Abimana Arysatya

DI BALIK RAHASIA HIDUP YANG TIDAK PERNAH TERDUGA, AKAN SELALU ADA HAL LUCU MENYERTAI. BUKAN SEBATAS KELUCUAN YANG MEMBUAHKAN TAWA, NAMUN JUGA MEMBERIKAN MAKNA HIDUP YANG MENDALAM. ABIMANA ARYSATYA BERHASIL MENEMUKAN SISI TERBAIK DARI LUCUNYA KEHIDUPAN YAN

Esquire (Indonesia) - - Before We Begin - teks HAPPY FERDIAN Fotografer Wong SIM

Ia berhasil menemukan sisi terbaik dari lucunya kehidupan yang ia jalani selama ini.

Ketika banyak orang begitu berambisi merencanakan banyak hal untuk meraih sukses, Abimana hanya tersenyum dan memilih menjalani hal terbaik hari ini. Ia sedang tidak acuh dengan sekitarnya. Tidak juga sedang putus asa. Ia hanya melakukan apa yang harus dilakukan sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

“Saya adalah orang yang sedikit berpikir, banyak bertindak,” ujarnya

Banyak keputusan hidupnya diambil secara spontan berdasarkan pemikiran yang terlintas di kepalanya. Seperti ketika ia memutuskan menikah di usia sangat muda, 19 tahun. Hatinya tertambat pada Inong Nidya Ayu, wanita cantik yang tidak sengaja bertemu dengannya sebanyak dua kali sebelum menjalin komunikasi yang lebih intens dan berujung pada pelaminan beberapa waktu setelahnya. Terdengar seperti tindakan nekat ketika mengetahui bahwa kala itu, Abimana tidak memiliki latar belakang keluarga yang harmonis.

“Masa muda saya banyak dihabiskan di jalanan. Saya rindu rumah untuk pulang. Saya berpikir membina keluarga adalah jawaban atas kerinduan tersebut,” jelas

Abimana mengenai alasannya menikah di usia sangat muda.

Abimana tidak berekspektasi banyak setelah resmi berkeluarga. Abimana kala itu adalah sosok yang tidak peduli dengan kehidupan sekitarnya, dan bahkan enggan untuk mengurus dirinya sendiri. Namun, pernikahan memberinya perspektif baru untuk menjalani hidup. Meskipun diakuinya cukup banyak perbedaan pendapat terjadi, namun hal tersebut bukannya membuat kisruh rumah tangga, melainkan kian memperat hubungan di antara keduanya.

“Prinsip saya adalah apa yang menjadi masalah harus diselesaikan saat itu juga,” tegasnya.

Bagi Abi, panggilan akrabnya, permasalahan dalam rumah tangga adalah hal yang wajar terjadi. Justru, menurutnya, masalah itu seharusnya dilihat sebagai instropeksi diri. Abi berpendapat bahwa dua insan yang memutuskan bersatu membentuk biduk rumah tangga, tahu kapasitas masing-masing dan bagaimana hal tersebut mampu mendukung satu sama lain.

“Di awal kan sudah berjanji untuk setia sehidup sehati, masa iya lupa dengan janji itu. Menikah kan salah satu bagian dari pendewasaan diri, jadi tidak perlu lah dibuat drama,” lanjut Abi.

Abi dan keluarga kecilnya bisa jadi merupakan contoh nyata bahwa motivasi hidup itu penting untuk diperhatikan. Jika dulu dirinya mengaku tak acuh dengan banyak hal, semua berubah ketika sudah berkeluarga. Selain berperan sebagai kepala keluarga, Abi juga merasa berkewajiban untuk membentuk memori yang berkesan bagi keluarga yang dibinanya, terutama untuk keempat buah hatinya.

“Selain ingin menciptakan kesan ‘rumah’ yang sesungguhnya kepada anak-anak, saya juga ingin mereka paham proses kehidupan, bahwa orang tua mengasuh anak-anaknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Saya dan istri bisa berperan sebagai orang tua yang tegas, tapi bisa juga menjadi sahabat yang menyenangkan untuk mereka,” ujarnya penuh diplomatis.

Mungkin Anda bertanya, mengapa keseriusan Abimana dalam membentuk ‘rumah’ bagi keluarganya berada di dalam artikel yang berjudul besar ‘Pria Terlucu’. Abimana punya jawaban tersendiri yang mampu membuat Anda mengangguk setuju.

“Hidup ini sejatinya lucu. Orang begitu ambisius mengejar banyak hal, seperti karier besar, kekayaan melimpah, popularitas, dan lain sebagainya. Saya tidak memungkiri bahwa saya pun ingin hidup enak, tapi kembali lagi yang saya

bilang sebelumnya, kebahagiaan batin terkadang sering terlupakan,” senyum kecut sedikit terlihat mengembang di wajahnya.

“Saya pernah kehilangan rumah untuk pulang ketika saya sebenarnya merasa senang berada di jalanan. Hal-hal menarik yang membuat saya senang di luar sana tidak cukup membuat hati saya nyaman. Saya mendapat uang dengan bekerja bersama teman-teman komunitas kreatif di IKJ (Institut Kesenian Jakarta), tapi batin saya meragu. Mungkin orang lain juga merasakan hal yang sama, mereka sukses dan terlihat bahagia, tapi tidak bagi hatinya,” lanjut Abi.

“Saya menyukai film, khususnya kegiatan di balik layar. Saya menikmati segala pekerjaan yang ada di dalamnya, termasuk menjadi yang diarahkan di depan kamera seperti saat ini. Sayangnya kala itu, semangat saya sebenarnya hanya setengah, bahkan bisa jadi lebih kurang. Kembali hadirnya ‘rumah’ membuat semangat saya naik. Saya punya motivasi untuk berkarya. Bukan semata untuk saya, tetapi juga untuk ‘rumah’ saya. Sejak itu saya selalu memacu diri saya menjadi orang yang, katakanlah, ada manfaatnya,” tukasnya dengan mata berbinar.

Bagi Abi, definisi lucu lebih dari sekedar hadirkan tawa bahagia, namun juga ajakan untuk berpikir kritis. Ia tahu bahwa penampilannya sebagai karakter biopik mendiang komedian Wahyu Sardono, alias Dono, di film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!

Part 1 dan Part 2 merupakan sebuah tanggung jawab besar. Selain lawakan pengundang tawa, eksistensi Warkop DKI juga identik dengan kritik sosial, meskipun hal tersebut sedikit disinggung di film remake-nya.

“Memerankan sosok legendaris seperti almarhum Dono dan menyatukan visi humornya dengan karakter Warkop DKI adalah tantangan terbesar saya. Hal serupa juga dirasakan oleh Tora (Sudiro) dan Vino (G. Bastian). Kami tidak

“SAYA ADALAH ORANG YANG SEDIKIT BERPIKIR, BANYAK BERTINDAK.”

hanya berpenampilan semirip mungkin dengan Dono, Kasino, dan Indro, tapi juga berusaha menerjemahkan dengan baik karakter khas mereka (Warkop DKI),” jelas Abi.

“Ibarat menerjemahkan bahasa, jangan sampai apa yang dibaca justru melenceng dari makna pada bahasa aslinya. Karena kami tahu kami tidak bisa sepenuhnya mirip dengan Warkop DKI, kami pun serius mengeksplorasi, mulai dari menonton film-filmnya, bertanya kepada keluarga masing-masing anggota, sampai mempelajari riwayat hidup. Bagaimana mereka pertama kali bertemu, bagaimana mereka membuat ide cerita, seperti itu,” lanjut pria yang berhasil meraih Piala Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) 2017 untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik pada film

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 itu. Sampai pada poin ini, Apakah Anda telah menyadari betapa lucunya Abi? Sedikit kilas balik di awal artikel, Abi menyebut dirinya sempat tidak peduli dengan kehidupan pribadinya. Abi juga menyebut dirinya sebagai sosok yang sedikit berpikir, banyak bertindak. Sempat juga ia mengaku tidak suka dengan sikap ambisius. Padahal jika kita lihat saat ini, Abimana berhasil merangkak naik sebagai salah satu aktor papan atas Indonesia. Filmografi dirinya juga telah mencapai puluhan judul, dan sebagian besar sukses di pasaran. Bukankah itu hasil dari sebuah ambisi?

“Hahahaha, tidak seperti itu. Saya memang tidak suka berpikir panjang, namun saya memiliki motivasi. Inilah yang membuat saya dapat menjadi saya sekarang. Motivasi berbeda dengan ambisi. Jika ambisi terkadang bisa membuat gelap mata, motivasi adalah hal yang berbeda. Motivasi adalah salah satu bentuk tujuan hidup. Saya punya istri dan anak. Saya kepala keluarga, dan peran suami dalam petunjuk dasar keluarga manusia adalah mencari nafkah. Sebuah berkah ketika kenyataannya saya bisa menafkahi keluarga dari hasil kerja yang saya sukai,” sanggahnya panjang lebar.

Keluarga adalah motivasi utamanya. Sepanjang obrolan kami dengannya di sebuah hotel baru di seputaran Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Abi memang selalu menyelipkan cerita tentang keluarganya. Ia berkali-kali mengucap syukur atas kehidupan yang dijalaninya. Ia juga tidak ragu memuji sang istri yang setia menemaninya, meskipun tidak dalam kata-kata romantis.

“Motivasi saya banyak sekali, dan saya tahu cara memilahnya. Namun motivasi terbesar saya hanya satu, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, menjadi orang yang bermanfaat. Lebih tepatnya menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab,” tegas Abi.

Abi memang ingin mengubur kenangan buruk masa lalunya dengan hal positif. Secara terus terang Abi bercerita bahwa dirinya tumbuh sebagai anak laki-laki yang tidak mengenal ayah kandungnya. Baru ketika memasuki usia kepala tiga, ia berkesempatan bertemu dengan ayah biologisnya yang berkebangsaan Spanyol. Tidak hadirnya sosok ayah, disebut Abi, menjadi alasan utama mengapa dirinya dulu lebih banyak di luar rumah, mencari arti hidup di jalanan.

“Terkadang saya berpikir hal ini lucu. Saya tidak merasakan kehadiran sosok ayah, tapi saya ingin menjadi seorang ayah yang selalu mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya hingga dewasa,” kelakar Abi.

“Tapi akhirnya saya menyadari bahwa ketika di jalanan, segala kelucuan hidup ini membuahkan pelajaran penting bagi hidup saya. Bertemu dengan banyak orang yang berbeda karakter, beda latar belakang, ngobrol bareng, saling berbagi informasi kerja, dan banyak lainnya. Karena kehidupan di jalanan membutuhkan survival yang tinggi, jadinya saya perlahan paham apa itu motivasi hidup,” lanjutnya bercerita.

“Saya jadi lebih menghargai proses. Apapun yang saya kerjakan saat ini, saya akan melakukan yang terbaik. Tidak ada ekspektasi lebih selain keyakinan bahwa usaha tidak menyalahi hasil,” tutupnya dengan bijak.

“SAYA PUNYA MOTIVASI UNTUK BERKARYA. BUKAN SEMATA UNTUK SAYA, TETAPI JUGA UNTUK ‘RUMAH’ SAYA.”

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.