Richard Kyle

SEPERTI BINTANG UTARA, PERJALANAN KARIER RICHARD KYLE DI DUNIA FILM SEMAKIN BERSINAR. KINI DIA KIAN TENGGELAM DALAM HIRUK PIKUK INDUSTRI PERFILMAN YANG MULAI MEMBESARKAN NAMANYA.

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi -

Perjalanan kariernya di dunia perfilman semakin bersinar, kini dia tenggelam dalam hiruk pikuk industri yang mulai membesarkan namanya.

Di suatu hari yang terik

Di Bali, tatapan mata kami tertuju pada sesosok pria berwajah tampan dan bertubuh atletis di sudut Bali Zoo. Dibalut busana bergaya slengean, pria bule itu tampak kontras dari atmosfer di sekelilingnya. Dia seolah bersinar di antara kerumunan banyak orang di sekitarnya.

Pria itu adalah Richard Kyle, model yang kini bertransformasi menjadi seorang aktor di dunia hiburan Indonesia. Transformasi itu tidak membuatnya puas. Seperti bintang Polaris, Richard seolah tidak pernah berpindah dari tempatnya. Dia menghabiskan waktunya untuk terus belajar agar bisa menjadi sosok yang tidak hanya menjadi ‘pemanis’, namun juga menjadi arus utama dalam industri perfilman di Indonesia.

Saat kami bertemu dengannya, dia bercerita baru saja menyelesaikan shooting film terbaru di bawah bendera MD Productions. Setelah itu, dia juga akan terlibat di dalam film baru sama Falcon Productions.

Bisa dielaborasi film-nya seperti apa? tanya kami membuka percakapan pada pria blasteran Indonesia-australia itu. “Film ini menarik karena diangkat dari kisah nyata. Genrenya horor dan ceritanya diambil dari kisah nyata yang dituangkan ke kaskus (forum diskusi terbesar di Indonesia). Cerita horor ini kemudian sangat terkenal dan dibaca banyak orang, sehingga selanjutnya dibuatkan skrip untuk kemudian dibuat film,” terangnya antusias.

Keterlibatannya di dunia film justru terjadi secara tidak sengaja. “Saya pernah tinggal di Indonesia, dan menghabiskan masa kecil di Jakarta. Tetapi tidak lama, hanya 8 tahun saja. Setelah menamatkan sekolah (SMP), saya pindah ke Australia. Di sana saya kembali melanjutkan sekolah. Jadi, saya lama berdomisili di Australia. Pada saat berusia kurang lebih 16 tahun, saya terjun ke dunia model internasional dan berkesempatan berkeliling dunia. Lompat dari satu negara ke negara lain,” sebutnya antusias.

Modeling pun kemudian berubah menjadi oase yang begitu menyegarkan dan menyenangkan. “Selain mendapatkan imbalan yang cukup, saya juga bisa berkeliling dunia sembari mencari pengalaman baru,” paparnya. Meskipun dunia model begitu indah, tetapi Richard seolah merasa hampa dan membutuhkan sebuah fondasi untuk berpijak. Akhirnya, dia mengambil keputusan untuk fokus membangun bisnis motor bersama rekan bisnisnya di Thailand. “Saya ingin stay di suatu tempat dan fokus membangun fondasi,” alasannya.

Pria kelahiran 15 Desember 1987 silam ini, tidak benar-benar bisa meninggalkan dunia model

Teks REZA ERLANGGA Fotografer SAEFFIE ADJIE styling BAYU SEGARA

yang membesarkannya. Sembari berbisnis motor, memiliki bengkel, dan termasuk pula mendesain motor. Pria yang akrab dipanggil Richo ini, tetap aktif di dunia model dan bahkan mulai bermain film. Dia juga mengaku tidak pernah menolak peranperan kecil yang ditawarkan kepadanya. Sebuah langkah yang kami anggap mampu mendewasakan kemampuan akting Richard. Apalagi memang tidak mudah bersaing di dunia layar lebar.

Perlahan, tirai menuju stardom tersibak hingga akhirnya Richo mendapatkan jalan untuk bermain film di Indonesia. “Saya berkenalan dengan manajer saya saat ini di Melbourne, Australia. Waktu itu dia mengajak saya untuk kembali ke Indonesia. Tentu saja saya agak ragu, apalagi saya juga sudah lama tidak pernah berkunjung ke Indonesia,” kisahnya. “Namun saya mempercayainya dan akhirnya saya memulai ritual pergi-pulang Indonesia-australia, sembari belajar bahasa lagi. Namun, sesampai di Indonesia, saya malah mendapatkan banyak job,” papar pemeran Erick dalam film Ini Kisah Tiga Dara, sebuah film drama musikal yang diproduseri oleh Nia Dinata.

----

“Lalu bagaimana ceritanya anda bisa

menjadi pembawa acara televisi?” tanya kami. “Awalnya, saya mendapatkan job iklan dari sebuah produk pembersih muka. Mereka mendaulat saya menjadi seorang ambassador, bahkan sebelum tinggal di Indonesia (ucapnya sembari tertawa), sejak membintangi iklan tersebut, tawaran lain pun bermunculan. Termasuk pihak Trans TV yang melihat saya dan mencari tahu tentang saya. Pada saat mereka bertemu dengan saya, mereka ingin memberi kesempatan untuk menjadi tv host.”

“Mengapa Anda begitu berani menerima tawaran menjadi host program televisi bertema petualangan?” cecar kami. “Jujur saja, saya tidak berani. Maksud saya, meskipun memiliki kemampuan dan bisa melakukan banyak aktivitas sport, saya masih grogi untuk melakukan hal baru seperti ini. Manajer yang banyak menyemangati saya. No, no...it’s ok. Kamu bisa. Lakukan saja yang terbaik, nanti kita lihat.

There is something that people want from you sebutnya saat itu,” kisah pria yang pada sebuah wawancara bersama Cosmopolitan Indonesia, sister magazine kami, mengakui sosok Tatyana Akman sebagai sosok yang paling dekat dengan karakter wanita impiannya.

Agar tidak canggung di depan kamera, Richard harus mencampurkan bahasa Inggris dan Indonesia. “Itu harus saya lakukan karena bahasa saya masih kacau banget,” ucapnya. Semua itu tentu menyulitkan bagi Richard. Tetapi, dari situ pihak Trans TV meminta saya untuk menjadi diri sendiri.

“Perlahan, saya mulai percaya diri, sehingga semua proses shooting mulai terasa lebih mudah,” ucapnya (sembari tertawa lepas).

-playful, nice, ramah, dan menyukai

petualangan, Richo menyebut dirinya seorang adrenaline junky yang suka melakukan kegiatan yang memacu adrenalin. Petualangan seperti apa yang sangat ingin Anda lakukan saat ini? “Saat ini saya sudah bisa melakukan paralayang. Saya belajar, latihan, dan mendapatkan license paralayang tahun lalu di Prancis. Jadi saya bisa menerbangkan paralayang. Saya memiliki dua peralatan paralayang. Satu di Indonesia, dan satu lagi di Thailand. Jika ada waktu luang, saya pasti bermain paralayang di Puncak, Jawa Barat,” jawabnya dengan penuh antusias.

“Selanjutnya saya ingin melakukan sky diving dan mengajak adik saya ke Prancis untuk mempelajarinya selama dua minggu agar bisa melakukannya sendiri,” timpal pria yang juga bermain di film

The Professionals ini. Richo merasa kegemarannya ini memberikan kepuasan paripurna. Dia merasa sangat luar biasa selepas melakukan kegiatan yang mengundang maut tersebut. “Saya merasa sangat luar biasa. Seperti terhanyut di dalam dunia sendiri,” paparnya.

Namun semua itu tidak membuatnya merasa lebih maskulin, atau untuk membuat dirinya terlihat lebih macho dari pria lainnya. Menurutnya, maskulinitas itu atau tidak dilihat dari kegemaran melakukan extreme

sports atau naik motor besar. Terminologi maskulin bagi Richo lebih pada kekuatan untuk membantu orang banyak.

sekarang richard kyle telah memilih berkarier di dunia hiburan. Dia bahkan menjadi pilihan beberapa sutradara kondang tanah air untuk berperan di dalam film mereka. Apakah ini merupakan passion-nya? “Begini, sebenarnya...kembali ke soal confidence. Di dalam dunia hiburan, faktor tersebut sangat penting. Seperti saat teman saya bertanya. Kenapa kamu tidak memulai akting sewaktu masih kecil? Jawabannya, ya karena saya tidak pede.” Richard memang sempat belajar drama, dan akting (teater), namun sewaktu kuliah, semua itu ditinggalkannya. “Menurut saya, menjadi seorang aktor harus memiliki kualifikasi seperti teater, atau sekolah akting. Di Australia, mereka (produsen film) tidak akan memilih kamu jika tidak ada basic, atau skill di bidang akting. Jadi karena saya tidak belajar akting, maka saya berpikir tidak mampu melakukannya,” celotehnya. Karena itulah Richard mulanya enggan mencoba terjun ke dunia film. Akan tetapi, selalu ada magnet kuat yang memesona dan selalu

“PERLAHAN, SAYA MULAI PERCAYA DIRI, SEHINGGA SEMUA PROSES shooting MULAI TERASA LEBIH MUDAH.”

menarik Richard ke dunia akting. “To be

honest, saya suka berakting. Saya menyukai dan melakoninya sejak kecil, namun tidak pernah berupaya mendapatkan big role,” jelas salah satu pria dengan otot perut paling indah di Indonesia ini. “Selepas mendapatkan kesempatan dan mencoba, semuanya menjadi biasa dan lebih gampang,” imbuhnya.

Tetap saja ada banyak tantangan untuk berkarier di dunia film tanah air. Lalu, apa tantangan terbesar saat memulai karier di Indonesia? “Yang pertama adalah bahasa. Hingga saat ini saya juga masih belajar berbahasa Indonesia. Intonasi saya juga masih belum seperti orang asli Indonesia. Masih bule. Tetapi tidak apa-apa, people always like who you

are. Jadi, cukup menjadi diri sendiri. Lebih baik mereka menerima kamu, karena menjadi diri kamu sendiri dan bukan menjadi orang lain,” kata pria berzodiak Sagitarius ini. “Semoga kemampuan berbahasa saya semakin baik. Mudahmudahan 1-2 tahun ke depan, aksen saya sudah seperti orang Indonesia asli,” inginnya. Mewujudkan itu semua, Richo pun giat mempelajari bahasa Indonesia. Bahkan ada seorang guru yang bertugas mengajarinya berbahasa Indonesia. Dia juga sadar benar pentingnya aspek interaksi dengan orang banyak bisa mempercepat penguasaan bahasa Indonesia.

“Sebenarnya, saya dulu bisa berbahasa Indonesia (sewaktu menghabiskan masa kecil di Jakarta), namun begitu pindah ke Australia, saya tidak lagi menggunakannya. Di rumah saya di Australia, ibu sering menggunakan bahasa Indonesia untuk bercakap dengan saya, namun saya menjawabnya dengan bahasa Inggris. Jadi sebenarnya, saya familier dengan bahasa Indonesia. Sehingga proses belajarnya tidak terlalu sulit,” ungkapnya.

Prosesi foto Pun Dimulai. Richo tanpa sungkan mengikuti semua instruksi kami. Di bawah sengatan matahari Bali, Richo berubah seperti sosok burung merak yang memamerkan seluruh keindahan busana yang dikenakannya. Gesturnya menawan, sosoknya disiplin dibarengi profesionalisme selayaknya model papan atas. Gaya, demi gaya dia peragakan sempurna. Senyum khas, serta beragam ekspresi wajah yang mampu menarik begitu banyak perhatian kaum hawa, benar-benar menjadi jodoh kamera fotografer kami siang itu.

Ini mengingatkan kami pada pengakuannya yang begitu ingin memerankan karakter yang selalu berbeda dari satu film ke film lainnya. Baginya, semua itu adalah tantangan yang tidak ingin dihindarinya, bahkan hingga bertahun-tahun ke depan. Dia melakoninya karena yakin inilah passion-nya.

Menurut Richo, saat ini dia mulai mendapatkan peran dengan karakter yang berbeda dari peran-peran yang sebelumnya dia perankan. Semua itu dia sambut dengan sembari terus memoles kemampuannya agar mampu menjadi aktor yang lebih baik. “Jadi, saat ini saya fokus, concern and

understanding bagaimana aktor bisa menjiwai karakter yang akan diperankan. Saya juga belajar bagaimana mempersiapkan semuanya, termasuk pula melakukan survei karakter agar bisa tampil berbeda dari orang lain,” sebutnya. Totalitas ini pun membuatnya akan melakukan apa saja tuntutan peran yang diberikan padanya, termasuk jika harus membuncitkan perutnya. “Pasti saya jalani. Tidak apa-apa,” yakinnya.

“Lima tahun ke depan saya masih ingin berakting. Karena saya menyukai proses shooting film. Saya juga sudah mulai membangun rumah di sini, jadi mungkin 5 tahun dari sekarang saya sudah membangun keluarga,” tutupnya.

Selepas wawancara, Richard kembali menyongsong dunia yang kini dia yakini mampu membesarkan dirinya. Keteguhan, keyakinan dan profesionalisme yang ditunjukkannya membuat kami yakin, Richard akan bersinar seperti Polaris, di antara bintang-bintang lainnya.

“JADI,SAATINISAYA FOKUS, concern and understanding BAGAIMANA AKTOR BISA MENJIWAIKARAKTER YANG AKAN DIPERANKAN.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.