Antonio, Lorenzo, Sundari dan Kembang tujuh rupa

Esquire (Indonesia) - - Before We Begin - ROGER SARIN MAU

“Sekarang!” kata Antonio dengan mata memantau. Hati Antonio bergetar keras saat kakinya menyusur pelan merayap melintasi sudut tembok pagar. Sebenarnya, dia sudah berjanji untuk tidak lagi ke tempat itu. Namun cairan penasaran begitu cepat mengalir ke otaknya sehingga memasrahkan tubuhnya berjalan perlahan seperti angin senja saat kegelapan mulai membuncah memerangkap rumah dan pohon yang sesekali bayangannya bergoyang saat tertiup angin. Sundari! Pikiran tentang Sundarilah yang membuat Antonio dan Lorenzo; dua bocah puber itu berlari kecil dengan tenang melintasi dinding pagar rumah walau gelap telah merayap. Ia selalu memakai baju leher rendah dan tembus pandang seperti kelambu yang membuat isi dadanya terlihat seperti ditempeli dua buah semangka segar yang hendak meloncat keluar.

Baju tipis itu membuat lipatan pinggulnya terlihat jelas. Pinggulnya seperti tubuh ular yang menggesek di tanah saat ia berjalan dingin menyusuri pematang sawah. Sungguh liukan yang indah. Apalagi kalau baru pulang dari sungai sehabis mandi. Rambut yang basah serta baju yang lembab membuat lekukan tubuhnya sangat kentara menggairahkan.

“Antonio, sudahlah! Kita harus pulang. Ayah akan mencari kalau saya belum pulang. Bukankah kita sudah berjanji kalau tak boleh datang lagi ke tempat ini? lagipula hari sudah mulai malam,” pinta Lorenzo memecah kesunyian.

“Dasar penakut! Kapan lagi kau akan menikmati pemandangan indah saat senja seperti ini, kalau bukan sekarang?” Bisik Antonio sambil merangkak pelan dan berusaha agar suara mereka tak terdengar.

Lorenzo menyentuh pundak Antonio saat tiba di sudut pagar. Mereka berhenti sejenak, mengatur napas. Lalu, memanjati pagar rumah Sundari sampai ujung kepala dan kedua bola mata mereka bersandar telak di atas pagar. Napas yang tersengal menghunus sunyi malam.

Hampir tiga puluh menit kedua lelaki puber itu berjaga dalam kesunyian. entah apa yang dilakukan Sundari bersama lelaki itu dalam gubuknya.

“Sebentar lagi kita akan melihat Sundari mandi kembang tujuh rupa. Saya penasaran akan kedua tonjolan di dadanya itu. Apa benar dia pakai susuk seperti yang digosipkan ojek-ojek kampung saat mereka di pangkalan?” Antonio berbisik dan memekarkan senyum centil yang keluar dari kuncup bibirnya.

Lorenzo terdiam. Sunyi. tak ada jawaban. Mata mereka melotot seolah meloncat-loncat di atas pagar mencari sosok Sundari kembang seksi di pelataran belakang rumah yang kadang membuat para lelaki lupa akan istrinya.

Sore tadi setelah bermain bola, Antonio mengajak Lorenzo pergi mengintip Sundari lewat pagar belakang rumahnya untuk memastikan bahwa wanita itu memakai susuk dan melakukan ritual mandi kembang tujuh rupa sehingga kecantikannya memancar seperti mentari yang siap menikam mata para lelaki. “Kau tahu kan? semua orang bilang kalau Sundari pakai susuk. Malam ini ada ritual mandi kembang tujuh rupa yang akan dilakukannya, kawan. Kita harus memastikannya. Selama ini, percobaan kita selalu gagal. Saya jamin ini adalah observasi kita yang terakhir.”

Kata-kata Antonio memupuk rasa penasaran pada diri Lorenzo, menebarkan pikiran birahi pada kepalanya. Keadaan masih sunyi. Sundari belum saja muncul. Mata mereka menyisir lebih teliti dan menyebar hingga ke sudut-sudut halaman. Pintu masih terjalin rapat.

Lama terdiam, tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkan Antonio dan Lorenzo dari lamunan mereka. Ada seorang pria yang mengetuk pelan pintu belakang rumah Sundari. Pintu tetap saja membeku. Lalu lelaki itu mengetuknya lagi. Bahkan lebih keras.

“Siapa?” terdengar suara perempuan dari dalam gubuk.

“Itu pasti Sundari!” bisik Antonio ke telinga Lorenzo.

“Saya,” jawab lelaki itu tanpa menyebut namanya.

tak lama kemudian, Sundari berjalan pelan meraih gagang pintu dan membukanya kepada lelaki itu. Mungkin mereka sudah lama saling mengenal. Sebab tanpa menyebut namanya pun Sundari sudah mengenal lelaki itu lewat suaranya.

“Masuk!” Perintah Sundari setelah gagang pintu ditarik. Daunnya membuka sebagian, menampakkan wajah Sundari. Lelaki itu membelakangi Antonio dan Lorenzo.

“Siapa lelaki itu? saya seperti pernah melihatnya.” Bisik Lorenzo penasaran.

“entahlah, saya tidak mengenalnya. yang terpenting bagi kita adalah Sundari. Bukan laki-laki itu.” “tapi saya mengenal lelaki itu.” “Ah, kau tidak saja mau berubah. Selalu berandai-andai. Belum tentu tebakanmu benar kan?” Antonio berkata kepada Lorenzo sambil mengibas kepala Lorenzo.

Lelaki itu melangkah masuk. Gagang pintu didorong dan pintu tertutup rapat. Suasana kembali senyap. Mata Antonio dan Lorenzo terus saja melotot. Mereka berusaha menangkap sosok Sundari dan penasaran terhadap apa yang akan dilakukan Sundari.

Kegelapan dan kensunyian memercikkan api penasaran dalam kepala Antonio dan Lorenzo. Hampir tiga puluh menit kedua lelaki puber itu berjaga dalam kesunyian. entah apa yang dilakukan Sundari bersama lelaki itu dalam gubuknya, mereka pun tak tahu. Namun kecemasan mereka perlahan sirna. Sepotong cahaya memberkas dari dalam rumah Sundari. cahaya itu membentuk sebuah garis lurus. Pintu rumah Sundari dibuka. Sosok lelaki kekar muncul dari balik pintu rumah Sundari sambil membawa sebuah tempayang yang berisi air dan direndami kembangkembang segar. Langkah kakinya perlahan dan bayangan tubuhnya semakin membesar.

Hati kedua bocah itu bergetar. Bagaimana tidak? Jika lelaki itu berbalik, maka ia akan melihat wajah kedua bocah itu dengan mata yang terus melompat di atas pagar rumah Sundari. Kedua bocah itu melihat kesaktian yang dipancarkan dalam diri lelaki tua yang seluruh tubuhnya bahkan wajahnya terbungkus kain hitam.

Lelaki itu kemudian mengeluarkan segala keperluan ritualnya dari dalam saku baju dan celananya. tak lama kemudian, Sundari keluar dari dalam

rumah menyusul lelaki berpakaian serba hitam itu dengan sebuah kain.

Kali ini Sundari tak berpakaian. Hanya sebuah kain yang melilit di tubuhnya seperti saat seorang wanita memakai handuk setelah keluar dari kamar mandi. cahaya lampu dari dalam rumah menyentuh pundak Sundari yang tampak licin.

“tenang Lorenzo, kita tidak boleh bersuara!” bisik Antonio kepada Lorenzo yang mulai ngos-ngosan.

“Duduk!” perintah lelaki itu kepada Sundari yang barusan keluar dari rumah.

Sundari kemudian duduk di hadapan lelaki itu. Mereka duduk bersila saling berhadapan. Saat itu wajah Sundari terlihat jelas oleh kedua bola mata Antonio dan Lorenzo. Lelaki itu tetap membelakangi mereka. Kedua bocah itu dengan sangat hati-hati memperhatikan apa yang dilakukan lelaki itu terhadap Sundari. “Sebentar lagi ritual itu akan dimulai Lorenzo.” “Ah, sudahlah. Kita pulang saja. Perasaan saya tidak enak. yang penting kita sudah melihat Sundari kan? Saya takut kalau terjadi apa-apa,” keluh Lorenzo.

“Dasar bodoh! Kita hampir selesai. Sedikit lagi ritual itu akan dimulai!” bentak Antonio dengan setengah berbisik.

Mata kedua bocah itu tetap memperhatikan apa yang dilakukan lelaki itu terhadap Sundari. Sundari langsung mengulurkan bawaannya dan lelaki itu dengan segera menerimanya. Bungkusan daun sirih itu dibuka. Lelaki itu lalu memilah-milah beberapa jarum emas, menghitungnya lalu menutup kembali bungkusan itu.

Lelaki menimba air dalam tempayan dengan sebuah tempurung kelapa. Air itu diberikan kepada Sundari dan akhirnya Sundari menerimanya dengan lekas. Kemudian lelaki itu membaca sebuah mantra sambil memegang tangan Sundari. “Silakan dihabiskan!” kata lelaki itu kepada Sundari. “terima kasih tuan,” jawab Sundari lalu menyesap minuman itu dengan segera hingga tak bersisa.

Setelah mengembalikan tempurung kelapa kepada lelaki itu, Sundari akhirnya dimandikan dengan air kembang tujuh rupa yang direndam dalam tempayan. Aroma semerbak melayang dan menari hingga mencapai lubang hidung kedua bocah yang sedari tadi mengintip mereka.

tiba-tiba sepasang burung hantu terbang mengitari pelataran rumah Sundari lalu hinggap di atas pohon Kersen tepat di belakang lelaki itu. Kicauannya sangat menakutkan. Lelaki itu tetap saja memandikan Sundari, mengelilingi tubuh Sundari sambil membacakan mantra.

Sundari seperti tak berdaya. tubuhnya seperti setangkai bunga yang layu dihisap mantra lelaki berpakaian serba hitam itu. Kemudian Sundari berdiri dan melepaskan kain yang meliliti tubuhnya.

Kini, Sundari telanjang tanpa seutas benang pun. Mata kedua bocah itu semakin melotot dan batang kemaluan mereka menegak dengan cepat. Kesunyian semakin mencekam. Lelaki itu tetap mengelilingi tubuh Sundari sambil membacakan mantranya.

Sundari berpasrah. Lelaki itu meraba payudara Sundari. tangannya mulai merangkak pelan menyisir seluruh tubuh Sundari dan menekan setiap belahan serta gundukan tubuh Sundari. Kemudian lelaki itu pun melepaskan segala kain yang membungkus tubuhnya hingga lelaki itu telanjang tanpa sebuah penghalang. Sambil memancarkan senyum berahinya, lelaki itu mendekati Sundari. Kemudian ia melumat leher, mulut dan seluruh tubuh Sundari dengan ganas, lalu meniduri Sundari. Mata Antonio dan Lorenzo semakin melotot penasaran ketika melihat lelaki itu membuka kain yang menutupi wajahnya.

“Lo, Lo... Lorenzo, bukannya itu adalah pak Ignatio, ayahmu?” Seketika Antonio dan Lorenzo kaget melihat lelaki itu.

Lorenzo tak menjawab. Kakinya bergetar. Matanya membelalak. Kemudian berlari pergi. Jakarta, 14 Februari 2017

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.