SIMFONI SENI RUPA

Merayakan kemajuan industri seni rupa Indonesia dan dunia bersama Art Jakarta 2017. Oleh Verra Kusumemanggala

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Art Review -

Kecintaan terhadap seni memang tak bisa dikatakan sederhana. Layaknya akar pohon ek yang menancap kuat di dalam tanah, seni akan membuat sang pencintanya semakin jatuh hati seiring waktu. Dimulai dengan mengenal satu disiplin gaya, kemudian merambah ke rupa teknik lainnya yang membuat mata dan hati semakin terkesima. Satu dekade lalu, sulit rasanya untuk pencinta seni mengembangkan koleksinya. Karena di samping luasnya perbedaan jarak, dunia teknologi kala itu juga masih sangat terbatas. Sehingga untuk mengetahui seniman atau galeri mana yang sedang menghelat ekshibisi karya membutuhkan usaha cukup besar, apalagi untuk para kolektor muda yang baru ingin mengenal ranah ini. Karenanya pula, hobi seni dianggap sebagai minat yang prestisius. Untuk itulah sembilan tahun lalu, Bazaar Art Jakarta (BAJ) digelar untuk pertama kalinya di grand ballroom The Ritzcarlton Jakarta, Pacific Place, sebagai inkubator karya yang mampu menghubungkan penggemar seni Tanah Air dengan karya-karya internasional. Sekaligus membuka mata masyarakat akan perspektif baru bahwa semua kalangan dapat mengapresiasi karya seni. Hasilnya, helatan ini diterima dengan sangat baik oleh penduduk Jakarta. Puluhan ribu manusia tak ragu mengunjungi pameran yang diadakan selama empat hari secara gratis untuk mengobati rasa penasaran akan karya internasional yang selama ini tak terbayang rupanya. Hingga sampailah di tahun 2017, saat BAJ sudah meraih pengakuan dari Asia Tenggara dan dunia sebagai helatan seni pertama Tanah Air yang paling terkemuka. Kini Bazaar Art Jakarta mengganti nama menjadi Art Jakarta untuk menegaskan bahwa ekshibisi ini adalah milik rakyat Jakarta, dan mampu mewakili nama baik Indonesia di mata internasional. Masih digelar di lokasi sama, art fair yang diselenggarakan di ruang seluas 7.500 meter persegi dari tanggal 27 hingga 30 Juli 2017 lalu ini berhasil menarik sebanyak 47.645 pasang mata dalam waktu empat hari. Pengunjungnya datang dari berbagai kalangan, termasuk kolektor, perupa, kurator, dan penikmat seni. Dengan dukungan para sponsor yakni AQUA Reflections, Samsung Galaxy Tab S3, Samsung the Frame, L'occitane, Bhakti Budaya Djarum Foundation, dan pemerintah melalui BEKRAF, pameran Art Jakarta 2017 berhasil menghadirkan lebih dari 1.500 karya seni dari 53 galeri. Tepatnya 20 galeri dari Indonesia dan 33 galeri asal Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Korea Selatan, Jepang, China, Prancis, Australia, yunani, dan Spanyol, yang membawa nama sekitar 630 seniman lokal dan internasional. Dimulai dari bagian atrium mall Pacific Place yang menampilkan instalasi karya pasangan seniman Indieguerillas berjudul Me and My Monkey Mind yang berbentuk lima buah silinder setinggi enam lantai dengan gambar figur manusia di sekitarnya. Instalasi ini menjelaskan tentang kegelisahan mereka yang melompat-lompat dalam pikiran, kemudian cara mengatasinya adalah dengan membayangkan warna kesukaan yang ada di bagian dalam silinder. Dilanjutkan ke lantai empat

di mana ekshibisi berlangsung, para tamu langsung disambut puluhan karya seniman Indonesia yang diaplikasikan pada Samsung Galaxy Tab S3, sepatu. piring, dan skateboard untuk acara lelang dana yang disumbangkan ke yayasan Mitra Museum Jakarta dan Jakarta Contemporary Ceramics Biennale. Beberapa nama seniman yang terlihat berkontribusi adalah Muhammad Taufiq (emte), Naufal Abshar, Indra Dodi, Aditya Novali, Jabbar Muhammad, dan Ronald Apriyan. Sedangkan Kemalezedine, Hendra "Hehe" Harsono, dan Radi Arwinda mengaplikasikan karyanya pada kulkas berbentuk retro dari Modena yang dipamerkan di bagian dalam pameran. Sebelum masuk ke dalam ballroom, para pengunjung dapat melihat beberapa booth merchandise artsy yang sangat menarik. Ditambah lagi kehadiran Art Bar yang menyajikan official merchandise Art Jakarta 2017 karya seniman Ugo Untoro, Radi Arwinda, Indra Dodi, dan Hendra "Hehe" Harsono yang berbentuk scarf, clutch, notebook, dan tas. Sedangkan desainer aksesori Shilvia Buntar yang telah dikenal dengan merek Shill melakukan kolaborasi bersama seniman asal Jepang, Gaku Igarashi. Gaku melakukan live painting, sedangkan Shill menghasilkan aksesori menggemaskan yang menggabungkan kreativitas keduanya dalam bentuk kalung, headpiece, pin, dan T-shirt. Di area main stage, setiap harinya selalu ada agenda creative talk bertema seni dan penampilan eksentrik yang memiliki daya tarik tersendiri, yaitu pertunjukan Wayang Potehi dari Rumah Cinta Wayang dengan latar kisah Hwan Le Hwa dan Sun Go Kong, serta lakon Kukusan Peken oleh Komunitas Kitapoleng yang menantang panca indra penonton dengan pengalaman audiovisual yang atraktif. Sedangkan seniman Isur Suroso dan Douglas Diaz melakukan pertunjukan live painting dengan mengusung konsep unik. Rasanya memang satu hari tak akan cukup untuk mengelilingi ekshibisi Art Jakarta 2017, karena begitu banyak karya menakjubkan dari seniman-seniman terkenal yang patut untuk dikagumi. Seperti karya Franziska Fennert yang dipresentasikan Semarang Contemporary Art Gallery berjudul Heaven between is Mindset dan karya China China Raden Saleh yang dibawa Sotheby's. Ada juga video seni yang diproyeksikan pada televisi Samsung The Frame dari Kawita Vatanajyankur, Henner Schmid, Angela Tiatia, dan Jenna Pippett. Selain itu, karya zhu Wei yang berjudul China China berupa patung dari bahan perunggu juga menarik banyak pengunjung untuk berfoto bersama. Di sisi lain, Nine Gallery membawa karya Shin Hyung Loc berupa lukisan akrilik berbentuk ikan yang terlihat sedang berenang di dalam air, dan Pearllam Galleries dengan karya zhu Jinshi berjudul Such A Master yang berhasil membuat para pengunjung penasaran. Tentunya, ekshibisi ini tak akan dianggap berhasil jika tidak menghasilkan penjualan yang baik. Banyak galeri mengatakan berhasil menjual sebagian besar karya seni yang dipamerkan. Seperti kata edwin Rahardjo, pemilik edwin's Gallery, “Di tengah kondisi ekonomi yang kurang baik, pameran ini membuat catatan bagus. Cukup mengejutkan melihat minat masyarakat sangat tinggi akan seni." Senada dengan edwin, Andonowati dari Lawangwangi juga menyatakan kepuasannya, “Art Jakarta merupakan art fair yang luar biasa. Kami tidak hanya melihat kolektor dengan tujuan investasi, tapi juga penikmat seni baru yang mengapresiasi karya untuk dijadikan koleksi pribadi." Pernyataan ini sekaligus menegaskan jika perhelatan Art Jakarta 2017 adalah momentum berharga yang mendeskripsikan apresiasi rakyat Indonesia kini akan fenomena seni dunia. n

Such A Master karya zhu Jinsi

Beberapa official merchandise Art Jakarta 2017

Hasil live painting Gaku Igarashi

SEARAH JARUM JAM (DARI ATAS): Skateboard karya Ronald Apriyan; Salah satu karya dalam booth Gnani Art; Beberapa karya dalam booth BEKRAF; Kulkas Modena karya Radi Arwinda; The nation in karya Aditya Novali; karya zhu Wei; Pembuatan boneka Wayang Potehi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.