ITANG YUNASZ

(Perancang Busana, 59)

Esquire (Indonesia) - - What I've Learned - TEKS: Reza erlangga FOTO: Insan OBI

Menjadi perancang busana yang baik adalah gift dari Tuhan. Jika seorang fashion designer awalnya tidak memiliki ide yang cemerlang namun dia suka membuat gambar, dapat membuat pola pakaian, dan bisa menjahit, semua itu akan menjadi nilai tambah untuk menjadi seorang perancang busana yang baik.

Letupan ide-ide segar akan membuat seorang fashion designer menjadi trendsetter. Sisi bisnis fashion juga sangat penting untuk dipelajari dan dikuasai oleh seorang perancang busana.

Dibutuhkan kedisiplinan dan imajinasi, sehingga bisa menciptakan sesuatu gaya pakaian yang menarik.

Ketika memulai karier sebagai perancang busana, saya tidak pernah lepas dari kertas dan pensil. Saya selalu memanfaatkan waktu untuk menggambar, di manapun, kapanpun. Setiap imajinasi dan ide langsung saya tuangkan ke dalam bentuk gambar untuk kemudian direalisasikan.

Seorang fashion designer dapat saja memulai karier merancang secara otodidak, namun sebaiknya melengkapi kemampuannya dengan belajar di sekolah-sekolah fashion.

Fashion designer itu seperti psikiater; mereka harus memiliki kemampuan untuk berbicara dengan orang lain, meyakinkan konsumen untuk memakai pakaian kita, dan menerima gaya kita. Karya kita belum tentu bisa dipakai semua orang, karena setiap manusia memiliki bentuk badan yang berbeda-beda. Perancang busana harus memikirkan hal ini, jangan sampai konsumen malah menjadi korban mode. Perancang busana tidak boleh salah. Saya bersyukur dapat berkarya selama 35 Tahun. Saya merasa masih dilirik oleh orang banyak, diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk mendirikan perusahaan dengan label-label fashion yang berbeda. Seorang Itang Yunasz menerima masukan-masukan.

Karena belum tentu apa yang saya kreasikan dapat diterima oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, saya membangun tim kuat yang bertugas memberi masukan-masukan dan bekerja sama dengan saya. Saya membangun tim marketing yang solid dan kerap

berembuk tentang kreasi fashion. Ada banyak anak-anak muda yang tumbuh di dunia fashion. Namun, egonya masih terlalu kuat. Ini harus dibarengi dengan kemampuan berbisnis. Pilihlah partner yang tepat. Contohnya, saya bekerjasama dengan seseorang yang jago pemasaran di pasar Tanah Abang dan hingga saat ini bisnis saya terus berkembang. Karya terbaru saya adalah Kabana, busana muslim, dan Itang Yunasz X Gajah Duduk, yakni sebuah label hasil kerja sama dengan produsen sarung Gajah Duduk. Saya terobsesi untuk dapat berada di level yang paling atas, dan memiliki karya yang bisa dipakai semua kalangan.

Dunia fashion itu kejam, namun seorang fashion designer harus dapat bertahan dan meyakinkan semua kalangan untuk menerima karyanya.

Agar mampu bertahan di dunia fashion, 70 persen dari karya seorang desainer harus merupakan busana basic yang cepat terjual. 20 persen membuat pakaian avant garde yang mewakili sentilan-sentilan kreativitas sang desainer. 10 persen yang tersisa untuk membuat karya-karya “gila”, atau luapan kreativitas desainer. Tidak mudah menjadi seorang fashion designer. Mereka harus magang dahulu di tempat desainer seperti Biyan, saya, Ghea, Chossy untuk mencari pengalaman.

Karya Kita Belum tentu Bisa dipakai semua orang, Karena setiap manusia memiliki Bentuk Badan yang Berbeda-beda. Perancang Busana harus memikirkan hal ini, jangan sampai Konsumen malah menjadi Korban mode.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.