A Stylish Time To Remember

Ini adalah kisah kreatif Sofia Coppola dalam mewujudkan energi klasik jam tangan Panthère de Cartier di pergelangan tangan wanita modern. Oleh Verra Kusumamenggala

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Highlights -

Predikat Oscar-winning writer dan Oscar-nominated producer and director telah melekat di belakang nama Sofia Coppola. Wanita yang mempelajari tentang film dan seni di California Institute of the Arts ini telah menulis maupun menyutradarai banyak film hits. Sebut saja di antaranya The Virgin Suicides, yang diadaptasi dari novel berjudul sama dari pemenang Pulitzer Prize, Jeffrey Eugenides; Lost in Translation, yang membawanya ke ajang Academy Award untuk kategori Best Original Screenplay, serta nominasi Best Director dan Best Picture; dan Marie Antoinette, sebuah film yang sebagian besar ceritanya didasari oleh biografi Antonia fraser. Eksistensi wajah Sofia di ajang film bergengsi mulai dari Cannes International film festival, toronto, Venice, dan telluride film festival, hingga BAFTA dan Academy Awards pun sungguh tak asing lagi. Kompleksitas filmnya yang begitu kaya akan detail telah berhasil mengantarkan pemain

“Saya membayangkan figur wanita Eropa yang memiliki hobi TRAVELING, maka begitu pula film ini dibuat,”

maupun kru filmnya memperoleh penghargaan yang semakin melambungkan nama mereka di ranah perfilman. Prestasi gemilang ini pula yang akhirnya membuat brand perhiasan serta jam tangan premium asal Prancis, Cartier, memberikan kepercayaan penuh kepada Sofia Coppola untuk menyutradarai film singkat mengenai koleksi ikonis jam tangan Panthère de Cartier yang akan kembali diperkenalkan. “Saya selalu mencintai Cartier, sejarah dan desainnya begitu unik. Ketika Panthère pertama kali diluncurkan pada tahun 1983, ada begitu banyak film yang sangat bagus, dan saya mengagumi para pemainnya saat itu,” ujar Sofia. Ia langsung memikirkan tentang sosok wanita Panthère, dan bagaimana lingkungannya. Hingga akhirnya Sofia memilih tema chic dan glamour, seperti siluet Panthère yang pantas digunakan dalam berbagai kesempatan karena menegaskan obsesi klasik dan modern sekaligus. Saat melingkar pada pergelangan tangan, kesan elegan, sophisticated, namun tetap sensual dan menyenangkan seakan merasuk pada persona penggunanya. “Saya membayangkan figur wanita Eropa yang memiliki hobi traveling, maka begitu pula film ini dibuat,” tambah Sofia. Sofia merangkul aktris muda kelahiran Australia, Courtney Eaton. “Saya ingat bertemu dengannya di salah satu casting film. Ia memiliki pesona yang sangat alami,” ujar Sofia. Courtney dianggapnya sebagai Hollywood’s next it girl yang telah membuktikan kemampuannya di film pemenang penghargaan Mad Max: Fury Road. Courtney juga cocok menggambarkan sosok wanita Panthère. Energi mudanya menyatu natural dengan latar pengambilan gambar di beberapa lokasi Los Angeles seperti union Station dan klub malam Giorgio’s. Ada pula setting latar belakang di salah satu hotel di Hollywood dan fox residence yang tak kalah glamor. Hasilnya adalah sebuah karya dengan energi femininitas. Sofia Coppola berhasil menegaskan benang merah antara kecantikan perempuan di tahun ’80-an dengan sosok wanita modern yang kompleks dengan latar panorama modern di tengah perkotaan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.