solusi bugar kaum urban

bukan sekadar untuk tujuan kesenangan, Olahraga MINI juga Menjanjikan Prestasi.

Esquire (Indonesia) - - Reportase -

Setiap manusia pasti menginginkan hidup yang berkualitas. Itulah mengapa jargon ‘mens sana in corpore sano’ yang tertuang dalam mahakarya sastra Satire X gubahan pujangga Romawi Decimus Iunius Juvenalis ini begitu kuat bergaung sebagai penyemangat manusia dalam meraih kebahagiaan. Ungkapan klasik yang berarti ‘di dalam tubuh kuat terdapat jiwa yang sehat’ tersebut memang identik dengan aktivitas olahraga, yang kita tahu mampu membentuk rasa bahagia dalam hidup manusia.

Bagi pria, olahraga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kultur kehidupan modern. Tidak cuma menyehatkan, olahraga juga bisa menjadi medium yang tepat dalam menjalin jejaring. Sayangnya, rutinitas dan ruang hidup modern yang padat, membuat khalayak kian jauh dari kesempatan untuk berolahraga.

Namun, bukan manusia namanya jika tidak bisa memanfaatkan akal dan pikirannya. Melihat kesibukan yang tinggi serta sedikitnya ruang untuk berolahraga, maka berbagai jenis olahraga versi mini tumbuh dengan pesat. Inilah yang kemudian membentuk tren olahraga mini di kalangan masyarakat di perkotaan.

Olahraga mini adalah bentuk penyesuaian olahraga agar dapat dimainkan di luar ruang (outdoor) dengan keterbatasan lahan. Memang terdapat beberapa perbedaan mendasar pada aturan permainannya, namun tidak sampai mengubah esensi permainan.

Ditilik dari sejarahnya, mengutip dari pembahasan yang pernah dimuat majalah Bloomberg Businessweek Asia di bulan April 2016, olahraga mini yang kian populer di Asia Tenggara banyak berasal dari benua Amerika dan Eropa, terutama dari Amerika Serikat (AS) dan Spanyol.

Dari segi peraturan, tidak ada perbedaan signifikan antara pelaksanaan olahraga mini dan olahraga klasik yang menjadi induknya.

Salah satu olahraga mini yang pesat perkembangannya adalah sepakbola

mini. Dari segi peraturan permainan, sekilas tidak jauh berbeda dengan sepakbola pada umumnya, namun sepakbola mini menghapus peraturan

offside karena keterbatasan ruang. Ruang untuk memainkannya pun tidak besar, yakni berukuran rata-rata 40x60 meter. Lama pertandingannya adalah 2x20 menit dengan masing-masing tim berisikan tujuh orang pemain utama dan bola yang digunakan adalah ukuran nomor 4 (memiliki tingkat pantulan lebih rendah) untuk kenyamanan dalam penerapan taktik oper jarak pendek.

“Lapangan rumput sintetis pada sepakbola mini memberikan tantangan [hambatan laju bola] yang menuntut lebih banyak taktik saat mengolah dan mengoper bola dalam ruang gerak sempit,” jelas Bonsu Hasibuan, Direktur Teknik klub futsal Vamos Mataram. Namun menurut pria yang pernah menjadi kapten timnas street

soccer Indonesia di ajang Homeless World cup 2012 di Mexico city itu, popularitas sepak bola mini masih kalah jauh dengan futsal. Bonsu menyebut dua faktor utama menjadi penyebabnya, yakni masih mahalnya harga sewa lapangan karena kurangnya infrastruktur terkait, dan tren peremajaan gelanggang olahraga (GOR) di beberapa kota oleh pemerintah setempat.

“Satu contoh adalah GOR ciracas di Jakarta Timur yang memiliki animo tinggi meskipun daftar antrenya sangat panjang, yakni bahkan bisa menunggu dua bulan lamanya sebelum benar-benar bermain bola di lapangan rumput,” tambah Bonsu seraya menyebut harga sewa lapangan GOR tidak berbeda jauh dengan lapangan sepak bola mini. “Pengalaman bermain sepak bola di lapangan rumput dengan ukuran lapangan profesional adalah daya tarik utama,” lanjut Bonsu.

Lain cerita lagi bagi beberapa olahraga mini yang telah lebih dahulu eksis, seperti golf mini. Anda tentu pernah mendengar nama Putt-putt Golf & Games yang berlokasi di Pintu 9, kawasan Gelora Bung karno (GBK). Meskipun sementara tengah ditutup terkait proyek renovasi GBK dalam menyambut ajang Asian Games 2018, namun lokasi terkait begitu membekas di benak masyarakat sebagai pionir olahraga golf mini di Indonesia, khususnya di kawasan Jabodetabek.

kehadiran Putt-putt Golf & Games yang disusul oleh beberapa tempat serupa lainnya mematahkan anggapan bahwa olahraga golf itu mahal. Golf mini menjawab rasa penasaran publik tentang olahraga golf yang terkesan eksklusif. Dengan hanya bermodalkan biaya sewa tidak lebih dari Rp 150 ribu, Anda dapat mencoba berbagai bentuk tantangan memukul bola golf. Berbagai tantangan tersebut dibuat dengan unsur hiburan yang kental sehingga kerap menjadi pilihan alternatif liburan keluarga.

Menariknya, meskipun disukai oleh masyarakat urban, arena golf mini justru banyak dibangun di kawasan hiburan keluarga yang berada di pinggian kota. Hal ini disebabkan persepsi publik Indonesia terhadap golf mini cenderung sebagai hiburan, bukan sebagai bentuk olahraga alternatif. Fakta tersebut pun kemudian dimanfaatkan oleh banyak pelaku bisnis gaya hidup untuk menempatkan golf mini sebagai atraksi hiburan di lokasi-lokasi wisata edutainment.

“Di Indonesia, golf mini memang lebih dianggap sebagai wahana hiburan. Namun, masih ada beberapa orang yang memanfaatkan golf mini sebagai medium untuk mulai mempelajari olahraga golf secara serius,” ujar Junior Marpaung, eksekutif di salah satu perusahaan media yang juga merupakan penggemar olahraga golf.

Menurut Junior, jika dirasa sudah cukup menguasai berbagai tantangan golf mini, Anda dapat melanjutkan permainan di arena driving range sebagai simulasi untuk bermain golf di lapangan sesungguhnya. Masih menurut Junior, rancu menyebut

driving range sebagai bagian dari golf mini, namun jika melihat fungsinya, bentuk adaptasi olahraga golf profesional ini dapat menjembatani orang awam untuk memasuki bentuk permainan terkait yang lebih profesional. Bisa dikatakan golf mini dan driving

range adalah medium bagi pemula untuk belajar golf.

Beralih ke mini racing. Dahulu (era 70-80-an), motor mini sempat menjadi tren di berbagai wilayah di Indonesia. Menyerupai motor balap pada umumnya dengan unsur-unsur utama yang terdiri dari rangka motor Delta Box, mesin dua

Seluruh olahraga mini yang kian marak dimainkan oleh kaum urban, tidak lepas dari spirit kompetisi dan memiliki jenjang mulai dari amatir hingga profesional.

tak, hingga fairing terbuat dari fiber glass, membuat motor mini menarik perhatian. Namun, saat itu motor mini hanya sekedar pelengkap gaya hidup saja dan tidak dijadikan balapan serius.

Popularitas motor mini ini bahkan diabadikan dalam sebuah film Warkop DKI berjudul chips yang dirilis pada tahun 1982. “Saat itu motor-motor kecil ini disebut motor Dandy. Tidak untuk kompetisi, namun hanya dipakai untuk gaya-gayaan saja,” sebut Heru Nugroho, pembalap yang kini aktif menyo sialisasikan pentingnya balapan motor mini sebagai ajang pembibitan pembalap masa depan Indonesia.

Berbeda dengan golf mini, sepakbola mini dan balapan motor mini memiliki jenjang prestasi hingga ke tingkat profesional. Pada tahun 2010, balapan motor-motor mini mulai ramai diadakan di Indonesia dan disebut sebagai Minigp. karena memiliki dimensi yang kecil, maka balapan motor mini bisa digelar di mana saja, mulai dari lapangan parkir hingga sirkuit kecil Sentul yang biasa dimanfaatkan untuk menggelar ajang gokart.

Jika kita tarik benang merahnya, balapan motor mini bermula di AS dan Eropa. Di AS, karena sifat balapan yang sangat kompetitif, balapan motor mini kerap dimanfaatkan sebagai ajang pembibitan calon pembalap masa depan. Tak berlebihan jika kemudian balapan ini berguna bagi anak-anak atau pemula yang ingin memulai karirnya di ajang balap.

“Di Spanyol, Jepang, Italia, hingga Amerika Serikat, Minigp sangat populer sebagai penghasil pembalap-pembalap berkualitas. contohnya adalah Marc Marquez dan Valentino Rossi,” sebut Heru Nugroho atau yang dikenal sebagai Heru Ucil, seorang pembalap yang aktif di ajang road race di Indonesia.

Motor yang mereka gunakan adalah miniatur superbike berkubikasi 40-50 cc yang mampu menghasilkan tenaga maksimal hingga 14 tenaga kuda. Harga motornya mulai dari $200 hingga $3.000. Untuk perlengkapan balapan yang terdiri dari baju balap hingga helm berkisar $1.000. Di Indonesia tidak jauh berbeda. Harga motor mini berkapasitas 49 cc mulai dari Rp2,75 juta hingga Rp3,5 juta. “Jika ditotal untuk modifikasi motor bisa mencapai Rp8 juta,” tambah Heru.

kini, balapan motor mini kian sering digelar di Sirkuit Gokart Sentul dan memperlombakan berbagai macam kelas, mulai dari junior hingga pro, kelas

cornering dan kelas open, dan mulai digunakan sebagai pembibitan pembalap pembalap belia di Indonesia. Tetapi tidak ada larangan bagi pembalap-pembalap dewasa untuk ikut serta dalam balapan ini. “Sifatnya sebagai penyemangat bagi anak-anak kecil. Memberikan motivasi bagi mereka sebelum benar-benar dilepas ke sekolah-sekolah balapan,” lanjut Heru.

Sementara untuk sepakbola mini, ada ajang World Mini Football cup sebagai puncak kompetisi yang diadakan sebelum pagelaran Piala konfederasi dan Piala Dunia. Di tingkat Eropa, ada Red Bull Mini Soccer, sementara di Asia ada ajang Asian Freestyle Soccer yang terakhir diadakan Februari 2017 di Taipei. Di Indonesia ada ajang Indonesian Mini Footbal League yang sudah dilaksanakan satu musim pada tahun 2015-2016. Ajang ini dilanjutkan dengan pembentukan Federasi Sepakbola Mini Indonesia.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, seluruh olahraga mini yang kian marak dimainkan oleh kaum urban, tidak lepas dari spirit kompetisi dan memiliki jenjang mulai dari amatir hingga profesional. Tujuannya tidak hanya sebagai oase pelepas dahaga berolahraga dan bersosialisasi selepas tenggelam dalam kesibukan sehari-hari, namun juga sebagai ajang pembibitan atlet masa depan di Indonesia. Sehingga pada akhirnya, negara kita tidak tertinggal dari negara-negara lain di dunia.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.