Gofar Hilman

Penyiar Hard Rock FM paling ‘sekut’ yang bicara tentang arti ‘sekut’ industri musik, hingga hobi mahalnya.

FHM (Indonesia) - - Access -

Dari sekian banyak stasiun radio, mengapa memilih menjadi penyiar Hard Rock FM? Kenapa saya memilih Hard Rock FM? Karena menurut saya Hard Rock FM adalah tempat belajar. Selain banyak tantangan, tuntutannya juga banyak, ha ha.

Anda salah satu penyiar yang tidak mengemban kuliah di jurusan broadcasting kan? Iya, saya dulunya itu tidak kuliah, dapat ilmunya dari teman-teman saja. Jika ingin jadi penyiar radio itu tidak seperti dulu yang harus berpendidikan di bidang itu. Di pekerjaan lain pun sama, yang penting itu adalah the power of connection. Percuma juga kalau ada koneksi, tapi tidak ada skill. Jadi koneksi itu harus dibarengi dengan skill yang mumpuni.

Menurut Anda, apa sekarang radio kehilangan esensinya? Bukan hilang, tapi esensinya semakin memudar. Hal yang paling saya takuti nantinya adalah radio hanya sebagai media pengantar lagu, walaupun ini sebenarnya sudah terjadi.

Kenapa Anda sebut media pengantar lagu? Bukannya playlist radio memang seragam ya? Sekarang semua radio mengklaim bahwa mereka paling hits dan paling banyak pendengar. Namun, kalau kalian perhatikan materinya sama saja, hanya perputaran lagunya yang berbeda.

Lalu selama menjadi penyiar radio, pernah punya beban moral karena membahas hal yang bersifat provokatif dan berhasil memancing emosi pendengar? Tidak juga. Sebenarnya saya sangat menghindari hal yang bersifat sensitif, contohnya isu agama atau politik. Bahasan yang seperti itu bisa menurunkan mood seseorang. Lebih baik saya menyiarkan berita soal musisi yang kecelakaan atau terkena musibah ketika semua orang membicarakan hal tersebut. Jadi, ada baiknya si penyiar lebih selektif dalam memilih berita yang sesuai agar terhindar dari hal yang bersifat provokatif.

Kami dengar Anda sering sekali bicara ‘sekut’, apa sih artinya? Kata ‘sekut’ itu sebenarnya hanya kata kiasan, ha ha. Kalau ditanya artinya ‘sekut’ kata itu sering digunakan oleh preman Jakarta di era 80-an, dan diambil dari bahasa Arab yang artinya diam. Semakin ke sini akhirnya saya populerkan, dan tentunya mempunyai arti yang berbeda; ‘sekut’ itu sama saja dengan ‘keren’ atau ‘selow.’ Jadi yah...suka-suka saja, ha ha.

Dengar-dengar dulu Anda punya cita-cita ingin menjadi rockstar… Kata siapa? Ha ha. Dulu memang sempat punya band punk, tapi di tahun 2007 akhirnya kami bubar karena semua personelnya sibuk dengan kerjaan kami masing-masing. Kalau ditanya mau ngeband lagi atau tidak? Mau banget! Tapi rasanya telanjur malas untuk cari personel baru lagi.

Bagaimana tanggapan Anda melihat industri musik Indonesia saat ini? Industri musik Indonesia secara mainstream mengalami kemajuan karena sekarang pendengar itu lebih suka mendengarkan musik yang tidak biasa. Misalnya, mendengarkan musik yang puitis atau menggunakan bahasa yang sulit untuk dicerna. Nah, musik seperti itu yang sedang tren sekarang ini.

Selain jadi penyiar, masih hobi mengoleksi mobil tua? Kalau untuk mobil sampai saat ini masih... malah berniat ingin tambah lagi, ha ha. Selain itu masih sibuk sama clothing-an, nge-vlog, dan restoran baru di daerah Kemang.

Hobinya mahal juga ya... Banget, ha ha. Ini sebenarnya cita-cita sejak dulu mau punya mobil tua ketika sudah bekerja akhirnya semua itu tercapai. Bangga saja akhirnya bisa membeli segala sesuatu yang saya suka.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.