a TO Z

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi - Teks: Wyatt Mason

Tidak hanya menjadi musisi hip-hop pertama yang akan masuk daftar The

Songwriters Hall of Fame, Jay-z adalah ikon budaya pop yang memberikan pengaruh lewat berbagai karya musiknya.

sangat sulit untuk menentukan dari mana kita harus memulai jika berbicara tentang kiprah seorang Jay-z. Dia adalah seorang rapper berusia 47 tahun yang telah menjual album sebanyak jutaan kopi; pemenang 21 piala Grammy; musisi dengan album rekaman paling banyak meraih peringkat pertama di tangga lagu Billboard (13 kali!) dalam sejarah musik. Musisi bernama asli Shawn Corey Carter ini juga mantan pendiri dan CEO dari perusahaan musik Def Jam; pemilik clothing line bernama Rocawear (dengan omzet penjualan jutaan dolar); pendiri club 40/40; pendiri perusahaan

entertainment Roc Nation; pemilik manajemen atlet Roc Nation Sports; pemilik perusahaan streaming musik Tidal; produser film dan televisi; filantropis dengan yayasan bernama Carter Foundation. Dengan begitu banyaknya peran yang ia miliki, tak heran bila kemudian banyak yang menilai Jay-z sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Amerika Serikat dalam beberapa tahun belakangan. Meskipun demikian, tak bisa dimungkiri bahwa pengaruh terbesar yang diberikannya adalah beberapa karya dengan aransemen musik revolusioner dan lirik bernas.

“Stuffing it in my mattress like it was cash”; like the church ladies touched by the spirit”; “like he was in a trance: “like watching some kind of combat”; “like a planet pulled into orbit by a star”: Beberapa penggalan lirik tersebut menjadi bukti betapa Jay-z gemar menggunakan gaya bahasa berbentuk simile. Dalam 193 lagu ciptaannya, dia menggunakan kata ‘like’ sebanyak 902 kali. Bukan berarti dia menggunakan gaya bahasa tersebut dengan cara praktis yang menghasilkan kalimat berkesan dangkal. Dia menggunakan simile untuk mengungkapkan preferensi atau perbandingan. Penyair Shakespeare, dalam 154 soneta gubahannnya, menggunakan ‘like’ sebanyak 30 kali. Sang penyair lebih banyak menggunakan metafora daripada simile, karena dalam puisi pendek karyanya itu membutuhkan efisiensi dalam pemenggalan suku kata untuk menghasilkan bunyi tertentu. Jay-z menggunakan simile sebagai alat untuk mengubah rima bunyi sekaligus makna, dari yang berawalan halus hingga kemudian terkesan lebih keras: “Like a mama you birth me, Brooklyn you nursed me?”; “All cherry like a hymen,

kata ‘N’ hanyalah kata biasa yang kekuatannya dimiliki oleh penuturnya dan tujuan dia menggunakan kata tersebut. Kuncinya adalah kita harus bisa mengubah persepsi orangorang yang menggunakan kata tersebut. Kita bisa mengubah seseorang lewat sebuah percakapan, bukan melalui sensor.”

when i’m rhyming with remarkable timing.”

Meskipun banyak yang menyukai lagu-lagu karyanya, tak sedikit pula yang mengkritik atau memberikan komentar sinis terhadap karier sang rapper. Kabar burung atau komentar yang berbunyi ‘Jay-z tidak menulis lirik setiap lagunya’, ‘lagunya terlalu komersil’, atau ‘selebriti penipu’, sudah sering terdengar. Saya sendiri sesungguhnya tidak tahu kebenaran dari kabar itu, karena memang saya tidak pernah menyaksikan sendiri prosesnya dalam menciptakan lagu. Dalam Fade to Black, sebuah film dokumenter penting yang menceritakan proses produksi album kedelapan Jay-z yang bertajuk The Black Album, kita bisa melihat dia sering bekerja dengan produser legendaris Rick Rubin. Kita bahkan bisa melihatnya ketika mereka melakukan proses rekaman lagu 99 Problems. Pada sebuah kesempatan, ketika Rubin tengah berbincang dengan Mike D (salah satu personel Beastie Boys), dia mengungkapkan kekaguman pada sang

rapper. “Caranya menulis lagu, tidak seperti kebanyakan musisi lainnya. Dia tidak pernah menuliskan lirik lagunya pada kertas. Dia punya ingatan dan bayangan yang kuat terhadap lirik yang akan diucapkannya pada sebuah lagu.”

Selain kata ‘like’, Jay-z juga gemar menggunakan kata ‘nigga’. Dia menggunakan kata ‘N’ tersebut sebanyak 1.149 dalam setiap lagunya. Bagi beberapa orang, kata tersebut berkesan sangat kasar, bahkan bagi Oprah Winfrey yang notabene seorang keturunan Afrika-amerika. Dalam memoar berjudul

Decoded yang pernah ditulisnya, Jay-z memberikan tanggapannya terhadap hal tersebut. “Bagi Oprah, mungkin kata ‘N’ tersebut mengingatkannya terhadap sejarah pahit yang pernah dihadapi ras kami. Saya tentu menghormati hal tersebut. Tapi bagi saya, kata ‘N’ hanyalah kata biasa yang kekuatannya dimiliki oleh penuturnya dan tujuan dia menggunakan kata tersebut. Kuncinya adalah kita harus bisa mengubah persepsi orang-orang yang menggunakan kata tersebut. Kita bisa mengubah seseorang lewat sebuah percakapan, bukan melalui sensor.”

Jay-z tak pernah ambil pusing dengan tuduhan yang mengatakan dia tak pernah menulis sendiri setiap lirik lagunya. Baginya, orisinalitas merupakan salah satu karakter dari musik hip-hop yang ditekuninya. Dalam Decoded (2010), Jay-z menuturkan beberapa nilai yang dipercayainya dalam bermusik. “Inilah yang menjadikan rap sebagai salah satu musik yang baik untuk manusia. Musik ini tak pernah memaksa kita untuk menjadi orang lain. Kita bisa mengungkapkan ide-ide yang bahkan mempertentangkan pola pikir yang sudah umum. Jika Anda merasa punya malaikat dan setan sekaligus di dalam diri, itu merupakan hal yang biasa. Sebuah omong kosong jika Anda tida merasakan kontradiksi dalam diri, berarti Anda adalah sebuah pribadi yang membosankan dan tidak imajinatif.”

Produser musik ternama lainnya yang pernah berkolaborasi dengan Jay-z adalah Timbaland. Salah satu lagu yang mereka produksi bersama adalah Dirt Off Your Shoulder. Dalam video tersebut, Jay-z memperagakan gerakan seakan-akan tengah membersihkan bahunya yang kemudian menjadi salah satu

mime yang ikonis hingga saat ini. Salah satu bukti sangat berpengaruhnya gerakan tersebut bisa terlihat saat situasi yang berlangsung pada tanggal 17 April 2008. “Saat Anda hendak mencalonkan diri untuk menjadi presiden, tentu akan banyak tantangan yang bermunculan,” ujar Barrack Obama ketika berbicara tentang persaingannya dengan Hillary Clinton. “Dan saat menghadapi situasi itu, yang Anda bisa lakukan hanyalah...,” Obama lalu memperagakan gerakan membersihkan jaketnya menyerupai apa yang Jay-z lakukan.

Untuk apakah sebenarnya manusia membuat musik? Kita bisa mencari salah satu jawabannya dengan mengoreksi teori Darwin. Manusia membuat musik bukan untuk menarik lawan jenisnya. Manusia membuat musik karena ingin berbagi dunia dan kehidupan yang dimilikinya dengan orang lain. Manusia membuat musik bukan hanya untuk memastikan bahwa setiap orang dapat bertahan hidup, tapi meyakinkan mereka bahwa ada alasan untuk bertahan hidup, berevolusi dan berkembang.

Jay-z: dia membuat musik.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.