Soleh Solihun

Tak pernah bepikir jauh tentang rencana masa depannya, ia hanya menikmati proses yang terjadi dalam kehidupannya. Ini penuturannya!

FHM (Indonesia) - - Contents - Teks Wahyu Kurniawan Fotografi achmad iqbal al-haj

Soleh Solihun bercerita tentang bagaimana menikmati proses yang terjadi dalam kehidupannya.

Setelah tujuh tahun (1997-2004) menjalani masa kuliah di Fakultas Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Bandung, Soleh Solihun masih belum mengetahui akan menjadi apa setelahnya. Walaupun passion untuk menjadi seorang jurnalis telah ia temukan, tapi Soleh muda masih belum kepikiran pekerjaan apa yang akan ia jalani setelah lulus dari kampus tersebut. Gayung bersambut, tak lama menunggu ternyata ia justru secara cepat mendapatkan tawaran untuk bekerja di salah satu majalah musik kala itu, MTV Trax. Momen itulah yang akhirnya membuka jalan Soleh untuk menggeluti pekerjaan sebagai jurnalis musik atau hiburan yang secara berturut membawa dia bekerja di majalah Playboy hingga Rolling Stone. Ada sebuah kebanggaan yang dibawa Soleh Solihun saat menjadi seorang jurnalis. Dua tulisannya di majalah Playboy yang berjudul “(ak.’sa.ra): skrg” dan “Menunggu Matinya Majalah Musik” mendapat juara satu dan dua dari Anugerah Adiwarta Sampoerna 2007. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, perencanaan yang jauh terhadap masa depan bukan menjadi pilihan dalam menjalani kehidupan bagi seorang Soleh Solihun. Bahkan, menggeluti profesi sebagai seorang komika (sebutan bagi pelaku stand up comedy) juga tidak direncanakan, dan terjadi dengan cara tidak sengaja. Berbekal keahliannya berbicara di depan banyak orang, terutama saat menjadi MC, Soleh akhirnya mulai memiliki ketertarikan pada dunia stand up comedy. Pada 2010, di sebuah acara off air radio, Soleh memulainya. Hingga berlanjut pada 2011 ia terlibat dalam suatu acara stand up comedy di salah satu televisi swasta. Namanya semakin moncer sebagai seorang komedian. Namun begitu, itu juga yang membawa dirinya mengakhiri profesi sebagai seorang jurnalis. Ada risiko yang ditanggung untuk sebuah pilihan. “Gue itu dari dulu nggak pernah ngerencanain jauh-jauh karena ada tawaran, terus orang percaya, dan karena ada bayarannya yaudah gue mau. Manajemen di kantor bilang itu nggak boleh, yaudah gue cabut,” ujarnya. Sejak saat itu, seorang Soleh Solihun semakin tak terbendung. Ia berhasil menaruh namanya dalam daftar komika papan atas, walaupun sebenarnya dia tidak pernah mempelajari secara teknis ilmu stand up comedy itu sendiri. “Gue nggak pernah mempelajari teknis dari stand up comedy. Ibarat musisi itu gue tipe yang cuma mengerti main musik tapi gue nggak ngerti gimana baca not balok. Yang penting tujuan akhirnya itu membuat orang ketawa,” ujar Soleh. Dunia komedi di Tanah Air sendiri menurut Soleh perkembangannya semakin baik. Khusus di stand up comedy, ia melihat grafiknya meningkat. “Yang dulu sempat diragukan nggak dapat bertahan lama, tapi kini justru stand up comedy makin diminati oleh banyak masyarakat,” kata Soleh yang mengidolakan Joe P-project dan Will Ferrel. Karier Soleh sebagai seorang penghibur di dunia stand up comedy justru membuka jalan bagi dirinya untuk menggeluti jenis pekerjaan lain, seperti film, penulis, dan beragam profesi lain yang ada di ranah hiburan Tanah Air. Sebuah kemujuran yang dinikmati Soleh hingga hari ini. Bahkan yang paling mengagumkan, potret dirinya tengah dijadikan film otobiografi oleh salah satu rumah produksi. Film yang berjudul Mau Jadi Apa ini menggambarkan citra diri seorang Soleh Solihun saat menjalani masa kuliah, relevan dengan apa yang telah ia sampaikan. Di film itu ia bertindak sepenuhnya, baik itu menjadi sutradara, pemain, penulis naskah, hingga pemilihan pemeran, walaupun juga ia dibantu dengan teman-teman yang memang mahir di bidangnya. “Judulnya “Mau Jadi Apa,” itu salah satu pertanyaan besar dalam hidup, dan yang mau gue sampaikan itu, ya .... loe kalau jalanin hidup itu nikmatin aja, jangan mikir jauh-jauh, kadang kita mikir jauh tapi kita lupa untuk nikmati hari ini,” tegas Soleh tentang filmnya. Nah, kalian tahu nggak sih siapa orang yang ada di belakang kesuksesan Soleh? Ya, orang tua dan istri menjadi yang paling terdepan dalam mendukung pilihan yang diambil Soleh hingga dirinya menjadi seperti sekarang ini. Namun begitu, ternyata ada keinginan atau harapan yang hinggi kini belum kesampaian dari perjalanan karier Soleh. Menjadi pembawa acara dari sebuah talk show di televisi menjadi salah satu keinginan terbesar saat ini. “Gue ingin punya acara talk show sendiri di televisi. Jadi bisa menggabungkan skill wawancara gue, dan skill melucu gue. Jadi sisi jurnalistik dan komedi gue bisa bercampur. Tapi orang belum ada yang percaya sama gue, kayaknya muka gue kurang ganteng deh .... hahahaha,” ujar Soleh. Oh iya, jangan sekali-sekali tawarkan Soleh untuk menjadi politikus, dia akan dengan sangat menolak ajakan itu. “Dari antara semua profesi yang jangan sampai gue tertarik itu politikus. Karena semua politikus itu nggak ada yang tulus,” tegasnya. Setuju?

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.