+

HAI - - GENERASI HIP HOP DIGITAL - IWA K – KU INGIN KEMBALI (1993) MUSICA STUDIO’S PESTA RAP 1 (1995) MUSICA STUDIO’S

Young Lex dan kawan-kawan karena karya mereka disebut membawa pengaruh buruk bagi anak-anak di bawah umur lewat liriknya yang banyak kata-kata kasar. Uniknya, salah satu stand up comedian sekaligus rapper, Pandji Pragiwaksono, justru mengaku salut dengan Young Lex dan kawan-kawannya.

“What they’re doing, is true hip hop. Malah rapper-rapper Indonesia lain antara harus malu karena tidak bisa bikin karya sehebat orangorang tadi atau berterima kasih karena masih ada mereka yang mengibarkan bendera hip hop tinggi dengan lagu rap mereka tadi,” bela Pandji dalam blog pribadinya, Pandji.com.

Bahkan, lebih lanjut, rapper yang cukup dikenal lewat lagu Kami Tidak Takut itu juga nggak sungkan untuk membandingan GGS dengan NWA, sebuah grup rap legendaris dari Compton yang kini dianggap legenda dan karyanya “F**k The Police” dipuja serta dianggap berpengaruh kepada tatanan sosial budaya Amerika.

Kata Pandji, seperti ditulis di dalam blog-nya tersebut, lagu itu menuai badai pro dan kontra di kalangan masyarakat Amrik. Pada tahun 1988, ketika lagu itu keluar, protes berhamburan karena masyarakat tahu penggemar Ice Cube cs ini sebagian besar masih remaja. Tapi apa jawaban Ice Cube kemudian?

“Our art is a reflection of our society!” tegasnya.

“Jangan salahkan kesenian kami, orang berkesenian ya harus jujur dengan dirinya, dan kejujuran ini datang dari lingkungan ini. Mudah sekali menunjuk satu orang salah, padahal kalau mau benerin, ya benahi lingkungan sosialnya. Tapi nggak ada yang mau melakukan itu. Susah. Lebih mudah menyalahkan pelaku seninya daripada dunia yang mengilhami karya seni itu sendiri,” tutur Pandji.

Sedangkan, Ferri dari Sweet Martabak mencoba untuk lebih santai menanggapi kontroversi dalam isu ini. Menurut rapper yang juga founder dari Hip hopIndo.net itu tanggung jawab dan kontrol terhadap karya yang dirilis tetap jadi aspek yang harus diperhatikan.

“Kontrol terhadap konten yang disajikan juga butuh perhatian lebih. Karena di era digital yang siapa aja bisa akses, nggak terkecuali anakanak, rasanya konten yang baik itu perlu banget. At least, kalo emang cinta Indonesia, tentunya kepingin, kan, membuat generasi mudanya jadi lebih baik?” bilang Ferri santai.

Yap, dari era 90-an sampai sekarang, kalau ngomongin soal hip hop emang seperti nggak ada ujungnya. Mulai dari zamannya nge- diss (nyela rapper lain, RED) lewat lagu yang diputar di radio, sampai di era sekarang dengan gaya nge- diss lewat YouTube, bumbu kontroversi dan perang urat syaraf nggak akan pernah bisa berhenti.

Setelah para rapper generasi digital ini udah layak disebut public figure karena konten YouTube mereka yang banyak “dimakan” oleh generasi sekarang, eksistensi mereka sebagai seorang rapper mulai dipertanayakan. Ada yang bilang kalo kesuksesan mereka hanya bermodalkan gimmick dan dibantu software rekaman semata dan nggak punya kualitas mumpuni sebagai seorang rapper.

Sebagian lagi ada beberapa rapper dari daerah di luar Pulau Jawa yang mulai menyerang para rapper yang hanya dengan skill pas-pasan namun beruntung memulai karir di kota besar dan bisa mendapat spotlight lebih luas. Intinya, entah itu hate spech atau hanya sekedar kritik, mereka yang sekarang tengah mendapat popularitas dituntut untuk memberikan pembuktian.

“Jangan terjebak sama popularitas yang didapat sekarang ini, who knows besok atau kapan namanya akan jatuh dan nggak lagi jadi primadona. Intinya, nikmati aja, karena itu jerih payah yang udah diraih lewat usaha yang udah dilakukan. Jangan jadi besar kepala, merasa ‘Gue udah terkenal dan nggak ada lawan’, itu

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.