Sinergi Alam, Seni & Waktu

Denyut alam adalah waktu yang terus mengalir di dimensi kehidupan. Hal ini terwujud dalam karya seni impresif hasil kolaborasi dengan penunjuk waktu, Audemars Piguet. Oleh Gusti Aditya

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Highlights -

Penyelenggaraan panggung seni, Art Basel, kembali hadir di Hong Kong pada akhir bulan Maret silam. Telah menancapkan eksistensinya sejak tahun 1970 melalui tangan galeri-galeri seni di kota Basel, akhirnya ia pun memperoleh tempat bergengsi di deretan pameran seni modern dan kontemporer dunia. Kini, keberadaannya dihelat di dua kota dunia selain Basel, yakni Miami dan Hong Kong. Tahun ini, Bazaar memperoleh kesempatan untuk memanjakan mata dan jiwa berkat rangkaian karya seni brilian dari banyak negara. Melalui perjalanan ke kota yang terletak di tenggara Tiongkok ini, terungkap sebuah simbiosis antara Art Basel dan label jam tangan prestisius, Audemars Piguet. Manifestasinya berupa dukungan terhadap Art Basel di Hong Kong, Basel, dan Miami, dengan

menjadi associate partner resmi sejak tahun 2013 hingga sekarang. Kerja sama ini merupakan wujud komitmen Audemars Piguet untuk memajukan kreativitas dan inovasi. Aksi ini pun terekam di sebuah lounge inovatif dan konseptual di area Collectors Lounge. sejak kerja sama perdananya pada tahun 2013, Audemars Piguet rutin mengetengahkan kreator seni untuk menghasilkan karya yang mampu menerjemahkan warisan dan asal muasal jam tangan buatan swiss ini. sebut saja kolaborasinya dengan desainer Prancis, sébastien Agneessens, dalam rangka mewujudkan lounge di tahun 2013 yang memfitur gambar karya fotografer inggris, dan Holdsworth. Kemudian di tahun berikutnya, Audemars Piguet berkolaborasi dengan desainer Prancis, Mathieu Lehanneur, untuk lounge bertajuk Mineral Lab, dan karya Measure yang merupakan film panorama yang dihasilkan videografer Austria, Kurt Hentschläger. Lalu di tahun 2015, seniman asal Jenewa, Alexandre Joly, menampilkan instalasi suara Wild Constellations di lounge yang menawarkan dekorasi ecowall. Bentuk kolaborasi lainnya disajikan melalui desain ciptaan sebastian errazuriz di tahun lalu. seniman kelahiran santiago ini mengambil inspirasi dari formasi es dan musim dingin bersalju yang menawan di Vallée de Joux, sehingga menghasilkan siklus es di lounge sebagai metafora atas waktu. Pada tahun 2016 itu, juga terdapat karya fotografi oleh dan Holdsworth bertajuk Continous Topography. untuk tahun ini, Audemars Piguet kembali menggandeng sebastian errazuriz, dan menampilkan seorang seniman muda asal China, Cheng ran. untuk tahun kedua kolaborasinya dengan Audemars Piguet, sebastian mempresentasikan sebuah pahatan berwujud pohon dengan tajuk Second Nature. Lounge kali ini dipersembahkan untuk pegunungan Jura dalam rangka mengingatkan para pengunjung tentang sejarah panjang dan perkembangan tanpa akhir Audemars Piguet. Alam pun direpresentasikan secara lebih hangat melalui unsur dominasi kayu, khususnya kreasi berwujud pohon yang menggambarkan tumbuh kembang. Material karya pahatannya ini diambil dari kayu di ‘rumah’ Audemars Piguet, Vallée de Joux. di balik kisah perkembangan sebuah pohon, terdapat filosofi yang sebuah dalam. seperti akar yang setia berpijak, Audemars Piguet juga berpegang teguh pada

Karya ini merupakan perwakilan yang tepat atas masa lalu, masa kini, dan masa depan Audemars Piguet.

komitmennya terhadap nilai-nilai tradisi. Bersamaan dengan itu, ia juga menyampaikan ekstensinya pada ranting dan daun sebagai upaya bergerak menuju masa depan. Karya ini merupakan perwakilan yang tepat atas masa lalu, masa kini, dan masa depan Audemars Piguet. ia juga ingin mendorong kita untuk senantiasa menghargai dunia sekitar seperti relasi sebuah pohon dan alam semesta. Filosofi tentang label yang lahir sejak tahun 1875 ini juga hadir melalui proses pengolahan karya pahatan ini, sebab proses tradisional dan metode modern turut andil. dari sketsa tradisional gambar tangan hingga mesin fabrikasi digital seperti pemotongan dengan komputerasi dan cetak 3d, dan dari pekerjaan robot hingga hasil akhir dengan menggunakan tangan, benar-benar menggambarkan bagaimana produksi jam tangan berlangsung. yakni dimulai dari

Collectors Lounge Audemars Piguet menampilkan karya pahatan berbentuk pohon dan instalasi video yang keduanya terikat erat pada sejarah label jam tangan ini

Proses pembuatan pahatan bertajuk Second Nature kreasi sebastian errazuriz

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.