Buzz Session

Dari iseng-iseng mencoba software teman, membuat kompilasi, hingga bahasan soal female DJ yang seksi

FHM (Indonesia) - - Regular -

Sejak kapan Anda merintis karir sebagai DJ?

Tepatnya sejak tahun 2004. Berawal dari coba-coba bermain musik digital di komputer yang saya dapat dari software teman. Sejak itu saya mulai berlatih dan mencoba berbagai aransemen. Ternyata keisengan tersebut membuahkan hasil dan sampai sekarang saya menjadi seorang DJ dan fokus pada produksi musik.

Kenapa Anda memilih nama Roni Joni? Apa ada kaitannya dengan Roni Sianturi dan Joni Iskandar?

Ha ha, nama asli sih Roni. Tapi dulu pas main skate punya tim namanya Joni. Akhirnya nama Joni itu saya pakai dan Roni Joni melekat sampai sekarang.

Saat dalam proses produksi musik, apa ada kendala yang paling sering Anda temui?

Kendalanya saat ini hanya waktu dan mood saja. Kebetulan saya punya kesibukan lain selain produksi musik dan nge-dj. Saya sempat ada di dalam fase dimana rasanya sulit sekali mengaransemen musik, dan tidak ada inspirasi sama sekali. Namun saat ini saya sudah bisa mengantisipasi hal itu, karena saya belajar dari pengalaman sebelumnya. Jadi sampai saat ini aman-aman saja, he he.

Menurut Anda apakah setiap DJ harus bisa menghasilkan musik sendiri?

Mungkin untuk awalnya mereka belum harus menghasilkan musik. Dulu, ketika memulai sebagai DJ, saya pun tidak bisa membuat lagu sendiri, jadi hanya me-remix beberapa lagu orang dengan kemampuan yang seadanya. Namun seiring berjalannya waktu serta meningkatnya kemampuan dalam me-remix, akhirnya saya bisa memproduksi musik sendiri. Karena setiap proses adalah pembelajaran.

Sebagai seorang DJ, menurut Anda musik apa yang sedang digilai pecinta EDM saat ini?

Saat ini banyak yang menyukai house, techno, dan trance. Mungkin kalau house di Indonesia kurang begitu diminati. Tapi berbeda dengan luar negeri, musik house sangat diminati oleh anak-anak muda di sana.

Bisa ceritakan pengalaman yang tidak terlupakan ketika main di sebuah club?

Waktu zaman Wonderbar, menurut saya itu adalah best moment-nya. Saat itu masih banyak club dan pencinta musik digital. Nah, salah satu pengalaman berkesannya adalah ketika dulu mengawali karier saya sebagai seorang DJ di club tersebut.

Apakah ada perbedaan selera musik EDM Indonesia dengan luar negeri?

Untuk sekarang ini Indonesia telah meningkatkan kualitas Edm-nya, jadi hampir tidak ada perbedaan, apalagi di kota-kota besar khususnya Jakarta. Bisa dikatakan EDM sudah jadi kebutuhan anakanak ibukota.

Siapa DJ favorit Anda yang ingin sekali Anda ajak untuk main bareng?

Hampir semua DJ favorit saya sudah pernah main bareng di satu deck. Tapi masih ada banyak juga yang belum kesampaian, seperti Eric Prydz, Sahsa, dan Steve Aoki.

Lalu siapa saja yang ingin Anda ajak berkolaborasi?

Saya ingin membuat sebuah kompilasi bersama Winky, LTN, Mahesa Utara, Tim Bourne, dan Formatted.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai female DJ yang hanya menjual keseksian?

Sebenarnya saya kurang setuju dengan hal itu, namun tidak bisa dipungkiri juga banyaknya female DJ yang bermunculan yang hanya menjual keseksiannya, tapi sangat ditunggu-tunggu. Bagi saya fenomena seperti itu tidak akan bertahan lama. Tapi tidak semua DJ wanita seperti itu kok, ada DJ Yasmin, DJ Pixiee, DJ Kartika Ayu… Mereka memang seksi tapi mereka tidak menjual keseksiannya hanya untuk popularitas.

Oke, di sepanjang karier Anda sebagai DJ, pernah merasakan dicium oleh wanita yang tidak menggunakan bra ketika bermain di sebuah club?

Sampai saat ini belum, ha ha.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.