Pandji Pragiwaksono

Takdir menjadi pelawak, world tour yang kedua, dan lima menit terlama di hidupnya

FHM (Indonesia) - - Contents - INFO LENGKAP JURU BICARA JAKARTA, KLIK JURUBICARA.ID.

Pria multi-talenta yang tur keliling dunia dua kali dan mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik lewat lawakannya di panggung.

Dari semua yang saya lakukan, saya percaya kalau saya dilahirkan untuk menjadi seorang stand-up comedian. Hampir tanpa usaha bagi saya untuk membuat orang-orang tertawa, dan saya bagus akan hal ini. Sangat aneh. Kadang saya bingung kenapa saya bisa melempar lawakan selama 2 jam non-stop di panggung. World tour adalah cita-cita saya dan siapa pun yang berkarya. Bukan hanya senang bisa keliling dunia, tapi yang saya ingin buktikan adalah bahwa ternyata setiap orang bisa mencari uang dari apa yang mereka cintai, dalam hal ini stand-up comedy. Saya ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk membuat karya ketimbang mengkonsumsi apa yang dunia tawarkan. Itu adalah point yang cukup tebal dalam materi Juru Bicara world tour, selain beberapa isu lainnya yang saya bahas. Dari dulu kita tahu bahwa orang Indonesia jago dalam membuat sesuatu, hanya saja selalu mengerjakan pekerjaan orang lain. Jadi tidak banyak hasil karya anak bangsa yang mendunia. Inilah keresahan saya yang sudah cukup lama dan baru sempat saya bahas di Juru Bicara world tour. Dalam dunia ini, memang minoritas yang mengubah keadaan. Segala perubahan berasal dari sekelompok orang yang menginginkan perubahan. Contohnya Kongres Pemuda II. Apa yang mereka lakukan sangat berdampak bagi Indonesia. Jadi bagi saya tidak apa-apa kalau lebih banyak orang yang “nyampah” dibandingkan yang “bergizi”. Saya rasa di negara lain seperti Amerika juga begitu, makanya banyak yang lebih memilih Trump kan? Orang boleh berbicara apa saja tentang saya, walaupun itu negatif. Saya sama sekali tidak akan marah. Kalau saya mencari uang dari beropini, masa orang lain tidak boleh beropini tentang saya? Tidak adil kan? Apapun yang orang bicarakan tentang saya akan saya bela haknya, selama itu tidak melanggar hukum. Kalau orang tersebut sampai menyakiti saya atau keluarga saya, pasti saya akan bereaksi. Saya sama sekali tidak pernah menyesali lelucon yang saya lontarkan di panggung. Tidak seperti yang orang sangka, materi stand-up comedy itu sudah ditulis dan dilatih berulang-ulang. Seperti halnya pembuatan materi Juru Bicara yang memakan waktu hingga 6 bulan, hingga akhirnya saya percaya materi saya dan semuanya disiapkan dengan baik. Tapi walaupun saya menulis sebaik dan sedetail mungkin, atau sebaik mungkin dari sisi niatnya, tetap saja ada orang yang salah tangkap atau punya persepsi yang beda dengan saya. Itu sudah di luar kendali saya. Saya bertanggung jawab atas apa yang saya katakan, tapi bukan atas apa yang mereka mengerti. Menjadi seorang stand-up comedian adalah pekerjaan yang paling menakutkan buat saya. Sampai sekarang saya masih takut tidak lucu di atas panggung, walaupun sudah melakukan pekerjaan ini selama 6 tahun. Menurut saya, pekerjaan stand-up comedian itu serupa dengan cleaning service yang tugasnya membersihkan kaca-kaca gedung tinggi dengan gondola. Seberapa seringnya kamu membersihkan jendela gedung, seberapa bagusnya alat safety kamu dan lain sebagainya, tetap saja risiko jatuh itu pasti ada. Sama halnya dengan stand-up comedy, sebagaimana bagusnya saya menghafal kata per kata, titik komanya, jeda-jedanya, risiko tidak lucu itu tetap ada. Tapi saya selalu ingin menjadi seorang stand-up comedian. Keinginan saya untuk sukses lebih besar daripada ketakutan saya akan gagal. Saya pernah dicerca penonton karena lawakan saya. Kesalahan terbesar saya adalah saat saya melawak di acara penarikan undian nomor urut pemilihan Gubernur Jawa Barat. Di depan 1000 orang, ada massa partai, dan merupakan siaran langsung di salah satu stasiun TV. Singkat cerita, saat itu saya salah ngomong dan lawakan yang saya lontarkan membuat saya dikira pro PKS oleh penonton. Kata pertama yang saya dengar saat itu adalah “Curang!” Tiba-tiba semuanya meneriakkan semua makian yang bisa kalian bayangkan. Stand-up comedy-nya sih hanya lima menit saja, tapi lima menit itu rasanya kiamat. Saat ini menjadi seorang stand-up comedian adalah hal yang terpenting di hidup saya. Tidak hanya membawa rezeki buat saya, tapi bisa membawa peluang bagi saya untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Saya sendiri tidak mau jadi orang yang kaya sekali. Kalau kata Notorious B.I.G., “More money, more problems.” Terutama untuk mereka yang bayar pajak progresif. Hal yang termanis adalah saat dimana orang lain dapat melakukan sesuatu yang berguna buat Indonesia karena mendengar karya saya. Ada satu orang yang mewakili kebahagiaan saya, namanya Citra. Ia adalah orang Indonesia yang tinggal di Jerman, yang ingin membangun bisnisnya, supaya nanti ia punya posisi tawar yang baik untuk menjadi seorang Menteri di Indonesia. Dia bilang kalau sebelumnya dia tidak peduli dengan Indonesia, sampai akhirnya dia menonton stand-up comedy saya. Dan ternyata ada banyak orang seperti Citra di sepanjang rentang karya saya. Rasanya gila! Saya hanya melawak, tapi saya cukup kaget atas dampak lawakan saya terhadap hidup orang-orang. Ayah saya pernah berkata, “Jangan pernah bunuh mimpi kamu yang tidak akan pernah bisa mati. Sekeras-kerasnya kamu pukul, dia cuma akan pingsan. Dan bangun di usia tua kamu dalam bentuk penyesalan.” Saya mau menjalani kehidupan dimana saya bisa bilang saya sudah melakukan apa yang saya mau, dan saya bangga akan hal itu. Tidak ada penyesalan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.