Music

Mew kembali membuktikan bahwa mereka tidak hanya rumit

FHM (Indonesia) - - Regulars -

Visuals

Skena musik Denmark dapat dikatakan tidak biasa jika dibandingkan skena musik di negara-negara lain. Entah mengapa musisi-musisi Denmark yang memulai karier mereka melalui jalur indie lebih mendulang kesuksesan di kancah internasional, dan Mew adalah salah satunya. Tanpa mengurangi rasa hormat kami, silahkan Anda bandingkan dengan Michael Learns to Rock atau Aqua. Dibentuk pada tahun 1995, Mew yang berulang kali menyebut diri mereka sebagai satu-satunya band indie stadium ini mulai menyita perhatian penggemar musik di seluruh dunia lewat album bertajuk Frengers yang dirilis pada tahun 2003. Awal bertemunya para personil Mew juga memunculkan sebuah cerita tersendiri, pada awalnya mereka tergabung pada saat ingin membuat film mengenai kerusakan lingkungan dan sekaligus membuat ilustrasi musik untuk film tersebut. Film tersebutlah yang menyatukan para personel Mew hingga akhirnya mereka memutuskan untuk terjun juga ke dunia musik. Hingga sekarang, para personil Mew masih tetap dekat dan bahkan terlibat langsung dengan beberapa proyek film dan seni video. Hengkangnya Bo Madsen yang sebelumnya mengisi departemen gitar untuk Mew tampaknya tidak begitu mempengaruhi niatan Jonas Bjerre (vokal), Johan Wohlert (bass) dan Silas Utke Graae Jørgensen (drum) untuk kembali merilis album di tahun 2017 ini. Visuals dapat dikatakan menjadi sebuah respon para personil Mew sendiri terhadap album +- yang mereka rilis pada tahun 2015 silam. Seluruh materi dalam album Visuals ditulis secara spontan pada saat Mew menjalani rangkaian tur dunia untuk album +- dengan maksud untuk menangkap energi dan kreativitas yang muncul pada saat mereka menjalani tur. Alhasil, Visuals menjadi sebuah pengalaman baru bagi para personil Mew setelah sebelumnya mereka mempunyai siklus tetap untuk mulai memproduksi album setelah jeda selama 3 sampai 4 tahun. Selain itu, pada album Visuals ini, Mew memilih untuk memroduseri dan juga mendesain sendiri segala elemen visualnya. Maka tidak menjadi sesuatu yang mengherankan jika album Visuals terdengar jauh lebih sederhana jika dibandingkan album-album Mew sebelumnya pasca Frengers. Dari total 11 lagu yang ditulis oleh Mew pada Visuals, setiap lagunya merepresentasikan bab kecil dari narasi-narasi yang ingin mereka ungkapkan. Hal tersebut jelas sangat bertolak belakang jika dibandingkan kompleksitas album No More Stories... dengan lagu-lagu rumit yang memang dimaksudkan untuk berhubungan satu sama lain hingga akhirnya membuat Mew disebut-sebut sebagai band progressive rock. Visuals lebih tepat dikatakan sebagai sebuah lanjutan dari +- dengan segala impresi yang dimunculkannya. Mew seolah tidak ingin terjebak dalam kerumitan yang telah mereka rajut sebelumnya dan mendapat predikat sebagai dewa rock. Tanpa mengurangi segala kualitas yang telah mereka capai, melalui Visuals semacam tersirat keinginan Mew untuk kembali terjun ke dalam kancah indie rock atau dream-pop. Mungkin hal-hal yang telah disebutkan di atas juga yang menjadi alasan bagi Mew untuk sebelumnya membagikan Carry Me To Safety secara gratis sebagai bagian promo mereka untuk Visuals sebelum dirilis. Sebagai sebuah nomor terakhir, lagu tersebut justru dapat berperan sebagai pembuka dan juga mewakili keseluruhan album Visuals dari berbagai aspek, sebuah kesederhanaan yang tetap cemerlang.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.