. . . LET THE MAN BE BORN!

Dia adalah aktor acara televisi paling Diminati saat ini. rambutnya saja memiliki lebih banyak penggemar Dari kebanyakan aktor lainnya. memasuki musim terakhir game of thrones, KIT HARINGTON menghadapi Dilema: memasuki tahap berikut Dalam kariernya, harus

Esquire (Indonesia) - - Esq Style - Teks: Logan Hill Foto: Norman Jean Roy Adaptasi: Reza Erlangga

Harington tak sabar ingin bercukur dan memotong rambutnya dengan benar. Dia tinggal menyelesaikan pengambilan gambar musim ketujuh dan terakhir dari Game of Thrones di Belfast, Irlandia Utara. Meski demikian, kabar yang meluas menyebut HBO telah memperpanjang kontraknya $ 1,1 juta per episode hingga musim ke-13.

Saat debutnya tahun 2011, serial itu menjadi perjudian besar bagi HBO karena biaya produksinya sangat mahal dengan skala penggunaan CGI sekelas film Hollywood. Debutnya saja menelan dana $5-10 juta, dan menghabiskan $ 60 juta untuk musim pertama, sehingga menjadikan Game

of Thrones (GOT) salah satu serial yang paling mahal dalam sejarah pertelevisian. Film yang diangkat dari novel A

Song of Ice and Fire, karya George R.R, Martin ini, diisi dengan adegan seks (inses), dan kekerasan yang brutal (pengebirian), telah dianggap terlalu mahal, terlalu provokatif, dan juga kompleks untuk layar kaca. Namun, karya Martin belum selesai. Dia telah menerbitkan lima dari tujuh buku yang direncanakan. Tak salah jika menyebut Thrones serial adaptasi tanpa akhir.

Awalnya, perjudian HBO terasa mengecewakan. Hanya 2,2 juta pemirsa menonton episode pertama GOT, setengah dari jumlah pemirsa episode pertama Boardwalk Empire. Promosi dari mulut ke mulut, serta review yang bagus membantu menambah jumlah pemirsa. Tahun 2015, atau di akhir musim kelima, ada delapan juta pemirsa menonton Jon Snow meninggal. Pada saat dia kembali hidup di musim enam, rata - rata 25,1 juta orang di Amerika Serikat menonton setiap episodenya.

Thrones bahkan menjadi serial tv peraih Emmy Awards terbanyak dibandingkan serial fiksi manapun. Film ini meraih 110 nominasi dan 38 kemenangan. Film ini juga menjadi serial yang paling banyak dibajak dengan total 14,4 juta unduhan ilegal untuk akhir musim di tahun 2015.

David Benioff dan D. B. Weiss tahu, Sean Bean karakter penting dalam serial ini akan terbunuh pada akhir tahun musim pertama, dan Jon Snow yang heroik akan menjadi fokus utama. Siapapun pemerannya, harus bisa mewujudkan karakter pria yang mulia dan dipuja, sekaligus sangat mudah dibenci. “Snow adalah peran menantang. Pemerannya harus mampu menjual kedalaman, dan konflik karakternya.” Berbekal peran tentara Perang Dunia I yang terobsesi pada kuda dalam film

War Horse, Harington yang baru berusia 20 tahun, mengikuti audisi Game of Thrones pada tahun 2009. Ketika mendapatkan peran itu, dia masih terdaftar di Royal Central School of Speech and Drama. Mengikuti audisi dengan mata lebam –hasil perkelahian larut malam di Mcdonald’s setelah seseorang menghina wanita yang sedang bersamanya- dan setelah dua kali panggilan kembali, Harington ditawari peran sebagai Snow. Dia langsung menerimanya. “Saya benarbenar sangat beruntung,” bebernya.

Serial ini akhirnya membentuk persahabatan sekaligus “persaingan”. Harington mengerjai Benzoff dan Weiss lebih dari sekali. Dia mencuri ponsel mereka dan mengirim teks yang digambarkan oleh Costar Alfie Allen (Theon Greyjoy), sangat “menjijikkan, tidak menyenangkan, dan konyol.” Produser eksekutif pun turun tangan. Mereka mengirim skrip palsu kepada Harington yang menceritakan wajah Jon Snow rusak oleh api. Mereka menyebut, karena mereka mengatakan kepadanya, “HBO khawatir bahwa perannya semakin mirip dengan Harry Potter.” Ketika berkorespondensi dengan saya, mereka selalu memberi kritikan untuk setiap pujian yang mereka berikan kepada bintangnya. “Dibutuhkan kekuatan karakter yang nyata untuk tidak membuat Kit Harington mengubahmu menjadi bajingan,” tulis mereka, dan Kit mengikuti saran itu.

Namun rekan-rekan Harington tak mau ketinggalan dalam parade olok-olokan itu. Emilia Clarke (Daenerys Targaryen) menyebut, “Amat sulit untuk tidak memuji rambut dan tampangnya yang menarik. Bahkan wig buatan tangan milikku, tidak mampu menyainginya.” Nikolaj Coster-waldau (Jaime Lannister) berujar, “Ada perubahan tingkat nafsu wanita di ruangan saat Kit ada di sana. Ini jelas menjengkelkan bagi semua laki-laki.” Liam Cunningham (Davos Seaworth) menambahkan, “Rambutnya memiliki trailer sendiri.”

Setelah melihat mayat telanjang Snow, seorang aktor berkata, “Dewa macam apa yang memiliki “burung” yang kecil?” Benioff dan Weiss menjelaskan kalimat itu: “Tentu Kit Harington juga punya kelemahan bukan? Tampaknya cukup adil. Dia tampan, berbakat, cerdas, dan sangat tidak mungkin

“thrones bisa Dijadikan banyak metafora, tetapi jika ada satu kebenaran, menurutku mereka yang menginginkan kekuasaan, seharusnya tidak mendapatkannya.”

membencinya. Satu hal yang bisa kita lakukan pada karakternya adalah dengan memberinya “burung” yang kecil. Lalu apa reaksi Harington? “Mereka semua jahat,” keluhnya.

Martin senang melihat buku-bukunya dan bagaimana serial ini digunakan untuk membahas semuanya, mulai dari pemanasan global hingga Donald Trump. Sementara itu, Harington lebih memilih untuk tidak membahas politik Amerika. “Saya percaya pada para ahli,” ujarnya. Namun dia tidak suka Sean Penn memutuskan untuk terlibat di Falklands. “Tidak ada hubungannya dengan Anda, Sean Penn. F#ck

off.” Tetap saja, dia tidak bisa menahan diri. “Saya pikir kepala negara Anda tidak bisa dipercaya,” paparnya.

Memasuki musim ketujuh, resonansi politik Thrones tumbuh semakin kuat. Keluarga kaya yang pamer kekuasaan bertakhta. Pengungsi berimigrasi melalui dinding perbatasan kerajaan. Mantan budak memberontak melawan elite. Harington, pahlawan dengan hati yang murni, bangkit dan terlahir kembali. “Thrones bisa dijadikan banyak metafora, tetapi jika ada satu kebenaran, menurutku mereka yang menginginkan kekuasaan, seharusnya tidak mendapatkannya,” papar Harington. “Jon adalah orang yang harus mendapatkannya karena dia tidak mengejarnya.”

Tumbuhnya kekuatan Jon Snow justru membayangi masa depan karier Harington. Dahulu, bintang TV butuh blockbuster Hollywood untuk membangun karier yang langgeng dan spektakuler. Beberapa dari mereka berhasil (George Clooney setelah ER, Johnny Deep setelah 21 Jump Street); namun, ada pula yang tidak beruntung (Taylor Kitsch

bermain di Friday Night Lights yang belum bersinar setelah bermain di John Carter dan Battleship). Kehidupan sang aktor sudah lama berubahubah, penuh dengan hit dan box-office. Hari ini, mereka juga harus menghadapi pergeseran ke arah streaming dan penonton global yang telah mengguncang aspek dasar bagaimana cara menjadi seorang selebritas.

Contohnya, Harington hanya perlu melihat Imdb-nya: Dia membintangi beberapa film di antara shooting Game of Thrones, tetapi gagal: tahun 2012 dalam sekuel horor Silent Hill: Revelation; Pompeii pada tahun 2014; dan MI-5 film

thriller mata-mata yang mudah dilupakan pada tahun 2015; serta film fiksi generik Seventh Son. Hanya di dalam film Testament

of Youth (2015) saja Harington tampil memesona. Proyek nonfilmnya membuat Harington bisa melenturkan rangkaian otot keaktorannya. Seperti saat menjadi lawan main Andy Samberg di 7 Days in Hell, sebuah

slapstick tenis yang tayang di HBO tahun 2015. Akhir tahun lalu, dia juga bermain dalam Doctor Faustus.

Di film berikutnya, Harington bermain sebagai Xavier Dolan, dalam film The Death and Life of John F. Donovan. Bermain bersama Jessica Chastain dan Natalie Portman, Harington berperan sebagai seorang aktor televisi yang terkenal, dan mudah tergoda wanita. “Donovan adalah wartawan gay yang dimainkan oleh Chastain, membesar-besarkan korespondensi Dolan dengan seorang penggemar di bawah umur sehingga media melukiskannya sebagai seorang pedofilia. Mengambil risiko karier seperti ini –sebuah film indie tentang subyek kontroversial– Harington sedang memanfaatkan kemujurannya. Dia juga akan menjadi wajah dari parfum One for Men lansiran Dolce & Gabbana. Karena Hollywood tidak bisa diprediksi, Harington dengan bijak memanfaatkan kesuksesannya seperti banyak bintang –Clooney, Cruise, Dicaprio– dengan meluncurkan perusahaan sendiri, bernama Thriker Film. Dia, Dan West, bermitra dengan penulis skenario veteran Ronan Bennett membuat Gunpowder, miniseri di BBC. Plotnya bercerita tentang persekongkolan Katolik untuk meledakkan DPRD dan membunuh Raja pada tahun 1605. Sekarang peristiwa itu dirayakan sebagai hari Guy Fakes dengan pesta kembang api. Meskipun tanggal rilisnya belum diumumkan, Harington akan mulai

shooting setelah dia menyelesaikan Thrones musim ketujuh. Selain menjadi produser eksekutif, Harington akan berperan sebagai Robert Catesby, leluhur jauhnya. Meski begitu, daya tarik proyek itu tidak terletak pada garis keturunan. “Saya tidak punya keterikatan emosional dengan pria itu, sebut Harington. “Serial ini tentang sekelompok orang yang kehilangan hak. Pria yang terdesak keluar dari masyarakat dan dianiaya, sehingga dia menjadi ekstrimis. Cerita ini menceritakan sudut pandang teroris, guna melihat mengapa orang bisa melakukannya, serta memahami apa yang mendorong kegilaan mereka. Apapun yang terjadi, yang pasti dia tidak mengejar penghargaan. “Saya tidak berupaya mendapatkan Oscar,” sebutnya.

Setelah bertahun-tahun berbagi rumah susun di sekitar London bersama West, rekan penulisnya, kini mereka harus berpisah. “Dia pergi dengan pacarnya, dan saya tinggal dengan pacar saya.” Pacar Kit adalah Rose Leslie, rekannya yang bermain di Thrones sebagai Ygritte, yang memerawani Jon Snow di sebuah gua di musim tiga. Saat Snow melakukan

foreplay, dia mengeluh, “Kamu tidak tahu apa-apa, Jon SNOWOOHHH!” Adegan itu kemudian menjadi viral karena dijadikan meme, file gif, dan menjadi ilustrasi dari 26 Hal yang Jon Snow Tidak Ketahui di Buzzfeed.

Adegan seks itu -yang pertama bagi keduanya- diambil di Belfast pada tahun 2012. Apakah itu adalah tanggal kencan pertama mereka? Entahlah, dia begitu melindungi privasinya, bahkan enggan memastikan telah berapa lama mereka bersama. Dia dengan sopan memotong pembicaraan tentang Leslie, “Karena ini adalah hubungan dua pihak, saya tidak bisa berbicara mewakilinya. Tetapi kami sangat bahagia.” Percakapan kami dibumbui dengan getaran ponsel -teks, panggilanyang menuntut perhatian, dan Harington terpaksa menyerah. Akhirnya, dia meminta maaf atas gangguan itu dan menjelaskan sekarang dia dan Leslie memutuskan untuk tinggal bersama, dan perjalanan ini sekaligus menjajaki apakah New York akan menjadi rumah mereka. Mereka berkoordinasi dengan agen real estate untuk mencari apartemen di Manhattan sore ini. Lucunya, dia bersumpah tidak akan menyentuh teleponnya, tetapi terus meliriknya.

Saat saya menghubunginya sebelum cerita ini naik cetak, dia sedang berada di Inggris dan memulai pengambilan gambar Gunpowder. Saya menanyakan soal perburuan rumah; Dia mengatakan mereka tidak jadi tinggal di New York. “Aku adalah orang yang mudah berubah,” katanya. “Sekarang aku mencari rumah di pedesaan Inggris; minggu depan bisa jadi menjadi Florida. Jangan pernah mengingat kata-kataku tentang apa yang sedang saya lakukan!

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.