THE PRODIGY

Sadikin aksa, telah menjelma menjadi Saudagar Bugis yang ingin membawa Bosowa ke level internasional. kepada esquire dia menjelaskan Bagaimana pentingnya memiliki mentor yang hebat untuk menjalankan perusahaan dan Bagaimana caranya menyiasati Badai ekonom

Esquire (Indonesia) - - Reportase -

Apa definisi kesuksesan?

Saya merasa sukses jika apa yang Saya kerjakan berhasil. Sukses itu juga harus didefinisikan kembali. Apakah sukses yang saya rasakan, apakah sukses karyawan saya, atau orang lain yang merasakannya. Seperti keberhasilan saya membawa perusahaan kami (Bosowa) masuk ke dalam bank Bukopin. Karena tidak semua orang melakukan transaksi ini.

Apakah menahkodai perusahaan Bosowa yang notabene perusahaan keluarga mengamplifikasi tantangan Anda mencapai kesuksesan?

Iya. Saya melihatnya begini, Erwin Aksa (kakak Sadikin Aksa) sukses mentransformasikan perusahaan keluarga ini menjadi perusahaan profesional. Saya merasa sukses karena telah menjadi bagian dari transformasi Bosowa menjadi lebih baik, Kesuksesan yang dia rasakan, membuat saya juga merasakannya. Tetapi saya bukan leader hari itu.

Sekarang Anda Ceo-nya, dan itu menjadi beban?

Iya, sekarang saya leader-nya dan iya itu menjadi beban. Nah, kendala saya sekarang adalah kondisi ekonomi yang tidak sama saat Erwin menjadi leader. Selain itu, kondisi dunia dan teknologi juga berubah. Jadi kembali lagi soal kesuksesan, saya merasa sukses jika berhasil membawa Bosowa ke tingkat internasional. Dahulu sebelum Erwin menjadi CEO, Bosowa itu terkenal sebagai perusahaan dari daerah. Dia berhasil membawanya ke level nasional. Dan tidak mudah bagi dia menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan Bosowa kepada saya yang masih berusian 40-an saat itu. Erwin bertugas menjadi CEO selama 10 tahun, saya ditargetkan 10 tahun, setelahnya giliran Subhan Aksa. Mungkin targetnya akan berubah sesuai tantangan zaman.

Menarik. Terlihat ada rasa hormat terhadap posisi kakak dalam perusahaan ini ya?

Iya. Ini ajaran orang tua, dan kami berlima bersaudara respect terhadap Erwin sebagai mentor sekaligus leader. Dan saya merasa mampu dan begini karena dia.

Sejak kapan kalian dipersiapkan sebagai pemimpin dalam

perusahaan keluarga ini?

Sebenarnya, sejak awal kami bekerja, pak Aksa sudah mempersiapkan kami semua. Saya ingat, bapak berkata, “Saya bangun perusahaan ini sendirian, saya punya anak lima, maka saya ingin perusahaan ini lima kali lebih besar dari yang saya bangun.”

Mengapa demikian?

Ya, bapak menyebut, saya sendirian. Sekolah pas-pasan, kalian berlima sekolah juga lebih bagus, masa kalian tidak bisa membangunnya lima kali lebih besar dari apa yang sudah saya capai?

Sekarang? Apa kalian berhasil?

Ya, berhasil. Itu terjadi di masa Erwin. Sekarang tugas saya lebih berat lagi. Saya tidak mungkin lebih kecil dari Erwin.

Nah, berapa kali lebih besar target Anda?

Bagi saya, kali lima itu is a must-lah. Targetnya lebih besar lima kali dari saat ini. Saya memengang posisi CEO pada tahun 2015. Pada saat itu, group Bosowa ada enam. Saat ini sudah mencapai delapan. Kondisi ekonomi yang menuntut itu terjadi.

Kondisi ekonomi seperti apa?

Jaman dahulu, ketidakpastian itu hal yang biasa. Sekarang, ketidakpastian itu tidak bisa diprediksi. Siapa yang menyangka bisnis taksi tiga tahun terakhir hancur? (Bosowa memiliki sayap bisnis taksi dan menjadi yang terbesar ketiga di Indonesia). Itu karena teknologi. Siapa yang sangka bisnis semen lagi susah? (Bosowa juga memiliki pabrik semen di Maros, Batam dan Banyuwangi). Siapa yang menyangka bisnis otomotif juga mandeg? Penjualan memang naik, orang-orang tidak berpikir profitnya menurun (Bosowa juga memiliki divisi bisnis mobil). Ini karena yang berkembang adalah bisnis mobil LCGC (Low Cost Green Car). Jadi yang paling sederhana dalam ekonomi. Sebelum krisis 98, krisis ekonomi terjadi 10 tahun. Setelah 98 terjadi setiap lima tahun. Saat

ini perusahaan yang sukses adalah yang bisa menahan badai atau terkena badai kapan saja. salah satu tugas saya adalah mempersiapkan perusahaan untuk menghadapi badai ekonomi.

Sekarang dari keseluruhan sayap bisnis Bosowa, apa yang paling menonjol?

Semen, karena semen adalah aset terbesar dalam group, secara pendapatan juga paling besar di group. Kapasitas produksinya 7,2 juta ton per tahun dari tiga pabrik semen Bosowa yang ada di Indonesia ( Maros-batam-banyuwangi). Saat ini kami harus menahan laju ekspansi karena Indonesia mengalami kelebihan pasokan kapasitas produksi. Market-nya hanya 65-70 juta ton per tahun. Kapasitas terpasang saat ini 104 juta ton.

Bagaimana prospek bisnis semen ini ke depannya?

Prospeknya masih ada. Selama negara masih membangun, maka prospeknya masih ada. Semen itu adalah salah satu komponen pembangunan negara.

Berarti Anda tertolong dengan program Presiden Joko Widodo yang mengedepankan pembangunan infrastruktur?

Yang harus kita lihat, pak Jokowi mencanangkan long-term project. Yang harus dicarikan solusi adalah short-term dan medium term project. Kenapa? Jika kita lihat, negara kita ini pendapatan pajaknya saja berkurang. Karena tidak adanya kegiatan transaksional maka pendapatan pun berkurang. Berat lho. Kita kemarin terbantu karena tax

amnesty. Itu juga tidak mencapai target.

Sekarang roda bisnis utama Bosowa sedang menghadapi tantangan. Bagaimana Anda mencapai target menjadi lima kali lebih besar dari saat ini?

Pertama, adalah how to survive from this condition. Survival ini secara market, operasional, dan secara finansial. Kita survive di market berarti operasional kita cocok dengan kondisi market. Jangan sampai masih boros. Pada saat kita survive dari market dan persoalan operasional, kita pasti survive. Market, sekecil apapun kita harus survive. 98 aja Bosowa survive kok.

Saat ini Bosowa juga terjun di bisnis pendidikan. Mengapa Bosowa menjalankannya?

Saat ini banyak orang tua yang berpikir menyekolahkan anaknya di sekolah swasta dengan reputasi sangat baik. Bisnis ini sangat menguntungkan.

Jadi suatu saat akan menjadi primadona? Bisa. Bagaimana Anda menyiasati bisnis Bosowa yang mengalami hambatan seperti bisnis taksi?

Kami juga berinvestasi pada sektor ini. Kami membeli mobil lalu dipakai untuk armada online. Jadi seperti bisnis taksi saja. Beli mobil, lalu cari sopir. Apa bedanya dengan bisnis taksi? Tidak ada bedanya

kan? Kenapa harus takut? Ada yang perlu ditakutkan? Ini cara untuk survive.

Apakah ada proyek-proyek lain yang akan dijalankan under new CEO?

Ekspansi ada. Seperti bisnis pembangkit listrik, terminal gas di Makassar dan Banyuwangi. Dan itu masih belum besar.

Bagaimana visi Jokowi menurut Anda?

Menurut saya bagus untuk jangka panjang. Tetapi itu bisa dijalankan dengan kondisi ekonomi bertumbuh.

Bukankah sekarang tumbuh hingga lebih 5%?

Mungkin begini, daya beli masyarakat rendah. Kita tumbuh karena banyaknya investasi-investasi yang harus

“pak Jokowi mencanangkan longterm project. Yang harus dicarikan solusi adalah short term dan medium term project. Kenapa? Jika kita lihat, negara kita ini pendapatan pajaknya saja berkurang.”

diselesaikan. Ekonomi kita tumbuh karena pemerintah push dengan infrastruktur. Contohnya properti. Sektor ini indikator pertumbuhan ekonomi. Yang laku adalah rumah Rp500 juta hingga Rp1 miliar. Di atas itu, hancur. Coba tanya deh sama semua pengusaha, bisnis apa sih yang sedang bagus. Semua bisnis yang over liquid sedang hati-hati. Di masa krisis pasti

ada oppurtunity, begitu saja.

Lantas bagaimana bisnis properti Bosowa?

Kita mau maksimalkan di wilayah Makassar, dan Bekasi. Belum ada rencana, masih tanah kosong. Kalau mau membangun, ambil yang kelas C dan D. Jadi seperti maksimum 500 juta. Jangan lebih dari itu.

Jadi apakah program rumah murah Anies dan Sandi akan berhasil?

Saya kenal Sandi, dia tidak akan mau melakukan apapun tanpa berhitung. Sementara pak Anies adalah orang yang sering membaca buku. Jadi tidak mungkin dia berbicara semacam itu jika tidak melakukan perhitungan.

Beralih ke Anda. Saat ini Anda sudah merasa menjadi seorang tokoh nasional dengan menjadi ketua IMI (Ikatan Motor Indonesia)?

Saya tidak berusaha menjadi tokoh nasional dengan menjadi ketua IMI. Saya jadi ketua IMI karena hobi saya, bukan karena ingin mencari power di sini. Waktu saya menjadi wakil ketua IMI, saya dipercaya pak Nanan Sukarna (ketua IMI sebelumnya), untuk ke luar negeri dan melihat organisasi serupa di sana. Kita jauh tertinggal di belakang mereka. Nah, apakah kita tidak berkeinginan untuk membesarkan organisasi ini?

Tetapi kendala internalnya banyak bukan?

Itulah tantangannya. Saya harus memperbaikinya.

Dengan cara?

Sepengetahuan saya, kendala kita itu adalah infrastruktur dan sumber daya manusia. Apa bedanya dengan kendala Indonesia? Cuma kami men-treat-nya berbeda. Sederhana saja. Sebelum membangun infrastruktur, Sdm-nya dahulu kita bangun. Saya targetkan IMI menjadi federasi olahraga terbaik di Indonesia.

Anda seorang pengusaha, buat apa menjadi Ketua IMI?

IMI itu orangisasi besar. Tidak sembarang orang yang bisa menjadi ketuanya. Inilah organisasi terbesar setelah PSSI. Hati saya tergerak untuk membenahi olahraga otomotif. Menjadi sumber devisa negara, dan sebagai destinasi wisata yang tidak pernah kita pikirkan. Sederhana saja. Motogp itu olahraga itu apa entertainment? Bagi saya entertainment. Jadi saya harus mengolahnya.

Tetapi bukan IMI yang membangun sirkuit bukan?

Harus negara yang membangunnya. Tetapi tugas siapa untuk menjelaskannya ke pemerintah? Tugas IMI. Dan itu yang saya kerjakan. Saya juga menjelaskan soal biaya yang dihabiskan untuk membangun sirkuit Motogp. Siapa yang me n g kampanye kan nya? Yang dipercaya adalah IMI.

Jadi apa program andalan Anda?

Saya tidak mau muluk-muluk, saya bisa membawa Motogp kembali ke Indonesia. Saya akan coba fokus di motor.

Saat ini sudah sedekat apa Indonesia menjadi tuan rumah Motogp?

Jika ada sirkuit, Motogp langsung berjalan.

Yang di Palembang bagaimana?

Secara teknis sudah selesai. Sekarang tinggal kesiapan mereka yang membangun. Siap tidak membangun? Butuh pengorbanan juga dari pemerintah pusat. Misalnya membangun sirkuit 500 miliar, pemerintah daerah 250 miliar, pemerintah pusat 250 miliar. Saat ini sirkuit Palembang siap dibangun. Segala urusan teknis telah selesai.

Apa tantangan IMI dan apa agenda IMI ke depan?

Organisasi ini harus semakin berwibawa. Memimpin organisasi semacam IMI dengan bebagai macam

culture di dalamnya jangan harap berjalan smooth. Saya tidak akan melihat IMI ke belakang. Namun, sebagai agenda, Saya ingin kembali menyelanggarakan kejuaraan dunia motor cross (MXGP), dan Motogp di Indonesia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.