Tommy Ernawan

Esquire (Indonesia) - - Before We Begin - (mantan crosser nasional, 58)

> Motocross sangat populer di Indonesia. Saya mengenal dunia ini pada 1974 dengan berkompetisi di Karasak, Bandung. Kini lokasi tersebut bernama Bypass. Saat itu saya menjadi siswa kelas dua SMP. > Menjadi crosser tangguh membutuhkan kedisiplinan dan kerja keras. Tidak hanya bakat. Ini saya buktikan ketika meraih posisi kedua di sirkuit Manglayang, Jawa Barat. > Sekarang motocross sudah sangat berbeda. Lebih canggih, lebih bervariasi, sehingga kaderisasi bisa dilakukan sejak usia dini. Dahulu, pengenalan terhadap dunia motocross paling cepat dimulai pada usia belasan, atau saat menginjak bangku SMP. > Pada tahun 1977-1978, beberapa film nasional berhasil membangun kultur bermotor di Indonesia dan meresap ke generasi muda saat itu. Film nasional seperti Ali Topan Anak Jalanan, Sirkuit

Cinta, Sirkuit Kemelut, dan Roda-roda Gila, adalah beberapa contoh yang berhasil menggairahkan demam bermotor di kalangan anak muda. Kini dibutuhkan trigger semacam itu untuk menggairahkan ajang motocross. > Saya pernah melakukan stunt jump melompati 20 mobil Suzuki Carry pada tahun 1988 di Stadion Utama Senayan. Untuk melakukannya dibutuhkan kemampuan fisik prima. Ini kerap dilupakan oleh anak-anak muda. Latihan fisik mendukung performa kita di dunia olahraga.

> Motocross sempat dijadikan salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan sebagai eksibisi di Pekan Olahraga Nasional pada tahun 1983 di Jakarta dan bertempat di sirkuit Pulo Mas. Sayang, saat ini tidak menjadi pertandingan tetap. > Setelah pensiun, saya bersama Hosea Sanjaya, dan A.M. Hendropriyono ingin mewujudkan mimpi Indonesia membangun mobil nasional dengan nama ESEMKA. Kita harus punya pabrik perakitan mobil, dan menghilangkan citra bahwa mobil nasional bukanlah proyek kolusi, korupsi dan nepotisme. Belum berhasil karena belum mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.