Menikmati SWISS

Dari Lucerne hingga Titlis

Esquire (Indonesia) - - Destinasi - Kesemuanya menyajikan Keindahan yang berbeda dan menarik untuk disambangi.

Swiss adalah negara di Eropa Tengah berpenduduk 7,5 juta jiwa yang berbatasan langsung dengan Jerman, Prancis, Italia dan negara kecil bernama Liechtenstein. Ini membuat Swiss kaya dengan ragam budaya dan juga bahasa. Di Swiss Anda dapat menggunakan bahasa Jerman, Inggris, Prancis, Italia dan Romansh.

Selain budayanya, negara Swiss yang terletak di pegunungan Alpen memberi kontribusi pemandangan alam yang begitu indah. Tak heran jika Swiss kerap menjadi negara tujuan wisata utama di dunia. Selain itu berada di pegunungan Alpen membuat Swiss memiliki wilayah yang tertutupi salju abadi. Artinya para pelancong tentu bisa menghabiskan waktu bermain ski sepanjang tahun.

Swiss terbagi dalam 26 distrik. Kesemuanya menyajikan keindahan yang berbeda dan menarik untuk disambangi. Salah satunya adalah Luzern atau Lucerne yang memiliki populasi terpadat di Swiss. Mulanya, Lucerne adalah desa nelayan di tepi Danau Lucerne. Komunitas kecil ini kemudian berkembang hingga membentuk kota dengan segala kompleksitasnya. Karena posisinya di tepi danau dengan anak sungai yang mengisi danau itu, Lucerne memiliki beberapa jembatan tua dan kini menjadi objek wisata yang menarik.

Jembatan yang paling terkenal adalah Chapel Bridge atau Kapellbrücke. Jembatan kayu sepanjang 204 meter ini, membelah sungai Reuss dan dibangun tahun 1333. Kapellbrücke juga menghubungkan Wasserturm (menara di tengah sungai Reuss) yang telah ada sejak abad ke-13. Pada plafon jembatan terpajang lukisan dari abad ke 17 yang mengisahkan sejarah kota Lucerne. Menara air dan jembatan tua inilah yang menjadi

paling terkenal di kota Lucerne. Tak hanya Wasserturm dan Kapellbrücke, rumah dan bangunan tua di sekitarnya menambah pula keindahan suasana di sekitar landmark kota Lucerne.

Siang itu, matahari seakan malu menunjukkan sosoknya. Embusan angin dari kaki gunung Pilatus dan Rigi leluasa memeluk tubuh, meskipun telah menggunakan jaket tebal. Tak terasa, matahari semakin tinggi, dan saya harus kembali melanjutkan perjalanan menuju monumen bersejarah Löwendenkmal.

Monumen Löwendenkmal atau Lion monument adalah karya Bertel Thorvaldsen yang berlokasi di sebuat taman kecil di wilayah Lowenplatz. Monumen Lion adalah pahatan berbentuk singa yang mati bersandar pada dua buah perisai. Satu perisai berlambang Swiss dan satu lagi

berlambang kekerajaan Prancis. Wajah singa itu begitu sedih dan terlihat tombak yang patah menghujam tubuhnya yang kekar.

Monumen ini untuk memperingati kisah sedih tentang ratusan jiwa Swiss Guard (tentara bayaran) asal Swiss yang terbunuh tahun 1792 saat terjadinya revolusi Prancis karena melindungi Istana Tuileries di Paris dari serbuan massa. Demi kehormatan dan kesetiaan, mereka tidak lari ataupun mundur. Dengan gagah berani para pengawal Swiss itu bertempur hingga titik darah penghabisan. Ah, sebuah kisah yang menyedihkan, bahkan untuk dibayangkan. Kisah sedih itu tergambar sempurna di patung karya Bertel Thorvaldsen ini.

Tak terasa hari menjelang senja, langkah kaki kembali mengayun ke

Kapellbrücke, karena kabarnya pemandangan saat malam menjelang di sana begitu indah. Benar saja. Sesampainya di sana, air sungai ibarat cermin yang memantulkan cahaya senja dan lampu-lampu kota. Embusan angin terasa semakin menusuk tulang. Namun keindahannya seolah memaku kaki saya dalam-dalam.

Malam pun tiba dan lampu mulai dinyalakan. Kerlap-kerlipnya indah memantul di air danau yang kini menjadi hitam gelap. Suasana di sekitar landmark pun menjadi sangat romantis dengan jejeran kafe hingga pertokoan. Jika ingin berbelanja segeralah melakukannya karena toko-toko di Lucerne hanya buka hingga pukul 21:00.

CHAPEL BRIDGE DI MALAM HARI.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.