Pemberdayaan Ekonomi Umat

DEMI PEMERATAAN EKONOMI DI INDONESIA.

Esquire (Indonesia) - - Insight -

Sejarah pernah mencatat kejayaan ekonomi Islam selepas hijrahnya Rasulullah SAW, dari Mekkah menuju Madinah. Dikutip dari esai karya M. Taufik, SE yang berjudul “Sistem Perekonomian Pada Masa Permerintahan Nabi Muhammad SAW”, disebutkan saat itu Rasulullah menerapkan dasar-dasar sistem keuangan negara sehingga Madinah bisa berkembang dengan sangat pesat dalam waktu yang juga singkat.

Pemerintahan awal Rasulullah di Madinah tergolong sederhana, tetapi telah menunjukkan prinsip-prinsip yang mendasar bagi pengelolaan ekonomi.

Dikarenakan landasan perekonomian yang berdasarkan kitab suci (Al-quran), karakter perekonomian saat itu memiliki komitmen tinggi terhadap etika dan norma, serta perhatiannya terhadap keadilan dan pemerataan kerakyatan. Sumber daya ekonomi pun tidak boleh menumpuk pada seseorang saja melainkan harus terbagi-bagi antar masyarakat (konsep Zakat, Infaq dan lain sebagainya). Hal ini dilakukan agar masalah gap antara si miskin dan si kaya dapat teratasi.

Dalam unsur pendapatan negara (waktu itu Madinah merupakan negara yang masih baru), berasal dari dua sumber utama, yakni Zakat dan Ushr. Keduanya menjadi pilar Islam. Sementara pendapatan sekundernya berasal dari beragam sumber, misalnya zakat fitrah, hewan kurban dan kirafat (denda). Mengatur keuangan dan arus kas, dibentuklah Baitul Mal, yakni lembaga ekonomi atau keuangan Syariah non perbankan yang sifatnya informal yang didirikan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang berbeda dengan lembaga keuangan perbankan dan lembaga keuangan formal lainnya.

Pada masa Rasulullah SAW Baitul Mal terletak di masjid Nabawi yang ketika itu digunakakan sebagai kantor pusat negara serta tempat tinggal Rasulullah. Binatangbinatang yang merupakan harta perbendaharaan negara tidak disimpan di Baitul

Mal akan tetapi binatang- binatang tersebut ditempatkan di padang terbuka. Prinsip-prinsip perekonomian yang disampaikan dalam Al-quran mengenai sistem perekonomian diaplikasikan pada zaman Rasulullah SAW di Madinah. Kebijakan demi kebijakan yang dimulai Rasulullah SAW inipun menjadi bahan pembelajaran dan untuk melanjutkan tongkat estafet perekonomian islam di zaman Khulafaurrasyidin hingga sampai ke titik perekonomian modern seperti sekarang ini.

Lantas apa korelasinya dengan Indonesia? Menurut kami, ilustrasi di atas sepatutnya menyadarkan umat Islam di Indonesia untuk segera bangkit dari ketertinggalan ekonomi. Apalagi Indonesia adalah negara berpenduduk umat Islam terbesar di dunia, dengan populasi melebihi dua ratus juta jiwa. Dari segi jumlah penduduk, umat Islam barang tentu menjadi potensi ekonomi yang sangat menjanjikan. Akan tetapi menurut MUI (Majelis Ulama Indonesia), saat ini umat Islam hanya menjadi obyek atau konsumen saja.

Potensi besar inilah yang melatar belakangi terlaksananya Kongres Ekonomi Umat, April silam di Jakarta. Acara yang diinisiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) bertujuan mulia, yakni mengatasi permasalahan ekonomi yang didera oleh umat Islam di Indonesia.

Hasilnya, terwujudlah tujuh deklarasi umat yang berisi: 1. Menegaskan sistem perekonomian nasional yang adil, merata, dan mandiri dalam mengatasi kesenjangan ekonomi, 2. Mempercepat redistribusi dan optimalisasi sumber daya alam secara arif dan keberlanjutan, 3. Memperkuat sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing tinggi berbasis keunggulan IPTEK, inovasi, dan kewirausahaan, 4. Menggerakkan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menjadi pelaku

usaha utama perekonomian nasional, 5. Mewujudkan mitra sejajar Usaha Besar dengan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam sistem produksi dan pasar terintegrasi, 6. Pengarusutamaan ekonomi syariah dalam perekonomian nasional, tetap dalam bingkai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI, 7. Membentuk Komite Nasional Ekonomi Umat untuk mengawal Arus Baru Perekonomian Indonesia. Lantas apakah dengan keluarnya deklarasi itu, maka permasalahan ekonomi umat akan selesai? Tentu saja tidak, karena dibutuhkan sinergi seluruh umat seperti spirit pembangungan ekonomi di Madinah pada zaman Rasulullah. Kuncinya, adalah semangat untuk saling membantu. Bukankah sebaik-baik umat adalah mereka yang paling bermanfaat bagi lingkungannya? Dengan membantu orang lain, maka spirit keagaamaan yang tertuang di dalam surat Al-maidah 5:2 yang berbunyi “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-nya”.

Konteksnya pada masa sekarang, termasuk membangun UMKM dan koperasi seperti amanat butir keempat dalam 7 Deklarasi Umat. “Termasuk pula dengan mewujudkan mitra sejajar usaha besar dengan koperasi dan UMKM dalam sistem produksi dan pasar terintegrasi,” ucap ujar Azrul, Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat, kepada Liputan6.com Senin (24/4/2017).

Menurut Azrul, saat ini pelaku UMKM kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, padahal mereka adalah yang terbesar di Indonesia. “Karena itu berbagai konsep kita siapkan untuk mengangkat martabat UMKM,” imbuhnya. Jika ketujuh deklarasi tersebut diaplikasikan dengan baik dan tidak menjadi retorika semata, maka bukan tidak mungkin seperti butir ketujuh, Kebangkitan Ekonomi Umat akan mengawal arus baru perekonomian Indonesia dan umat Islam akan menjadi lebih kuat mengejar ketertinggalannya di bidang ekonomi, serta pemerataan ekonomi di Indonesia akan menjadi lebih baik.

Umat Islam Indonesia sebagai mayoritas di negara ini juga harus sadar dan berkewajiban untuk membangun kekuatan ekonomi dan saling membantu antar sesama sesuai spirit ukhuwah Islam (persaudaraan sesama muslim), dan rahmatan lil alamin (menjadi rahmat bagi seru sekalian alam), sehingga kemajuan di bidang ekonomi bisa terwujud dan pada akhirnya mempercepat kemajuan bangsa dan negara.

Kuncinya, adalah semangat untuk saling membantu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.