ZONA BAHAGIA SALLY KOESWANTO

Harper's Bazaar (Indonesia) - - Highlights - Fotografi oleh Hanafi

Penantian dan kesabaran sang desainer berbuah kebahagiaan menikmati rumah impian.

Penantian dan kesabaran sang desainer berbuah kebahagiaan menikmati rumah impian. Oleh Muthi Kautsar

Desainer yang kini berkonsentrasi ke haute couture, Sally Koeswanto, pada suatu siang menemui Bazaar di kediaman barunya. Rumah empat lantai itu berdiri di atas tanah seluas 650 m di kawasan Kebayoran Baru. Pintu masuk berada di lantai dua, dengan akses melalui tangga batu keabuan. Sebuah kolam hias berisi ikan koi terletak dekat puncak tangga, bersebelahan dengan sofa nyaman untuk duduk menghirup udara segar. Kepribadian Sally yang mudah berteman dengan siapa saja, tercermin pada ruang keluarga yang terletak di balik pintu masuk. Ia menyediakan sofa sectional besar tempat tamu-tamunya bisa duduk dengan santai. Beberapa koleksi buku Alexander Mcqueen diletakkannya di coffee table. Ia mengaku kagum pada desainer yang telah berpulang ini karena kekuatan konsep-konsep karyanya. Beberapa karya seni seperti lukisan Popo Iskandar dan patung buatan Redi Rahardian juga turut menghiasi ruangan tersebut. Ruang keluarga ini hanya dipisahkan oleh dinding kaca dari halaman samping tempat kolam renang berada. Kolam renang itu sempat ingin dijadikan taman saja oleh Sally, karena proses penyempurnaannya yang memakan waktu. Tapi suami Sally yang menginginkan kolam tersebut, terus bersabar dengan renovasinya. Jadi, dengan dinding terluar yang dibuat dari kaca, kini kolam renang itu menjadi elemen yang menjadikan fasad rumah semakin distingtif. Kolam renang itu pun menjadi pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat sambil duduk-duduk di kursi chaise lounge atau sofa luar ruang berlatar vertical garden. Sedangkan penempatan kolam tepat di bawah master bedroom yang seolah-olah melayang, mencerminkan pemanfaatan ruang yang cerdas. Halaman samping yang berbatasan dengan kolam renang diapit oleh gym pribadi, ruang tidur tamu yang dilengkapi en-suite shower, dan ruang makan serta pantry. Halaman semi terbuka ini pun dilengkapi sound-system yang baik, untuk menunjang kesenangan Sally duduk-duduk santai di sana sambil mendengarkan musik. Saat menerima tamu, Sally senang menjamu mereka di ruang makan, sementara ia akan menyiapkan kopi, teh, atau minuman

lainnya. Resep kopi krim andalannya adalah kopi hitam Nespresso dengan bubuk krim non-dairy satu sendok teh penuh. Hari itu satu set menu afternoon tea ikut tersaji, terdiri dari sandwich, bitterballen, shrimp roll bread, dan cake Lapis Surabaya berhiaskan edible flowers. Hampir semua sajian itu diolah di dapur Sally sendiri, sedangkan cake dibuat oleh adiknya. Menurutnya, cake berhiaskan bunga-bunga itu cocok dengan konsep rumahnya yang tropical modern. Tapi tak jarang pula Sally menghidangkan singkong goreng favoritnya untuk para tamu. Ia biasa membeli singkong yang sudah dibumbui di pasar swalayan, lalu menggorengnya di rumah setelah direbus terlebih dahulu. Siang itu sambil berbagi sepiring singkong goreng dengan Bazaar, Sally menceritakan bahwa putra sulungnya adalah penyuka Western food, tapi tak pernah sanggup menolak singkong goreng. Sajian afternoon tea di rumah Sally tak kalah dengan yang terdapat di hotel bintang lima, karena ibu dua anak ini menyukai suasana seperti di hotel. Bukan hanya pada tata saji di meja makan, tetapi juga di semua area rumahnya yang harus selalu rapi. Apalagi, Sally memiliki latar belakang pendidikan di bidang perhotelan. Dari seprai tempat tidur sampai tempat pakaian yang akan dicuci harus tertata rapi. Ia memiliki lemari khusus untuk persediaan toiletries dan bajubaju yang sudah dipakainya, berisi beberapa kompartemen. Ada tempat baju yang akan dipakai lagi, baju yang harus dikirim ke penatu, dan baju yang harus dicuci biasa. Cara Sally mengorganisir pakaian dan menata kamar mandi serta walk-in closet-nya mencerminkan betapa ia tak terpisahkan dengan fashion. Sempat menyatakan pensiun sebagai desainer pada 2013, Sally akhirnya kembali pada 2015. “It was a really good break,” kata Sally tentang masa istirahat sementaranya. Ia mengaku benar-benar menikmati momen itu. Berkecimpung di dalam dunia fashion ibarat berada di dalam kotak, dan berada di luar kotak itu selama dua tahun membuat Sally merasa bisa melihat dari jarak jauh, sehingga wawasannya lebih luas. Ia memanfaatkan waktu untuk bergaul dengan orang-orang di luar dunia fashion, dan melihat mereka memecahkan berbagai masalah dengan cara yang berbeda dibanding yang biasa dilihatnya. Sempat banyak pula yang menyangka bahwa Sally meninggalkan dunia fashion untuk berkiprah di ranah kuliner, terlebih dengan kerja samanya waktu itu membuka restoran dengan seorang pengusaha asal Italia. Rupanya saat itu Sally hanya memanfaatkan tawaran sang suami yang ingin mendukung kesenangannya memasak. Restoran panzerotto (semacam roti goreng dengan isian ala Italia) milik Sally dan mitranya tak bertahan lama. Sally kembali ke dunia fashion tapi tetap menyimpan impian kuliner. Ia mendambakan suatu hari memiliki House of Fashion yang menyatu dengan sebuah kafe. Desain House of Fashion yang ideal, menurutnya seperti yang pernah dimilikinya di Jalan Erlangga, Kebayoran Baru. Fitting room dilengkapi cermin besar, dekorasi motif baroque, chandelier, dan lampu sorot halogen. Kombinasi itu akan membuat busana karyanya terlihat mewah dan gemerlap seperti yang sudah seharusnya. Sally tak tahu persis kapan ia bisa mencapai impiannya, tapi ia sudah sangat mensyukuri apa yang dimilikinya sekarang. Terutama di malam hari ketika ia turun untuk minum di pantry-nya. Atau ketika ia dan keluarga serta teman-temannya menikmati kebersamaan di halaman samping. Mereka biasa mengadakan barbeque party, mengobrol dan mendengarkan musik. Sally dan anak perempuannya yang masih duduk di bangku SMA, memiliki selera musik Brit Pop yang sama. Bagian dari rumah dan keluarga itu yang tak kalah penting adalah seekor English pitbull berusia delapan tahun, akrab disapa Shaq. Ia sudah terbiasa difoto di berbagai sudut rumah dengan aneka properti, dan memiliki akun Instagram sendiri dengan ribuan pengikut. “Konsep pemotretan Shaq selalu kami pikirkan matangmatang,” Sally mengaku. Kebahagiaan Sally dan keluarga dengan rumah barunya tak lepas dari peran Alex Bayusaputro, arsitek yang merancang rumahnya. Sally sudah cukup lama mengenal Alex, yang dulu membantu mendandani serta memilihkan furnitur untuk rumah lama serta workshop miliknya di Cilandak. Alex juga membantu desain butik yang pernah dibuka Sally di Grand Indonesia. Saat itu Alex hanya membantu sebagai teman, dan ia serta Sally sepakat bahwa jasanya

sebagai arsitek profesional baru akan diberikan kalau Sally mau membangun rumah impian. Jadi saat Sally mendapatkan tanah tempat rumahnya berdiri sekarang, ia segera menghubungi Alex tanpa pertimbangan lagi. Sally meminta Alex merancang sebuah rumah yang tampak besar dan lapang dengan memaksimalkan lahan yang ada. “Saya ingin rumah yang walaupun kecil tapi atraktif dan seksi. Pokoknya harus membuat orang yang lewat menoleh,” Sally menirukan permintaannya pada Alex. Proyek rumah Sally selesai lebih dari setahun yang lalu dan ia beserta keluarga segera menempatinya. Meskipun puas dengan rancangan Alex, Sally masih harus melakukan renovasi demi renovasi yang menuntut kesabaran. Mereka yang hanya melihat sekilas, bisa ringan saja mengomentari Sally perfeksionis. Tapi bagi Sally, semuanya harus dijalani untuk kenyamanan menghuni rumahnya. Kini ia sudah memetik buah kesabarannya, dan menikmati setiap jengkal rumahnya bersama keluarga.

Sally di koridor lantai tiga yang terasa hangat dengan fotofoto keluarga.

Sudut favorit Sally untuk rileks sambil mendengarkan musik atau menghabiskan waktu dengan keluarga dan teman-temannya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.