Teguh Agung Prastowo

INDONESIANISME ADALAH GERAKAN MEMPRIORITASKAN PRODUKSI DALAM NEGERI. UPAYA AGAR INDONESIA MENJADI TUAN RUMAH DI RANAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO DIGAUNGKAN OLEH TEGUH AGUNG PRASTANTO. SEMUANYA DEMI KEBANGKITAN INDUSTRIALISASI DI INDONESIA. DIA ME

Esquire (Indonesia) - - Daftar Isi -

Bisa diceritakan tentang background karier Anda?

Saya dahulu bekerja di perusahaan multinasional. Karier membawa saya bekerja di banyak negara di luar Indonesia, seperti Paris, dan Jepang. Akhirnya, saya memutuskan untuk membangun perusahaan sendiri pada tahun 2004. Pada tahun 2010 saya mulai divestasi usaha ke bidang energi terbarukan (renewable

energy) dan selanjutnya membangun Hidro Turbin Indonesia

Mengapa Anda memutuskan menyasar bidang itu?

Mengapa renewable energy? Karena pada saat itu kami melihat tren. Pada

tahun 2009-2010, belum banyak pebisnis yang menggeluti bidang energi. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan fossil

fuel (bahan bakar berbasis fosil) seperti minyak, batubara, yang suatu saat akan habis. Sementara kami ingin menjalankan

sustainable bussiness. Saat itu pilihannya ada dua, yakni berskala kecil atau besar. Pemerintah juga membaginya ke dalam dua pilihan. Pertama, di bawah 10 megawatt (MW) disebut mini, dan di atas 10 MW disebut large.

Apa perbedaan keduanya?

Mini lebih praktis dijalankan sebagai

entry point karena aturannya sudah clear, mulai dari harga hingga segala macam. Singkat kata, pada 2010 kami masuk dalam bidang ini dengan membangun sebuah pembangkit lisrik 5 MW di Garut. Listrik yang dihasilkan kemudian dibeli oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), dengan kontrak 20 tahun.

Bisa dielaborasi prosesnya?

Dari tahun 2010 kami mulai mengajukan perijinan. Tahun 2011 perijinan selesai, dan pada tahun 2012 kami mendapat funding dari bank. Konstruksi pembangkit ini selesai pada tahun 2014.

Apa komponen utama pembangkit listrik?

Sebuah pembangkit membutuhkan komponen turbin, generator, dan komponen listrik lainnya. Ternyata, kami menyadari bahwa tidak ada turbin yang dibuat di Indonesia. Jadi kami harus mencarinya di India, Tiongkok dan Eropa. Perusahaan asing yang punya manufaktur turbin dan generator di Indonesia pun tidak ada. Di bawah Bahtera Group saya kemudian mendirikan Hidro Turbin Indonesia untuk membuat turbin pembangkit listrik tenaga mini hidro.

Apa karena pasarnya kecil?

Tidak. Pasarnya besar. Dari sini kami melihat peluang yang besar. Apalagi bisnis minihidro sudah mulai mewabah, dan banyak orang yang mulai membuatnya. Mungkin sudah ada 100 proyek yang masuk saat itu, namun tidak ada pilihan untuk komponen mekanikal dan elektrikal lokal.

Apa yang kemudian dilakukan?

Setelah mendapatkan proyek lain di Garut, Cianjur dan Sumatera Utara, saya mulai berpikir membuat turbin itu sebenarnya tidak sulit, tetapi mengapa tidak ada perusahaan yang mau membuatnya di Indonesia? Karena proyek ini pula, saya harus ke manufaktur turbin di India, Tiongkok dan Eropa, untuk membeli turbin. Saya kemudian mengajak mereka untuk membuat fasilitas pembuatan turbin di Indonesia.

Ternyata ajakan saya tidak disambut baik meskipun ada dua perusahaan yang datang melakukan survei di Indonesia. Saya kemudian mengajak mereka ke Matra, sebuah perusahaan manufakturing di Bandung dengan fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan turbin. Namun mereka kemudian menyebut, fasilitasnya tidak bagus, dan seterusnya. Akhirnya, kami berpikir, lama-lama Indonesia hanya akan menjadi penonton saja. Saya lantas menghubungi temanteman dari Ikatan Alumni ITB dan berdiskusi soal ini.

Hasilnya?

Intinya, mereka menyebut tidak ada yang susah. Mendesain turbin pun mudah karena sudah ada software-nya. Di Indonesia juga banyak manufaktur yang bisa mewujudkan mimpi kita membuat turbin sendiri. Membuat turbin itu seperti membuat baju.

Penjahit tidak peduli soal desain baju, yang penting ada gambar atau modelnya, mereka tinggal menjahit saja. Itulah fungsi manufaktur. Tugas Kami selanjutnya tinggal membuat desain turbin yang baik. Ini juga tidak sulit karena ada banyak alumni ITB yang bisa melakukannya. Bahkan ada adik kelas saya di ITB telah mendesain turbin dan dipakai oleh PLN. Tetapi yang dia lakukan adalah reverse

engineering. Contohnya, jika ada turbin yang rusak dia kemudian melakukan

scanner 3D guna mengetahui kerusakan yang terjadi untuk diperbaiki oleh PLN.

Setelah komponen mekanikal terpenuhi, kini giliran komponen elektrikal. Jejaring kerja saya sebelumnya membawa kami ke ABB, sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Murdaya Widyamirta Poo. Mereka pun support.

Apa langkah selanjutnya?

Kami kemudian masuk ke kementerian, dan membicarakan ini. Kebetulan Arcandra Tahar, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral adalah kakak kelas saya di ITB. Jadi saya membicarakan soal potensi bangsa di bidang yang kami tekuni. Waktu itu saya menyebut kapan Indonesia bisa mendapat bagian jika semua komponennya impor. Namun ada masalah lain yang muncul. Ada tax holday atau insentif yang diberikan pemerintah untuk barang impor dan bidang renewable

energy ini, termasuk turbin. Jadi produk Indonesia akan lebih mahal dari produk turbin impor. Ini akan mematikan produsen dalam negeri dari segi industri.

Setelah pembicaraan ini, apakah langkah Anda menjadi lebih lancar?

Ada beberapa hambatan. Kendalanya adalah ketidakpercayaan market terhadap produksi kami. Pasalnya, turbin kami belum memiliki kualitas yang bisa dibuktikan. Kebetulan kami memiliki nilai lebih. Holding perusahaan kami juga merupakan developer mini hidro. Kami membuat deklarasi, semua proyek-proyek

“Kendalanya Adalah Ketidakpercayaan market Terhadap Produksi Kami.”

pembangkit listrik yang kami tangani akan memakai turbin bikinan Indonesia (melalui PT Hidro Turbin Indonesia).

Hal lain yang memprihatinkan adalah soal funding. Ada keengganan pihak bank untuk membiayai proyek yang menggunakan turbin buatan Indonesia. Mungkin dari segi bisnis kami bisa memahami, apalagi uang yang dipinjamkan oleh bank harus dikembalikan. Kekhawatiran mereka adalah pembangkit dengan turbin buatan Indonesia tidak berhasil dan kami akan kesulitan mengembalikan pinjaman bank.

Bagaimana Anda meyakinkan mereka?

Saya memberi ilustrasi ke pihak bank. Setelah kami mengajukan peminjaman uang, bank akan menerbikan LC (Letter of Credit) untuk membeli turbin. Kemudian uangnya saya berikan ke manufaktur turbin, manufaktur itu kemudian berutang pada bank yang sama untuk membiayai pembuatan turbin/modal kerja atau modal usaha. Jadi sebenarnya aman, karena uangnya berputar dan kembali pada bank yang sama. Akhirnya mereka setuju dan proyek ini pun berjalan.

Tapi apa semua itu cukup berhenti pada ketersediaan funding saja?

Kami sedang mencoba memegaruhi

policy maker, dalam hal ini pemerintah untuk mengeluarkan peraturan yang ramah industri lokal. Kami tidak ingin dianakemaskan, tetapi jika tidak memberikan priviledge kepada industri lokal, maka kami akan susah untuk maju. Lagi pula, negara mana sih yang tidak memproteksi produksi dalam negeri mereka? Bahkan Amerika Serikat (AS) juga melakukannya.

Caranya bagaimana?

Membedakan harga bagi mereka yang membeli listrik dari pembangkit listrik dengan turbin lokal. Misalkan, ada pembangkit listrik dengan komponen lokal, maka harga beli per KWH 1.000 rupiah, tetapi jika memakai komponen luar negeri, pajaknya akan lebih mahal dan harga jualnya menjadi lebih rendah.

Kenapa belum terwujud, apa kendalanya?

Peraturan ini tidak bisa dibuat oleh satu departemen. Mereka harus membuat peraturan menteri bersama.

Mengapa tidak melakukan pendekatan ke Presiden?

Ikatan alumni ITB sudah melakukan ini dan sudah dibentuk satgas khusus atas petunjuk Presiden. Apalagi ini menyangkut kemandirian lokal. Selain itu, perlu dilakukan re-industrialisasi, sehingga memperkuat kemampuan lokal. Jika semua ini dijadikan satu gerakan nasional, maka akan sangat bagus. Tidak hanya pada bidang pembangkit listrik, namun semua industri buatan dalam negeri.

Di Ikatan Alumni ITB, kami menyebutnya ‘Indonesianisme’, yakni suatu gerakan memprioritaskan barang produksi Indonesia. Prioritas kedua adalah membeli barang yang dimanufaktur di Indonesia. Intinya, semua yang memiliki nilai tambah untuk Indonesia diutamakan, daripada membeli produk impor.

Berapa besar potensi kita di bidang energi baru terbarukan?

Potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia sangatlah besar. Kita berbicara tentang program Presiden Joko Widodo yang menargetkan Indonesia mampu memproduksi 35 ribu megawatt (MW), EBT hanya berkontribusi 7-9 persen dari seluruh produksi listrik di Indonesia. Targetnya, pada 2025 kontribusi EBT mencapai 24 persen.

Jika kita berbicara lebih spesifik ke pembangkin tenaga air, dari 35 ribu MW, baru 5.000 MW saja kapasitas yang sudah terpasang. Sangat kecil. Tetapi potensinya sangat besar. Ini yang sebenarnya harus dimaksimalkan, karena perusahaan asing sangat aware terhadap potensi ini.

Ini tentu membuat mereka mencari celah untuk berdagang di sektor itu, bukan?

Mereka sekarang berbondong-bondong masuk ke celah-celah kecil ini. Kenapa? Karena peraturannya jelas, harganya jelas, mereka tidak perlu bernegosiasi. Korporat besar juga masuk dalam bisnis ini. Ada dua perusahaan besar yang bermain di segmen ini. Tamaris Energi dan Medco. Daripada membuat satu pembangkit listrik tenaga air yang besar, mereka membangun banyak pembangkit listrik kecil Artinya bisnis ini menjanjikan.

Seberapa besar nilainya?

Kurang lebih U$250 Juta. Jika kita tidak siap, maka semua ini akan melayang ke luar. Porsi ini besar, sehingga kita harus melakukan sesuatu. Inilah pula mengapa perusahaan besar turut terjun dan bermain di segmen mini hidro. Bahkan, perusahaan saya sudah ditawar oleh perusahaan-perusahaan besar. Kita harus membuat Indonesia mampu menguasai bidang tersebut. Sehingga pada akhirnya membawa keuntungan yang lebih besar bagi negara kita

“Kami TIDAK ingin dianak emaskan, TETAPI jika TIDAK memberikan Priviledge KEPADA industri lokal, MAKA Kami AKAN susah untuk maju.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.