The Gang Of Harry Roesli

Hari Pochang dan Indra Rivai, soal Philosophy Gang dan satirnya lirik ciptaan mendiang Harry Roesli

FHM (Indonesia) - - Contents -

FHM berbincang dengan Hari Pochang dan Indra Rivai soal manggung di Summer 28, ideologi musik, album Philosophy Gang, hingga misteri Lion Records.

Kami bermain satu panggung dengan Guruh Gypsi dan Godbless. Waktu itu kami bermain di Summer 28 di bilangan Pasar Minggu, dan itu layaknya Woodstock Indonesia yang didatangi oleh media yang sempat booming pada waktu itu, Aktuil. Kami bermain dengan alat seadanya dan merasa minder setelah melihat persiapan dari Guruh Gypsi yang memiliki alat-alat impor dari Belanda. Ditambah lagi setelah kami melihat penampilan Godbless yang membuat kami terpana. Pada saat itu, kami merasa bukanlah siapa-siapa ketika menaiki panggung Summer 28 yang dipenuhi dengan musisi-musisi terkenal. Harry Roesli memiliki ideologi sendiri soal musik. Baginya, musik merupakan suatu hal yang mengeluarkan bunyi. Jadi semua benda yang dapat mengeluarkan bunyi, itulah definisi musik sebenarnya. Bahkan ia sempat berkata kalau dering telepon atau bunyi pemantik korek api pun dapat dikategorikan sebagai musik. Tidak heran jika beberapa lagu yang telah kami ciptakan untuk album ini, banyak sekali bunyi-bunyi yang terdengar karena Harry Roesli sangat senang bereksperimen dengan benda atau alat musik yang tidak umum digunakan dalam sebuah band. Album Philosophy Gang dibuat hanya dalam waktu lima hari. Sangat cepat sekali prosesnya waktu kami rekaman dulu. Seluruh materi album dapat rampung tanpa kendala apapun, dan perlu diingat, pada saat itu sekitar awal tahun 70-an, dimana kami belum mengenal proses rekaman secara digital. Mungkin kalau sekarang rekaman lima hari terbilang standar. Waktu itu kami rekaman hanya dengan alat-alat seadanya. Kami sangat senang pada waktu itu ketika ditawari rekaman oleh Lion Records milik Robert Wong Jr. di Singapura, karena ini merupakan rekaman pertama kami. Sebenarnya kami tidak mengetahui ada atau tidaknya Lion Records. Bahkan setelah kami kroscek, Lion Records sebenarnya ada di Amerika, tapi tidak ada sama sekali di Singapura. Mungkin mereka berpikir bahwa orang Indonesia sangat senang jika ditawarkan untuk rekaman di luar negeri pada saat itu. Tetapi kabar yang kami dengar, Lion Records itu memang ada dan dibuat hanya untuk proyek rekaman kami saja. Jadi sampai saat ini, Lion Records masih menjadi sebuah misteri bagi kami. Hanya beberapa lagu kami berlatih sebelum memulai rekaman. Ada beberapa lagu yang kami buat dan latihan dengan sungguh-sungguh, itupun latihan hanya beberapa hari dan kami langsung rekaman, seperti lagu Borobudur atau Peacock Dog. Namun sisanya, kami serahkan saja pada intuisi kami sendiri. Album Philosophy Gang ini layaknya album jamming. Jika kita dengar baik-baik ketujuh lagu yang ada dalam album ini, sebenarnya isinya itu seperti latihan dan jamming, jadi kami seperti sedang berbincang dalam album tersebut. Dan yang perlu diketahui ialah lagu yang ada di dalam album tersebut langsung kami buat selama proses rekaman berlangsung. Entah apa yang ada di benak kami pada saat itu, kami menciptakan musik secara spontan ketika rekaman. Dan itulah yang membuat musik kami beda dari yang lainnya. Sebenarnya pada waktu itu kami ingin bermain musik yang lazim didengarkan pada era 70-an, seperti rock dan blues. Tapi ketika kami telah bergabung dengan Harry Roesli, kami dipacu untuk mempelajari sesuatu hal yang baru kami dengar. Jadi dapat dikatakan kalau kami ini keluar dari jalur mainstream zaman keemasan musik 70-an. Saat itu Harry Roesli memang menginginkan suatu hal yang lain dan kami pun hadir untuk mendukungnya. Sangat berisiko membuat lagu eksperimental di tahun itu. Pertanyaan paling mendasar setelah kami melakukan rekaman pada saat itu ialah, “Siapa yang akan mendengarkan lagu ini?”. Bahkan untuk memikirkan album ini laku atau tidak saja, kami tidak berpikiran sampai ke sana. Dengan pemikiran visioner Harry Roesli, akhirnya kami berpikir bahwa yang penting kami membuat sebuah karya berbeda dari yang lain, dan belum pernah didengar orang sebelumnya. Album Philosophy Gang ini bagaikan cenayang bagi kami. Karena lagu-lagunya yang tidak sesuai zaman, kami berpikir bahwa lagu ini sepertinya bagaikan paranormal yang dapat meramalkan masa depan. Dan kami menganggap bahwa lagu-lagu dalam album ini dapat berlaku di sepanjang zaman. Kami kesulitan menjual album Philosophy Gang di Indonesia. Karena piringan hitam tersebut menumpuk di rumah, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan album tersebut kepada orang-orang terdekat kami. Karena terlalu banyak berbagi, kami sendiri pun sampai tidak memiliki album tersebut. Akhirnya kami membeli album Philosophy Gang dari tangan orang lain dengan harga yang sangat mahal. Setelah itu kami juga menyebarkan album kami di beberapa radio lokal untuk segera disiarkan. Karena penyebaran album di radio, lagu kami mulai dikenal dan menjadi anthem wajib di radio. Senang rasanya lagu kami dikenal banyak orang dan tidak disangka juga banyak yang hapal lagu kami. Pada saat itu lagu yang menjadi anthem adalah Malaria. “Apakah kalian hanya seekor monyet yang dapat bergaya?” Itu merupakan kutipan dari lagu kami yang berjudul Malaria. Lagu-lagu kami memang banyak sekali mengandung lirik yang satir. Saking satirnya, kami tidak mengetahui lagu tersebut digunakan untuk menyindir siapa, karena hanya Harry Roesli-lah yang tahu kemana arah lirik tersebut. Yang jelas lirik ini beliau ciptakan untuk menyinggung persoalan sosial dan politik yang terjadi pada masa itu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.