Beauty With A Cause

Perkenalkan Katy Johnson, model asal AS yang membuat kita ingin menjadi pria paling humoris sedunia

FHM (Indonesia) - - Contents - TEKS: JESSICA INDAH FOTO: BRIAN B HAYES & 917PR

Perkenalkan, Katy Johnson, seorang model, host, sekaligus aktris berambut pirang asal Amerika Serikat yang siap memberikan dampak positif bagi kita semua. Oh ya, kabar penting lainnya adalah sekarang ini ia berstatus single (lagi).

Kami yakin bahwa perceraiannya dengan atlet rugby, Max Evans, bukanlah kabar baik untuk model seksi berambut pirang ini. Namun kami juga yakin, di dalam hati kecil kita, menghadapi kenyataan bahwa Katy menjadi seorang single lagi adalah sebuah berita suka cita. Katy yang sebelumnya sempat muncul di (almarhum) majalah FHM Inggris, adalah seorang model, host, sekaligus aktris yang sudah malang melintang di dunia entertainment selama kurang lebih 12 tahun. Ia sudah muncul di berbagai majalah pria, menjadi model berbagai iklan komersial, menjadi host dari acara sepakbola tim Skotlandia, berakting di film indie, dan menjadi pemeran pembantu di berbagai serial TV dan film Hollywood. Sekarang ia kembali tampil di FHM dengan proyek baru yang membuat Katy tampak cantik luar dalam di mata kami.

Hai, Katy! Terima kasih sudah mampir di FHM. Apa kabar?

Kabar saya baik sekali, terima kasih! Sangat sibuk tapi saya sangat bersemangat untuk tahun ini!

Apa kamu juga bersemangat untuk menjadi cover girl kami bulan ini?

Lebih dari itu! Saya benar-benar senang, berterima kasih, dan sangat tersanjung... Jadi, terima kasih FHM! Kami dengar kamu sempat mengambil jurusan law enforcement... Sungguhan, Katy? Kamu

terlalu banyak menonton CSI ya? Ada beberapa alasan mengapa saya tertarik dengan bidang itu. Pertama, saya benar-benar tipe orang yang ‘gila kontrol’ dan seperti lainnya yang suka dengan sedikit kekuasaan, jadi saya pikir pekerjaan apa lagi yang cocok selain menjadi seorang anggota polisi? Saya juga tidak suka diperintah untuk melakukan sesuatu, jadi, “Kenapa nggak menjadi seorang polisi?”. Selain itu, saya juga suka menolong dan melindungi orang lain, jadi, sekali lagi, “Kenapa nggak menjadi seorang polisi?”. Dan yang terakhir, sejak kecil saya memiliki obsesi yang agak aneh soal kematian. Lalu...ya, terlalu banyak menonton CSI membuat saya makin ingin mendalaminya dan mempelajari forensik, investigasi pembunuhan, dan teori dari interogasi. Eh, tapi kamu juga sempat muncul di serial CSI, berarti bisa dibilang mimpi jadi kenyataan ya?

Itu benar-benar keren! Walaupun saya hanya mendapat peran kecil, tapi tetap saja. Sungguh menyenangkan bisa berada di lokasi syuting bersama dengan para aktornya dan melihat bagaimana proses syuting, dan lain-lainnya. Ah, sudah kami duga, pasti kamu senang sekali di lokasi syutingnya... Saya melakukan syuting dua kali sebagai pemeran pembantu di episode Halloween. Di situ saya menjadi teman dari anak pemeran utamanya. Waktu itu saya merasa seperti saya berada di sebuah pesta Halloween, setting-annya benarbenar nyata dan “hidup”. Kedua kalinya, saya menjadi stunt untuk korban pembunuhan, jadi mereka harus membuat telinga saya penuh darah dan menusuk kepala saya. Rasanya sangat asyik sekaligus sedikit menyeramkan. Apa ada hal yang lucu selama kamu berakting?

Ketika saya berperan sebagai Rome Sheraton di 2001 Maniacs, Field of Screams, saya mendapat

sebuah adegan yang harus diulang terus dan saya merasa canggung. Entah mengapa saya jadi nggak bisa berhenti tertawa, hingga mereka harus mengulang adegan itu terus-menerus. Awalnya si sutradara sama sekali nggak senang dengan hal itu, tapi semua orang jadi tertawa terbahak-bahak karena mereka nggak tahu alasan kenapa saya tertawa atau menemukan cara agar saya berhenti tertawa. Saya tertawa sampai menangis, ha ha. Mana yang lebih kamu pilih, berperan sebagai seorang psikopat atau membuat reality series lainnya? Hmm... Pertanyaan yang sulit, karena keduanya menyenangkan dengan cara yang berbeda. Sampai sekarang saya masih ingin sekali untuk berperan sebagai zombie di film yang setipe Walking Dead. Setelah 12 tahun bekerja di industri entertainment, apa ada hal yang masih ingin kamu capai? Sejujurnya, saya sudah nggak tertarik lagi dengan ketenaran, selain menggunakannya untuk memberi dampak positif dalam kehidupan dan perubahan positif bagi orang lain. Saya sangat mencintai kehidupan saya hingga akhirnya saya mencapai titik dimana ketenaran dan perhatian yang terus-menerus membuat saya frustasi. Saat ini saya hanya ingin menyelesaikan proyek dokumenter saya, dan saya baru akan benar-benar merasa puas. Saya pikir setiap selebriti harus mengambil keuntungan dari kekuatan suara mereka sebagai public figure. Mereka harus benar-benar melakukan pekerjaan filantropi dan lebih banyak berbicara soal permasalahannya. The Kardashians adalah salah satu contohnya. Kenapa mereka nggak melakukan lebih banyak kegiatan yang positif? Saya jarang melihat mereka melakukan kegiatan amal dan menjadi ambassador dari pergerakan sosial. Bruce Jenner atau Caitlyn sekarang melakukan banyak hal untuk membela hak-hak LGBT, tapi saya merasa dia melakukannya sebagian untuk dirinya sendiri. Lakukan pekerjaan amal karena kamu ingin membuat sebuah perubahan, dan karena kamu punya kekuatan untuk mewujudkannya. Jangan melakukannya hanya untuk diri kamu sendiri atau pencitraan saja. Bisa ceritakan sedikit soal proyek kamu yang selanjutnya?

Saat ini saya mendedikasikan seluruh waktu saya untuk dokumenter saya yang berjudul One Model Mission. Proyek ini sangat memakan waktu karena saya melakukan pekerjaan 10 orang, dan sayangnya itu membuat saya harus merelakan cukup banyak proyek. Caption di akun Instagram kamu cukup lucu, tidak mau menjadi seorang komedian? Saya belajar improvisasi komedi, dan tentu saja saya menyukainya! Jika kalian tanya siapa stand-up comedian favorit saya, maka bagi saya itu adalah pertanyaan yang benarbenar sulit! Saya punya beberapa stand-up

comedian favorit, tapi saya selalu suka dengan Joan Rivers. Dia adalah yang terbaik! Saya harap suatu saat nanti saya juga bisa mendapat beberapa tipe peran komedi, tapi sekarang ini improvisasi komedi membantu saya untuk mewawancarai narasumber, membuat story board, dan menulis untuk proyek One Model Mission. Bagaimana tahun 2017 sejauh ini?

Sejauh ini bagus sekali. Saya mendapat banyak pekerjaan untuk media cetak, publikasi, dan saya akan memulai misi saya, One Model Mission. Jujur saja, saya bisa memperkirakan kalau tahun ini adalah tahun terbaik di hidup saya. Kami baca di FHM Inggris, kamu sempat mengunjungi Indonesia tahun lalu. Oh, ya! Saya benar-benar jatuh cinta dengan Indonesia. Rasanya saya nggak mau pulang, ha ha. Orang-orang di sana menyambut saya dengan baik, membantu saya, tulus, dan saya benar-benar suka belajar segala hal tentang mereka, dan bagaimana mereka bertumbuh. Mereka adalah beberapa orang yang bekerja paling keras yang saya temui, dan saya mengagumi mereka. Ketika saya pergi, saya memeluk semua orang di hotel tempat saya menginap. Pantai dan pemandangan di sana juga sangat indah... Coba kami tebak, kamu mengunjungi Bali kan?

Sebenarnya saya pergi ke Lombok. Sayang sekali waktu itu saya nggak sempat ke Bali.

Selain gigitan dari seekor laba-laba, apa lagi yang kamu kangeni dari Lombok?

Saya kangen sekali dengan masyarakat Lombok, pantainya, dan kelapa yang segar. Ada seorang pria yang memanjat pohon kelapa untuk mengambilkan sebuah kelapa segar untuk saya. Dia manis sekali! Oke, mari kita berimajinasi. Bagaimana kalau gigitan laba-laba yang kamu dapat di Lombok mengubah kamu menjadi Spiderwoman? Sudah pasti saya akan mendapat pekerjaan yang lebih sibuk untuk memerangi kejahatan dan melindungi orang-orang! Sekarang kembali ke realita. Apa kamu membunuh laba-laba itu?

Nggak, saya nggak pernah membunuh makhluk hidup kecuali nyamuk. Itu pun karena mereka membunuh banyak orang ketimbang binatang yang lain, dan rasanya hidup mereka nggak ada gunanya, ha ha. Waktu itu saya hanya membiarkan laba-laba itu berkeliaran di kamar saya dan berharap kalau mereka nggak mengigit saya. Atau, kalau mereka mengigit saya ketika saya tertidur, paling nggak saya nggak melihat prosesnya, ha ha. Tapi sungguh deh, saya nggak membunuh serangga. Kenapa saya harus membunuh mereka juga? Saya tahu kedengarannya bodoh untuk beberapa orang, tapi saya benar-benar berpikir seperti itu. Tanya saja ayah saya, dia pernah membunuh seekor semut besar yang sedang saya ajak bermain di pinggir jalan. Dan setelah 20 tahun kemudian saya masih sedih karena ayah saya membunuh semut yang nggak bersalah itu.

One Mission Model adalah misi kamu yang ditujukan bagi para wanita lainnya untuk mencari arti dari kecantikan yang sejati. Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama untuk pria yang tidak terlalu ganteng seperti kami? Masalahnya adalah wanita itu punya tekanan yang lebih besar soal penampilan luar. Industri kecantikan selalu menawarkan produk-produk mereka kepada kami. Dan semua majalah wanita juga selalu nge-judge penampilan seperti apa yang bagus atau nggak bagus. Saya pikir akan lebih penting untuk memberikan pesan positif untuk para wanita. Kamu bisa saja menjadi seorang pria yang nerdy tapi tetap mendapat pasangan. Saya yakin wanita nggak mementingkan penampilan pria seperti pria mementingkan penampilan wanitanya. Saya sempat berkencan dengan beberapa pria yang nggak termasuk tipe pria ganteng berperut sixpack, tapi mereka bisa membuat saya tertawa setiap hari, dan itu yang lebih saya sukai ketimbang penampilan luarnya saja. Apa yang ada di dalam personaliti seseorang itu adalah yang terpenting. Jadi kamu lebih memilih tipe pria yang humoris?

Tentu saja! Sungguh deh, hal utama yang saya cari dari seorang pria adalah kadar humor yang tinggi dan dia bisa membuat saya tertawa. Saya sama sekali nggak bisa berkencan dengan pria yang nggak humoris, jadi, sebaiknya kalian latihan melucu dari sekarang! Ha ha. Ngomong-ngomong soal lelucon, apakah aman kalau kami melempar lelucon soal seks di pertemuan pertama atau yang ke dua kalinya? Yang pasti nggak di pertemuan pertama. Jangan! Saya pikir kalian harus melihat situasinya juga... Jika lelucon tersebut nggak terlalu vulgar, maka tidak apa-apa untuk melempar lelucon soal seks di pertemuan ke dua. Pokoknya jangan sampai wanita itu berpikir kalau kalian hanya memberikan kode untuk “tidur” bareng. Menurut saya akan lebih baik kalau lelucon soal seks tersebut kamu simpan untuk tahap kencan nantinya. Itu menurut saya, lho... Jadi bisa dibilang lebih mudah bagi pria yang humoris untuk mendapatkan one night stand ketimbang pria yang ganteng? Itu benar-benar tergantung pada apa yang dicari oleh wanita itu sendiri. Sayangnya, ada beberapa wanita yang nggak peduli pada humor dan hanya menginginkan pria yang atraktif, kaya raya, atau seorang pria yang bisa memberikan keuntungan bagi mereka. Berarti kami bisa mengamini omongan kami tadi?

Sebagai wanita yang mempunyai segalanya, jika kamu seorang pria yang ganteng tapi nggak ada kepribadian yang menarik dan nggak humoris, hal itu nggak akan terjadi. Tapi jika kamu pria yang biasa-biasa saja tapi punya personaliti yang baik dan humoris, nah, kamu punya kesempatannya. Saya sendiri nggak terlalu tertarik akan one night stand, saya lebih suka mencari seorang calon pasangan dan melihat apakah saya benar-benar naksir dengannya atau nggak. Bagaimanapun juga, dulu saya “tidur” dengan mantan suami saya di hari kedua setelah kami berkenalan. Itu karena dia memiliki segalanya yang membuat saya jatuh cinta, dan kamu pasti tahu kapan saatnya... Well, oke , mungkin nggak juga sih semenjak dia menjadi mantan saya, tapi saya bisa bilang itu adalah pernikahan yang menyenangkan dan berkesan! FHM

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.