Warna-warni Pasar Seni Jakarta

MENGAMATI PERKEMBANGAN RANAH SENI GLOBAL LEWAT SEBUAH GELARAN BESAR YANG BERLANGSUNG DI IBUKOTA.

Esquire (Indonesia) - - Insight -

Setelah berjalan 9 tahun, Art Jakarta yang dahulu dikenal dengan Bazaar Art Jakarta, meneruskan kiprahnya dengan pameran yang menggabungkan 53 galeri seni kelas dunia dan lokal dalam satu atap beberapa bulan lalu di Grand Ballroom The Ritz Carlton Jakarta, Pacific Place. Disponsori oleh Pacific Place Jakarta, BEKRAF, AQUA Reflections, Samsung Galaxy Tab S3, Samsung The Frame, L’occitane, dan Bakti Budaya Djarum Foundation, perhelatan seni Indonesia yang menggabungkan elemen

fashion dan lifestyle ini, mendatangkan hampir 45% peminat seni dibandingkan dua tahun lalu dan angka transaksi meningkat hingga dua kali di tahun 2016. Hal ini menunjukkan sumbangsihnya dalam meningkatkan apresiasi seni dan memperkuat posisi Indonesia dalam peta seni Asia dan dunia.

“Kami percaya bahwa seni adalah elemen penting negeri ini. Berkat perhelatanperhelatan senirupa, termasuk Art Jakarta, pencinta dan kolektor senirupa bertumbuh dan berkembang. Selama 9 tahun, Art Jakarta hadir secara konsisten, menyajikan sebuah

art fair premium berkelas internasional dengan memasukkan unsur gaya hidup di dalamnya. Itu yang membuat Art Jakarta berbeda,” ucap Ria Lirungan, Editor-in-chief dari Harper’s Bazaar Indonesia & Deputy

Head of committee Art Jakarta 2017. Berbagai karya yang dipamerkan di Art Jakarta telah memanjakan visual penggemar seni melalui 1500 karyanya dari Indonesia, Singapura, Filipina, Malaysia, dan Yunani. Galeri menarik lainnya adalah dari Sotheby’s, Pearl Lam Galleries dan Gnani Arts yang turut berperan memamerkan suguhan maestronya. Dipamerkan pula kepingan visual art dari desainer kawakan Indonesia seperti Anton Ismael, Muhammad Taufik (EMTE), Fajar P. Domingo, dan Tatiana Romanova Surya. Sedangkan karya desainer Patrick Owen diterjemhakan dalam bentuk sulaman di atas kain transparan yang kontras.

Seni pertunjukan yang ditampilkan tahun ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation. Pertunjukan Wayang Potehi dari Sanggar Rumah Cinta Wayang (Rumah Cinwa) ini, bercerita tentang pewayangan legenda Tiongkok berusia lebih dari 3000 tahun yang mengangkat cerita Hwan Le Hwa: Sang Pendekar Perempuan.

Selain mempersembahkan karyakarya premium, sebuah program baru

dihadirkan melalui Video Art Competition dan BEKRAF Emerging Artists dengan merangkul kaum millenial yang familiar dengan teknologi. Kompetisi video seni ini merupakan 10 karya terbaik anak bangsa dalam bentuk gambar bergerak dengan media visual dan audio yang dapat dinikmati di Theater Room. Sedangkan BEKRAF Emerging Artists merupakan ruang untuk seniman Indonesia untuk memamerkan dan menjual karyanya dalam bentuk fotografi, lukisan ataupun instalasi. “Peran BEKRAF pada umumnya fokus pada pengembangan ekonomi kreatif yang terbagi dalam 16 sub sektor. Salah satunya untuk mendukung hadirnya para seniman baru untuk berkarya di Art Jakarta dengan memberikan pembiayaan terhadap sewa lahan serta konstruksi pameran. BEKRAF juga bekerja sama dengan pihak penyelenggara melakukan serta kurasi dengan menunjuk Rifky “Goro” Efendy sebagai kurator,” jelas Joshua Mulia Simanjuntak, Marketing Deputy, Indonesia Creative Economy Agency (BEKRAF).

Kepedulian masyarakat terhadap seni juga diperlihatkan di Art Charity Auction yang hasilnya didonasikan kepada Yayasan Mitra Museum Jakarta dan Jakarta Contemporary Ceramics Biennale Foundation. Samsung Galaxy Tab S3, kulkas retro Modena, piring keramik Zen Fine Porcelain, skateboard serta sneakers (Adidas dan Converse) sentuhan seniman pun telah dilelang dengan sukses.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.