Jeffrey JP

Esquire (Indonesia) - - What I've Learned - TEKS: Reza erlangga Foto: hadi cahyono

Saya mulai ikut reli tahun 80-an. Sempat juga terjun sebagai rally driver, namun saya kemudian lebih memilih menjadi co-driver. Sebelumnya saya sempat mengikuti balapan motor di Ancol pada tahun 1970-an menggunakan Suzuki, Kawasaki lalu kemudian mengikuti reli dan menjadi penyelenggara atau panitia olahraga bermotor.

Tidak sulit menjadi co-driver. Apalagi jika Anda menganggapnya sebagai pekerjaan. Menganggap mobil yang dikendarai sebagai kantor, dan Anda juga harus bisa mengatur waktu, melakukan sosialisasi dengan pendukung lainnya, mulai dari panitia maupun mekanik. Termasuk harus bisa mendalami karakter driver kita.

Mengapa tidak banyak orang yang ingin menjadi codriver? Karena industri motorsport belum hidup, dan masih bersifat hobi. Belum bisa menjadi pegangan hidup.

Sebagai co-driver, Anda harus bisa membaca pace notes di dalam mobil yang melaju kencang. Tidak boleh pusing atau mual. Memahami karakter driver agar bisa menutupi kelemahannya. Jika driver mudah emosi, maka co-driver harus bisa meredakan emosinya. Harus rapi dan tidak berantakan.

Pada tahun 80-an ke atas, saya mulai membantu pak Helmi Sungkar, pak Pudio, dan pak Tinton dengan terjun menjadi panitia kompetisi balap. Tahun 1989 saya mulai membuat event reli di Medan untuk kejuaraan Far East Asia (Asia Timur Jauh).

Tidak mudah menyelenggarakan ajang reli. Lebih rumit dalam hal koordinasi, persiapan, manajemen hingga implementasinya di lapangan. Hambatannya banyak, termasuk logistik. Ini menjadikannya amat sulit untuk diselenggarakan dibanding olahraga bermotor lainnya.

Co-driver itu tidak boleh emosional. Tidak boleh gugup. Co-driver juga memegang peranan penting untuk meredakan tensi yang tinggi saat kompetisi. Tidak hanya bagi driver, namun juga keseluruhan kru yang bertugas. Misalnya ada mobil reli yang sedang rusak, kita harus bisa memberikan semangat dan aura positif agar semua dapat berjalan lancar.

Saya tidak pernah lupa aroma kemenangan. Saya pernah menjadi juara bersama Tommy Soeharto, Tonny Hardianto, dan Ricardo Gelael, karena membutuhkan kerjasama yang baik. Co-driver amat menentukan seorang driver mampu keluar sebagai juara dalam sebuah kompetisi. Co-driver itu tidak akan pernah populer dan boleh disebut sebagai tokoh di balik layar.

Ada sekolah khusus untuk menjadi co-driver. Tapi saya beruntung. Pada tahun 92, rombongan pak Adiguna Sutowo, dan pak Tommy Soeharto, belajar ke sekolah navigator di Inggris. Saat mereka pulang, di reli Lampung, pak Adiguna mengajari saya membuat pace notes.

Kemampuan membuat pace note itu saya tularkan kepada teman-teman pereli lainnya. Saya membuat indeksnya, hingga direction-nya, Saya seperti membuat manual book-nya, jadi mereka bisa mempelajarinya. Sebelum itu tidak ada yang pernah membuat pace notes. Pace notes itu harus detail. Harus jelas. Karena pacenote itu berbentuk huruf dan angka. Ada indikator tikungan berbahaya dan lokasi berbahaya sehingga kita bisa memberi info kepada driver. Saya ditugaskan menyelenggarakan kejuaraan reli dunia di Medan pada tahun 1996-97. Pada tahun 2000-an saya terlibat menghidupkan reli di Makassar, dan berhasil menyelenggarakan Asia Pacific Rally Championship.

Penyelenggarakan event world class, membutuhkan masa persiapan yang panjang. Banyak yang harus dikordinir, mulai makanan, transportasi hingga posisi foto yang paling bagus.

Dahulu WRC bisa masuk Indonesia karena power dan finansial berjalan beriringan. Saat ini tidak demikian. Pemerintah kita saat ini belum aware olahraga otomotif bisa dipergunakan untuk sarana promosi. Mereka lebih memikirkan sepak bola yang melibatkan banyak orang.

Pemerintah mulai terbuka matanya saat kami membuat MX GP di Pangkal Pinang. Kanal televisi Fox menyiarkan tentang Indonesia ke mana-mana. Nilainya lebih murah dibandingkan memasang iklan Wonderful Indonesia.

Indonesia harus bisa menyelenggarakan Motogp dan ajang WRC.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.