COFFEE PLEASURE

(Coffee Quality & Marketing Manager Common Grounds Coffee Roasters)

Esquire (Indonesia) - - Sukses - Mikael Jasin

Latar belakang kecintaan mikael Jasin terhadap dunia kopi sempat membawanya ke negeri kanguru untuk mendalami passion-nya tersebut. layaknya ujaran klasik yang pernah digaungkan oleh filsuf Confucius, “pilihlah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan merasa bekerja setiap hari sepanjang hidupmu,” mikael yang saat itu melanjutkan pendidikan di bidang marketing di Rmit university, australia, memutuskan untuk terjun sebagai barista. menghabiskan waktu menimba pengalaman sebagai barista telah mengantarnya dua kali ke posisi runner-up dalam ajang Worlds Coffee in good spirit di tahun 2015 dan 2016. Titian karier dan passion yang dipilihnya ternyata selaras dengan marak perkembangan industri kopi di tanah air.

seperti yang saat ini kita ketahui, perkembangan industri kopi di indonesia semakin masif. kemajuan tersebut dapat diidentikkan dengan mencuatnya ratusan kedai kopi di ibukota. meskipun begitu, tampaknya tidak sulit menemukan minat dan bidang yang ingin digeluti mikael, mengingat Common grounds dikenal sebagai salah satu kedai kopi modern yang cukup menjanjikan terkait servis dan produk. Tidak hanya meninggalkan zona nyaman yang telah membesarkan namanya, Common grounds menjadi pelabuhan karier pertamanya di bidang marketing. Tentu saja, perannya di sini tak hanya sekadar membuat dan berjualan kopi, mikael juga berkontribusi dalam menjanjikan kualitas kumpulan produk yang ditawarkan di sini.

“kami memiliki sembilan store di indonesia yang meliputi Common grounds dan st. ali. peran saya di sini untuk memastikan bahwa semua kopi yang ada sudah memenuhi standar. saya berperan melatih barista-barista yang ada di sini. selain itu, kami juga kerap survey ke beberapa tempat untuk mencari petani kopi terbaik untuk membeli kopi dari mereka.” ungkap pria yang pernah aktif sebagai model ini kepada esquire.

sebagai kepala marketing, mikael tidak menampik bahwa masyarakat di indonesia memiliki selera yang berbeda. oleh karenanya, dia bersama tim bersepakat untuk menyajikan kopi yang beragam. “kalau dulu, kebanyakan specialty coffee shop hanya senang jika dikunjungi pencinta kopi sejati, karena mereka protektif terhadap jenis kopi yang langka dan bagus hanya layak dikonsumsi pencinta kopi sejati. namun, kopi adalah kopi. Baik atau tidaknya bergantung pada peminumnya. kalau mau kasih gula sah-sah saja. kalau mau kopi yang menjanjikan dari daerah tertentu, kami juga sediakan,” tambah mikael. pada akhirnya, mikael ingin kedai kopi yang dinaunginya dapat merangkul semua kelompok tanpa membedakan pencinta kopi atau bukan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.