godaan dan Cobaan dari timur

PELUANG DARI TIMUR UNTUK MEMAJUKAN PERKEMBANGAN KAWASAN ASEAN.

Esquire (Indonesia) - - Before We Begin -

ASEAN

atau Association of South East Asia Nations merupakan perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara yang didirikan tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand. ASEAN diprakarsai oleh 5 menteri luar negeri dari wilayah Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina

dan hanya Organisasi Singapura. berjumlah ASEAN lima yang negara pada saja, awalnya sekarang sudah tumbuh berkembang menjadi 10 negara dengan bergabungnya Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja. Menurut Hermawan Kartajaya, salah satu pendiri Philip Kotler Center for ASEAN Marketing. ASEAN merupakan kontinen yang terus tumbuh dan berkembang serta patut diperhitungkan sebagai poros kekuatan baru.

Alasannya mudah saja. Masih menurut Hermawan, ASEAN mewakili 6,2% GDP (Gross Domestic Product) dunia pada tahun 2016, atau hampir dua kali lipat jika dibandingkan tahun 1967 yang hanya mencapai 3,2% GDP dunia. Pada tahun 2016 sejak dimulainya ekonomi tunggal, GDP gabungan negara-negara ASEAN menempati peringkat enam

terbesar dunia dan peringkat tiga di Asia dengan nilai total US$2,55 triliun atau empat kali lebih besar bila dibandingkan pada tahun 1999.

Relatif stabilnya suhu politik di ASEAN, serta posisi strategisnya sebagai hub for plus atau konektor bagi kerjasama dengan negara-negara lainnya membuat dunia internasional ingin menjalin kerjasama lebih luas dengan negara-negara ASEAN. Stabilitas ini juga membuat pertumbuhan ekonomi bertumbuh positif. Indonesia misalnya. Menurut data World Bank, pertumbuhan ekonomi Indonesia bertambah untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, naik menjadi 5.0 persen pada tahun 2016 dari 4,9 persen pada 2015, meski ketidakpastian kebijakan global masih tinggi.

Ingin makmur bersama, negaranegara ASEAN pun membentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) merupakan sebuah sistem yang menuju sebuah kesepakatan dalam mengintegrasikan ekonomi antar negara ASEAN. Itu semua memungkinkan dunia internasional, khususnya partner kerjasama ASEAN di wilayah Asia seperti Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan menjadikan ASEAN sebagai mitra kerjasama yang dapat diandalkan karena stabilitas regional yang berdampak pada keuntungan dalam memperluas pasar.

Lantas apa daya tarik Jepang, Tiongkok dan Korea bagi ASEAN? Menurut Hermawan, ada berbagai aspek yang membuat Jepang menarik bagi ASEAN. Pertama, mereka memiliki etos kerja yang baik, disiplin yang tinggi dalam meningkatkan kualitas dan keandalan produk, serta prinsip

kaizen-nya (semangat untuk membarui diri menuju kesempurnaan). “Tidak hanya itu, saat ini Jepang juga sedang mengembangkan strategi bisnisnya yang berorientasi manufaktur ke jasa,” jelas Hermawan. Bagaimana dengan Tiongkok? Negara ini telah menjadi kekuatan baru dunia.

Emerging super power nation dalam hampir segala hal. “Jika sebelumnya dunia melihat barang-barang made

in china, sekarang justru Tiongkok banyak melakukan investasi pada berbagai bisnis,” beber Hermawan dalam acara ASEAN Summit 2017. “Sementara Korea Selatan merupakan representasi negara yang smart dan kreatif,” imbuh Hermawan yang dikenal sebagai bapak marketing Indonesia. “Korea Selatan memiliki prinsip kerja yang serba cepat atau dikenal sebagai

‘pali-pali’. Merka mampu bekerja keras layaknya Tiongkok namun tetap mempertahankan kualitasnya seperti Jepang,” sambung Hermawan.

Meskipun daya tarik ketiga negara besar di Asia di atas sangat menggoda, namun ada beberapa ancaman yang bisa mengganggu keharmonisan relasi negaranegara di kawasan Asia dan ASEAN, utamanya dalam persoalan keamanan, tenaga kerja, hingga batas wilayah.

“Stabilitas politik ASEAN memang terjadi, namun menurut saya hal itu tidak sepenuhnya benar. Kita menghadapi begitu banyak tantangan politik dan instabilitas keamanan. Kita tentu tahu apa yang sedang terjadi di Myanmar, di Rohingya dan banyak negara ASEAN lainnya,” sebut Philip Jusario Vermonte, Executive Director, CSIS Indonesia. “Ada banyak “hot spots” di wilayah kita. Sebut saja di wilayah selatan Thailand yang bisa saja meledak seperti yang terjadi di Myanmar. Di Indonesia kita juga punya masalah keamanan di Papua, hingga Filipina bagian selatan yang juga sedang membara,” lanjutnya.

Sementara itu, tantangan di regional Asia, tepatnya di Laut China Selatan juga tidak kalah hebatnya. Kita sempat menyaksikan ketegangan antara Tiongkok, dan Filipina. Kemampuan militer Korea Utara dalam mengembangkan rudal balistik mengancam ketentraman kawasan semenanjung Korea, bisa saja berujung pada peperangan yang tidak kita inginkan.

Jadi ASEAN dan Asia tidaklah benarbenar bebas potensi konflik. Akhirnya, dibutuhkan common sense, hingga prinsip mutualisme untuk menjaga semua yang telah dicapai agar pertumbuhan ekonomi multilateral yang ingin dicapai terealisasi.

Relatif stabilnya suhu politik di ASEAN, serta posisi strategisnya sebagai hub for plus atau konektor bagi kerjasama dengan negara-negara lainnya membuat dunia internasional ingin menjalin kerjasama lebih luas dengan negara-negara ASEAN.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.