Speech Composer

Eka Gustiwana, bicara soal trending-nya Arya Wiguna serta proyek manggung ‘2 M’

FHM (Indonesia) - - Contents -

Eka Gustiwana, pria kreatif yang sempat dicap aji mumpung, namun handal mengotak-atik video booming di Youtube hingga apiknya aransemen mash-up anime dan sinetron 90-an.

Saya sempat meninggalkan dunia musik selepas SMA. Mungkin karena saya sudah sibuk bekerja, saya tidak pernah menyentuh lagi dengan apa yang berhubungan dengan musik. Namun saya menyadari bahwa ada kekosongan dalam hidup saya, walaupun saya mendapatkan gaji setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya saya merasakan titik balik dalam kehidupan saya. Rasa jenuh yang mendominasi di hidup saya membuat muncul fase seperti ini. Ketika saya bekerja sebagai sales, ada rasa ingin kembali ke dunia musik seperti waktu sekolah dulu. Saya sadar bahwa saya memiliki minat besar di bidang musik. Memang semenjak duduk di bangku SMP, saya sudah bergelut dengan musik, walaupun saya menganggap itu hanya sebagai hobi saja. Tetapi akhirnya saya berpikir, apakah musik dapat menjadi karier yang tepat untuk saya? Saat itu saya sangat ingin menjadi seorang produser musik. Orang tua saya tidak mendukung saya berkarier di bidang seni. Waktu itu saya sudah pernah menyatakan bahwa saya ingin menjadi produser musik, tetapi orang tua saya menginginkan saya untuk bekerja konvensional saja, namanya juga orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Apalagi di Indonesia, memiliki pekerjaan di bidang seni masih dipandang sebelah mata oleh publik jika dilihat dari segi pendapatan seorang seniman. Bercita-cita menjadi produser musik membuat saya memberikan ultimatum kepada orang tua. Keinginan saya untuk terjun di dunia seni, terutama musik, sudah tidak dapat dibendung lagi. Akhirnya saya menawarkan kepada orang tua saya agar diberikan waktu selama 4 tahun untuk mencoba berkarier di bidang musik, dan mereka pun setuju dengan penawaran saya. Tetapi jika saya gagal dalam 4 tahun itu, orang tua saya meminta agar saya bekerja kantoran kembali dan saya pun menyanggupinya. ‘Ngamen’ di kafe pun saya sanggupi. Ini merupakan langkah awal saya di dunia musik, akhirnya saya manggung secara reguler di beberapa kafe di Jakarta. Waktu itu saya memiliki pendapatan sekitar satu jutaan per bulan. Walaupun kecil saya tetap senang karena memang inilah passion saya, menjadi seorang musisi. Saya juga mendapatkan proyek ‘2 M’: ‘’Makasih, mas.’’ Selain memiliki panggung reguler di beberapa kafe, saya pun juga terkadang mengisi di beberapa acara seperti ulang tahun dan event kecil lainnya. Memang saat itu adalah proyek untuk membantu teman, makanya saya tidak dibayar. Tetapi saya melihat sisi yang lain daripada hanya sekadar tidak dibayar, melainkan jam terbang saya mulai banyak. Tidak ada kemajuan dalam karier saya. Akhirnya fase down pun muncul ketika saya merasa kalau saya hanya bermusik di ‘situ-situ’ saja, tidak ada perkembangan sama sekali. Setelah itu saya berpikir dan berusaha keras untuk mencari bagaimana caranya saya keluar dari fase tersebut. Youtube merupakan ‘kendaran’ saya untuk menuju karier yang lebih baik. Saat itu, Youtube sedang booming di Indonesia. Munculnya duo Shinta dan Jojo yang sangat viral pada waktu itu pun juga melalui Youtube. Hal tersebut membuat saya berpikir untuk menciptakan sebuah konten di Youtube, dan pada akhirnya saya memilih untuk membuat lagu dari video Arya Wiguna yang waktu itu sedang heboh-hebohnya kasus Eyang Subur. Tidak ada niatan untuk mebuat video itu viral, namun karena melekat dengan momen yang sedang heboh, video Arya Wiguna berjudul Demi Tuhan pun menjadi trending. Sempat di-cap ‘aji mumpung’ oleh publik. Saya menyadari bahwa hanya dengan satu karya itu belum membuat saya menjadi terkenal, apalagi setelah saya di-cap seperti itu. Harus ada konsistensi dalam membuat konten di Youtube agar label ‘aji mumpung’ itu hilang dari diri saya. Dan itu berujung pada karya saya yang ke dua, Jeremy Teti yang berjudul BBM Campuran. Puji Tuhan, video itu pun akhirnya juga menjadi trending, bahkan banyak orang yang menyanyikan hasil speech compose saya. Bukan hanya speech composing, saya juga membuat beberapa mash-up. Beberapa tahun lalu saya membuat mash-up soundtrack kartun dan sinetron yang hits di tahun 90-an. Saya sangat senang mengerjakannya karena terasa seperti sedang bernostalgia. Saya juga tidak menyangka, setelah mengunggah hasil video mash-up ini, banyak sekali penikmat Youtube yang menginginkan saya untuk membuat video mash-up lagi. Sekarang saya lebih ingin dikenal sebagai produser musik. Sebenarnya anggapan publik soal profesi saya sebagai speech composer itu tidak salah, karena memang saya dikenal karena melakukan hal itu. Akhirnya sekarang saya gencar menciptakan beberapa lagu, lalu saya tampilkan di akhir video yang telah saya unggah di Youtube. Musik adalah bahasa yang paling universal. Terkadang bahasa tidak dapat menjadi perantara untuk berkomunikasi, tetapi musik dapat melakukan itu. Anda dapat berkomunikasi dengan orang manapun hanya dengan musik, karena musik dapat menyampaikan pesan yang ingin kita sampaikan. Dan musik itu ada di mana-mana, Anda hanya perlu mendengarkan dan merasakan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.