentuhan pelan Zahra membuka jendela kamarnya. Bulan mengambang, bundar, sangat dekat. Gadis itu memetik harpa, jari-jemarinya lincah menggetarkan senar-senar dengan pelupuk mata terpejam. Ia menyusupkan angannya, jauh melayang, menemui ayahnya. Abah lagi bersila, melakukan zikir larut malam di pesantren Lembah Bayang-bayang. Zahra tersentak. Ia tak menyangka, ayahnya seperti memintanya berkunjung ke Lembah Bayangbayang, pesantren di lereng gunung, jauh dari keramaian desa. Apa yang dialami Abah? Ia meminta pada Umi untuk diperkenankan menyetir mobil sendiri menyusul Abah ke Lembah Bayang-bayang. Besok pagi ia ingin melakukan perjalanan ke pesantren terpencil itu. Membawa serta harpa

kesayangannya dengan mobil, Zahra memasuki pesantren Lembah Bayang-bayang. Hari hampir senja. Ini kehadirannya untuk pertama kali. Tapi ia seperti berulangkali mengunjungi tempat ini, dalam ilusi-ilusi petikan harpa, ketika kangen pada Abah. Tapi ia tak menduga sama sekali bila pesantren Lembah Bayang-bayang seteduh ini di lereng gunung. Terpencil dari desa.

Inilah pertemuan Zahra, setelah sepuluh tahun Abah mengembara. Lelaki setengah baya itu tercengang, tak menduga, bila anak gadisnya akan tumbuh semolek itu. Ia takjub, dikunjungi Zahra dengan harpa kecil yang ditinggal Abah saat akan berangkat mengembara. Memang harpa inilah permintaan Zahra. Abah masih keheranan, mengapa harpa itu tak pernah lepas dari sisi anak gadisnya.

“Kebetulan sekali kau datang. Abah sangat membutuhkan kehadiranmu.” “Abah dalam kesulitan?” Abah memandangi Zahra dengan tatapan teduh. Tapi Zahra dapat melihat kegelisahan yang bergolak di balik keteduhan itu. Wajah Abah seperti tidak menjadi tua. Zahra merasa bertemu Abah yang dulu, yang pergi mengembara pada tengah malam – dan meninggalkan harpa kecil di dekat tempat tidurnya.

“Engkau putriku yang bijak. Tentu dapat membantuku menyelesaikan persoalanku,” kata Abah, penuh pertimbangan. “Kiai Jangkung, pemilik pesantren ini, menghendaki agar aku menikahi anak gadisnya, Fatimah. Aku diharapkannya meneruskan mengurus pesantren.”

“Bukankah Abah masih terikat pernikahan dengan Umi?”

“Mereka tidak mempersoalkannya. Kiai Jangkung sudah lama terbaring sakit. Pesantren ini memerlukan penerus. Beliau hanya memiliki seorang anak gadis. selama ini belum ada putra kiai yang melamarnya. Akulah yang diminta untuk menikahinya.” “Abah menerimanya?” “Kamu tahu isi hatiku. Aku meninggalkan rumah bukan untuk mencari istri muda.” Bulan purnama mengapungkan kebeningan suara petikan harpa yang tak pernah terdengar di pesantren Lembah Bayang-bayang. Fatimah, putri kesayangan Kiai Jangkung, menemui Zahra di kamarnya. Memandangi Zahra memetik harpa dengan kelentikan jari-jemarinya. Fatimah merasakan ketenangan, ketenteraman, dan ketakjuban. Fatimah seperti terserap dalam denting harpa itu. “Mbak Fatimah mau nikah dengan Abah?” desak Zahra, lembut. Fatimah mengangguk, penuh keyakinan. “Tidakkah Abah terlalu tua bagimu?” “Aku tak memandang perbedaan umur.”

Zahra menghentikan petikan harpanya. “Kalaupun kau tak memandang perbedaan umur, persoalannya Abah bukan jodohmu.” “Bagaimana kau tahu?” “Akan datang seorang putra kiai yang bakal melamarmu. Dia akan mengasuh pesantren ini, dan kelak akan menjadikan tempat ini ternama,” balas Zahra. “Ketika aku memetik harpa, aku menangkap bayangan-bayangan samar, silih-berganti, tentang kehidupanmu di masa mendatang.”

Di bawah Pohon Jodoh, yang hijau segar dedaunannya, kokoh batangnya, berumur ratusan tahun, Abah merasakan hangat matahari mengurai kabut pagi. Abah selalu menyapu pelataran pesantren tiap lepas subuh, sambil bibirnya memohon pengampunan, hingga menjelang siang. Di bawah Pohon Jodoh itu, Abah tercengang, mendengar derap kaki kuda. Bukan cuma seekor kuda. Tapi dua ekor kuda gagah. Turun dari kuda itu Kiai Maksum, dan putranya, lelaki tangguh, tenang dan penuh percaya diri. Abah bergegas menyambut mereka, menyalami keduanya, mengantar menghadap Kiai Jangkung, yang telah bertahun-tahun berbaring di ranjangnya.

Kiai Jangkung tersentak menerima kehadiran Kiai Maksum, sahabat ketika muda dulu, semasa berguru di pesantren. Masih dengan berbaring, Kiai Jangkung membentangkan tangannya, memeluk Kiai Maksum.

“saya datang bersama anak lelakiku, yang bakal menjadi menantumu!” kelakar Kiai Maksum.

“Kau melamar Fatimah, putriku, bagi anak lelakimu?”

“sudah lama aku menahan hasrat ini. Baru sekarang memberanikan diri untuk menyampaikan hal ini padamu.”

Abah meninggalkan kamar Kiai Jangkung, pelan-pelan, diam-diam, dengan dada yang sesak, berdegupdegup. Ia kembali ke bawah Pohon Jodoh, meneruskan menyapu reruntuhan daun. Ia membebaskan sesak dadanya, hingga terasa lapang, tanpa himpitan beban.

ZAHRA menghampiri Abah, duduk berdua di bawah keteduhan Pohon Jodoh. Kupu-kupu yang terbang rendah, berkitar-kitar di bawah Pohon Jodoh. Abah seperti memendam perasaan yang sangat dalam, yang belum pernah diketahui Zahra sebelumnya. Gadis itu menanti, apa yang akan dikatakan ayahnya. Di bawah Pohon Jodoh itu, duduk di rerumputan, ayah dan anak gadisnya menjajagi perasaan masing-masing.

“Aku tak pernah berkeinginan memiliki istri muda,” kata Abah, menahan diri. “Aku lahir dari rahim ibu yang menjadi istri kedua. Ayahku seorang komandan pertempuran saat mengepung tentara pemberontak di hutan, menumpas tentara yang ingin mendirikan negara atas nama agama. Dalam pengejaran ke pedalaman, Ayah menembak mati salah seorang tokoh kesayangan imam pemberontak, dan membawa serta istri mudanya, yang ikut bergerilya. Ayah menikahi istri muda pemberontak itu di desa kelahiran si wanita, di wilayah barat pulau ini.” Tak pernah Abah menampakkan wajah semurung itu, kecuali ketika ia dulu memutuskan untuk meninggalkan rumah, pergi mengembara.

“Ketika Ayah pensiun, ia kembali pada istri pertama yang tinggal di wilayah tengah pulau. Ayah meninggalkan istri keduanya dalam keadaan hamil. Ketika lahir bayi laki-laki, istri muda itu membawanya pada keluarga Ayah dan istri tuanya. Diserahkan bayi laki-laki itu pada Ayah. Istri muda Ayah kembali pulang ke desanya,” Abah terdiam, lama. “Bayi laki-laki itu adalah aku.” Kupu-kupu kuning memenuhi sawah dan ladang di luar pesantren. Kupu-kupu yang terbang rendah itu mengitari Abah dan Zahra yang masih duduk berdiam diri di bawah Pohon Jodoh.

“Aku tumbuh di antara lima saudara lelaki tiriku yang jahat,” kata Abah. “ketika Ayah meninggal, aku masih kanak-kanak. Kelima saudara lelaki tiriku, tanpa alasan yang jelas, bisa memukuliku beramairamai, menendang, meludahi, dan mengutukiku sebagai anak pemberontak! Bahkan pernah kakak tiriku yang kedua, marah padaku, dan dilempar aku ke kolam. Aku hampir mati tenggelam, kalau tak ditolong ibu tiriku. Beruntung, ibu tiriku selalu melindungiku. Pada ibu tiriku itulah aku selalu mencari ketenteraman, keadilan, kesabaran. Aku berhutang budi kepadanya. Tanpa Ayah, ibu tiriku membesarkanku dengan kasih sayang melebihi pada kelima putranya. Ia selalu berkata, ‘Kau putra kesayanganku yang tak kulahirkan,’ dengan penuh kelembutan.”

Dengan wajah berseriseri, Kiai Maksum dan anak lelakinya meninggalkan pesantren Lembah Bayang-bayang. Menunggang kuda yang gagah. Derap kaki kuda menjauh, dengan detak tapal kaki yang penuh pengharapan. Berderap di atas jalan beraspal yang baru dibangun. Zahra berpamitan pada Kiai Jangkung, mohon diri pada Fatimah yang tersipu-sipu, dan melangkah ke bawah Pohon Jodoh. Abah masih duduk seorang diri bernaung di bawah keteduhan pohon itu.

Zahra paham, ayahnya masih ingin mengatakan banyak hal tentang kehidupan masa lalunya. Tapi ia mesti pulang, kembali ke kota. Ia akan mengembara ke ibukota, meninggalkan Umi. Ia diterima kuliah di ibukota, mengejar mimpinya menjadi dokter dan pemetik harpa. Ia berpamitan pada Abah.

Malam hari sepeninggal Zahra, purnama sangat dekat di pucuk Pohon Jodoh. Fatimah mendekati Abah, diutus Kiai Jangkung memanggil lelaki setengah baya itu. Tapi Abah sudah paham: ia terbebas dari rencana menikahi Fatimah.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.