+

HAI - - FIKSI - WRITER FAIZ GADING ILLUSTRATION GIO

“Siapa kamu?” tanyaku pada seorang anak kecil yang penuh lumpur. “Apa yang kamu lakukan di halaman belakang rumahku? Padahal baru saja tadi aku bersihkan, tapi kau datang merusaknya.”

“Hai, aku Oshio. Mau tidak main sama aku? Kita main di sungai sana sambil menangkap ikan untuk dimakan. Pasti akan seru, apalagi disiang hari bolong begini, akan adem rasanya main air di sungai sana. Dijamin deh” jawab dia kegirangan.

Aku bingung ada anak seperti ini. Sangat nakal dan dia tidak minta maaf dulu karena sudah merusak halaman belakang rumahku. Dia pasti selalu bermain di luar karena terlihat dari warna kulitnya yang lumayan hitam dan juga rambut coklatnya yang acak-acakan. Tapi, kalau dipikir-pikir apa salahnya bermain dengan anak ini. Toh, aku akan mendapatkan teman baru.

“Oke deh,” sahut aku. “Tapi kau harus membantuku membersihkan kekacauan yang sudah kau buat.”

“Oh, soal itu maafkan aku ya. Aku memang suka bermain dan sangat ingin tahu akan rumah kamu. Rumah kamu sangat keren di desa ini, mungkin yang paling keren. Kamu baru ya disini?” ujar Oshio.

“Aku memang baru di sini,” jawab aku.” Ibuku senang dengan ketenangan, makanya ibuku membangun rumah di desa ini. Tapi, memang indah ya di sini. Kemanapun kamu pergi, pasti pemandangannya bagus juga udaranya sejuk. Kalau di kota, pasti dimana-mana panas, udaranya sudah gak enak untuk dinikmati lagi, dan bising pula. O ya, namaku Fariz”

Lalu, kami berjalan ke sungai setelah membersihkan halaman belakang rumahku. Dalam perjalanan, kiri-kanan kami ada banyak sawah dan pohon besar yang masing-masing di bawah pohon itu ada pondok kecil dimana tempat petani untuk beristirahat. “Wah, sungainya sudah terlihat,” ujarku. “Memang tidak salah ibuku memilih desa ini sebagai tempat tinggal yang kedua.”

Dari kejauhan terdengar suara air mengalir, dan jugaa...dan juga ada suara gonggongan anjing yang semakin mendekat. Saat aku menoleh ke belakang, ternyata ada anjing besar berwarna coklat yang membawa bola di dalam mulutnya. “Oh, dia itu anjing kesayanganku. Namanya Doggie,” Doggie adalah anjing yang ditemukan Oshio saat masih berumur 1 tahun dan karena kasihan, Oshio merawatnya. Beruntung bagi Oshio, karena sekarang Doggie menjadi sahabatnya. “Karena selama ini aku cukup sulit untuk mencari teman yang enak untuk diajak berbicara. Kalau kata teman-temanku, aku ini weird,” lanjut Oshio.

“Ah, tidak juga,” bantah aku. “Kamu terlihat asik dan gampang mencari teman. Apa karena kita sehati, jadi kita bisa langsung dekat seperti ini ya?”

“Aku ini dari Jepang, dan mungkin karena tampangku yang aneh di mata mereka, membuat mereka menjauhiku. Tidak adil,” jawab Oshio dengan tampang murung.

“Baiklah, aku berjanji akan menjadi sahabatmu dan juga sahabat bagi anjingmu ini. Sepertinya dia lucu,” jawabku dengan muka serius. Oshio menganggukan kepalanya, tanda setuju. Begitu juga dengan Doggie yang sedari tadi mengibaskan ekornya.

Kami sampai di sungai yang jernih, dimana di sebelah sungai ini ada hutan yang sepertinya asik untuk dijelajahi bersama Oshio dan Doggie. “Hei, Oshio, bagaimana kalau besok kita masuk ke hutan ini?” sahutku penuh antusias.

“Baiklah, aku juga punya tempat rahasia. Tempat untuk bersantai dan menenangkan pikiranku saat aku sedang sedih. Kamu janji ya besok datang?” ujar Oshio. “Pastikan kamu bawa makanan, karena besok pasti adalah pengalaman terbaik kita, iya kan?”

“Iya, aku pasti akan datang,” jawabku dengan sangat semangat. Lalu, kami bermain di sungai. Oshio sedang membersihkan badannya, sedangkan aku bermain catch ball bersama Doggie. Tidak terasa jam tanganku sudah menunjukkan pukul 5 sore. Maka kita sudahi dulu bermain hari ini.

Sesampainya di rumah, badanku sangat terasa tidak enak. Saat ibuku memeriksa suhu tubuhku menggunakan termometer, ternyata aku terkena demam. Ibuku yang sangat sayang kepadaku, dan memang aku adalah anak satusatunya, dia langsung panik dan mengggunakan mobilnya untuk mengantarkanku pergi ke rumah sakit yang ada di kota. Selama sebulan penuh aku dirawat di rumah sakit, karena aku terkena tipes. Tubuhku ini lemah dan sering terkena penyakit bila aku terlalu banyak bermain. Padahal aku selalu punya keinginan untuk bermain bebas di luar sana, berinteraksi dengan alam, tanpa terganggu oleh penyakit yang aku hadapi ini.

Setelah sebulan dan keluar dari rumah sakit, aku langsung meminta ibu untuk mengantarkanku ke desa. Aku ingin meminta maaf kepada Oshio karena sudah melanggar janji yang telah kami buat. “Oshio, AWAS! Oshio... Kenapa ka,” aku sedang mengigau dalam perjalanan menuju ke desa. Ternyata itu hanyalah mimpi.

Wah, indahnya pemandangan ini. Terasa sangat spesial karena selama sebulan tidak melihat hal seperti ini, hanya menonton televisi di kamar bercat putih dengan meja kecil yang selalu ada makanan di atasnya.

Aku semakin tidak sabar untuk berjumpa dengan Oshio dan Doggie. Setelah sampai di desa, aku turun dari mobil dan...dan aku melihat sosok anak laki-laki yang penuh lumpur. Apa mungkin itu Oshio. Tanpa berpikir panjang, aku lansung mengejar sosok yang masih asing itu. Sampailah aku di tempat aku akan bertemu Oshio sebelum memulai perjalanan ke tempat rahasia kepunyaannya. Aku melihat ke sekelilingku untuk mencari sosok yang tadi aku lihat. Tapi, aku tidak dapat menemukannya. Aku melihat ke arah hutan dan berpikir kemungkinan Oshio dan Doggie sedang mengumpat di sana. Aku berjalan ke arah hutan yang sebulan lalu aku pikir akan menyenangkan untuk menjelajahi hutan ini, tapi sekarang terlihat sangat menyeramkan. Tidak lama kemudian, aku merinding dan aku sudah ada di dalam hutan. “WAA,” Oshio mengagetkanku. “Apa yang kamu tunggu, sudah sebulan aku menunggu hal ini akan terjadi, ayo, kita langsung ke tempat rahasiaku.

Jantungku berdegup kencang. “Kenapa Oshio? Kenapa kamu ngagetin aku di tempat seperti ini?” tanyaku kepada Oshio.

“Hehehe, namanya juga kangen” ujar Oshio dengan nada bercanda. Kami melanjutkan perjalanan ke tempat rahasia kepunyaan Oshio. Doggie sedari tadi tidak bisa tenang, dia terus menggonggong dengan keras. Aku baru ingat kalau aku membawa bola tenis, hadiah dari salah

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.