An Artful And meaningful statement

Keunikan ekshibisi seni berbasis interaksi.

Esquire (Indonesia) - - Insight - Teks: Kenia agha

Ketika memasuki sebuah ruang galeri seni, seorang pengunjung biasanya membayangkan karya-karya yang tertata rapi sebagai refleksi pemikiran-pemikiran seorang seniman. Namun, tidak begitu halnya dengan Mutual Unknown, pameran yang diselenggarakan bulan lalu di Galeri Nasional Indonesia. Acara ini menarik perhatian karena berusaha menghubungkan interaksi antara seniman dan pengunjung lewat konsep studio terbuka sehingga sebuah karya seni bisa tercipta.

Pameran seni eksperimental ini diikuti seniman-seniman muda Asia Tenggara anggota Curatorslab yang memiliki misi mendukung praktik kuratorial di Asia Tenggara. Acara ini turut didukung penuh oleh Goethe-institut, Galeri Nasional Indonesia serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan tujuan mengikat hubungan baik antara lembaga budaya pemerintah Indonesia dengan pusat kebudayaan di Indonesia.

Para seniman mempertanyakan bagaimana sebuah proyek seni berskala regional dapat memicu usaha pembentukan jejaring yang berkelanjutan. Pertanyaan khusus yang diutarakan terkait pada kegelisahan mengenai batas dan kendala antara pelaku seniman di Asia Tenggara. Apakah dengan pekembangan teknologi yang ada, perbedaan kebudayaan dan bahasa masih menjadi kendala?

Melihat permasalahan ini, perhelatan Mutual Unknown sengaja mengusung bentuk pameran bersifat laboratorium, tidak bersifat tematik. Oleh karena itu, tidak ada karya yang sudah selesai pada awal pembukaan pameran. Mutual Unknown menghadirkan karya dari seniman-seniman di Asia Tenggara, antara lain Azam Aris (Malaysia), Fajar Abdi (Indonesia), Nuttapon Sawasdee (Thailand), Thuy Tien Nguyen (Vietnam), Tan Vatey (Kamboja), Renz Lee (Filipina), Kaung Myat Thu (Myanmar), Leonard Nard (Singapura), dan Noy Xayatham (Laos). Pameran ini juga melibatkan 3 kurator, yaitu Henry Tan (Thailand), Sally Texania (Indonesia), dan Rifandy Priatna (Indonesia).

Pameran ini tidak hanya hendak membuat pemberontakan atau bentuk baru di ruang seni rupa, tapi juga berusaha membentuk kepercayaan pada komunikasi, interaksi, dan dialog dalam proses pembuatan karya seni agar bermanfaat bagi seniman dan

audiensnya. Di sinilah, sebuah interaksi, dan hubungan antara sesama manusia bisa terjadi. Pengalaman para seniman diuji. Mereka juga ditantang untuk me n g interpretasi kan karyanya melalui sebuah dialog secara langsung dengan publik serta kurator. Pameran Mutual Unknown hadir dengan alasan bahwa kehidupan keseharian pada masa kini sangat erat dengan perkembangan teknologi yang kerap mengalami percepatan. Ahli teori budaya Paul Vilio pernah berpendapat soal percepatan, bahwa kuantifikasi kekuatan berperang tidak hanya menyangkut masalah logistik tetapi juga kemampuan dalam mengatur kecepatan yang kemudian turut dipraktikkan di sini. Pada akhirnya, pengayaan bersama ini terjalin dari sebuah relasi manusia yang bertetangga demi mencapai sebuah tujuan dalam kurun waktu terbatas, dan telah menjadi awal atau jawaban pengayaan dari apa yang menjadi permasalahan dan perhatian generasi seniman muda di Asia Tenggara.

“Dengan digelarnya pameran ini, diharapkan para seniman di Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang menekuni berbagai media karya rupa, bisa bertukar gagasan dan pengalaman sehingga dapat memperkaya pengetahuan sebagai bekal di masa depan untuk bereksplorasi dalam menciptakan karya-karya rupa yang orisinal, berciri khas, bahkan spektakuler,” ucap Tubagus Andre Sukmana, Kepala Galeri Nasional Indonesia.

“Bagi publik, perhelatan ini menjadi ruang untuk berdiskusi dan memperoleh inspirasi serta motivasi dari proses kreatif peserta pameran. Ajang ini juga memberikan kesempatan pada publik untuk terus mengasah dan meningkatkan daya berpikir, khususnya di bidang seni rupa,” tambahnya.

Interaksi yang dilakukan publik menciptakan gagasan baru yang bisa mempengaruhi proses dan hasil karya para perupa. Seniman Azam Aris dari Malaysia misalnya menggambarkan sebuah pemetaan visual yang mencoba menginterpretasikan permasalahan antara dua bahasa, yaitu Indonesia dan Malaysia. Menurutnya, ada perbedaan makna dalam tulisan maupun pengucapan. Mural yang ia buat didasarkan pada letak geografis. Pemetaannya lebih berdasarkan pengalamannya mengalami berbagai percakapan dan pembacaan kata yang terasa asing walau berakar dari rumpun bahasa yang sama.

Thuy Tien Nguyen (Vietnam) justru tertarik pada pola konsumsi harian mie instan yang memiliki kekuatan adiktif di Indonesia dan negaranya. Karya yang ia tampilkan berupa parfum beraroma mie instan, tanah dengan bibit mie, dan balok mie instan sebagai simbol ketergantungan terhadap mie instan. Ia menjelaskan, meski kedua negara ini merupakan negara agraris penghasil beras, namun banyak masyarakat bergeser kepada konsumsi mie instan sebagai bahan pokok.

Selain kedua seniman ini, Rez Lee dari Filipina menciptakan mural yang mengeksplorasi era 1970-an sebagai periode penting saat negara-negara Asia Tenggara bergelut dengan sejarah gelap. Pengolahannya terhadap studi komparatif, percampuran fakta dan fiksi menjadi media untuk mendiskusikan sejarah-sejarah yang pernah dituliskan demi mengatasi krisis di negara-negara Asia Tenggara.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.